INDRAMAYU — PERTANYAAN
Belakangan ini media sosial dihebohkan dengan kasus guru SMA di Boyolali diduga injak siswa. Alhasil, warga geruduk sekolah karena tidak terima dengan perlakuan guru injak siswa tersebut. Menurut kronologi yang tersebar di berita, dalam proses pembelajaran di kelas, ada tiga siswa yang tidur di belakang. Guru lalu berusaha membangunkan dan menginjak punggung siswa. Salah satu siswa mengaku sakit hingga tidak masuk sekolah setelah peristiwa tersebut terjadi. Lantas, langkah hukum apa yang bisa dilakukan jika guru injak siswa? Bagaimana hukumnya jika guru melakukan kekerasan terhadap siswa?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers dan paralegalnya semoga semakin kangen pada saya?
Girl Rosiska – Limbangan
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
𝔄𝔫𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔰𝔞𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔨𝔢𝔨𝔢𝔯𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨, 𝔱𝔢𝔫𝔞𝔤𝔞 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫, 𝔰𝔢𝔰𝔞𝔪𝔞 𝔭𝔢𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨, 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔦𝔥𝔞𝔨 𝔩𝔞𝔦𝔫. 𝔓𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨, 𝔱𝔢𝔫𝔞𝔤𝔞 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔡𝔦𝔡𝔦𝔨𝔞𝔫, 𝔞𝔭𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥, 𝔡𝔞𝔫/𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔪𝔞𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔨𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔦 𝔨𝔢𝔴𝔞𝔧𝔦𝔟𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔨𝔢𝔴𝔞𝔧𝔦𝔟𝔞𝔫 𝔦𝔱𝔲.
𝔗𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔤𝔲𝔯𝔲 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔦𝔫𝔧𝔞𝔨 𝔰𝔦𝔰𝔴𝔞 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦 𝔨𝔢𝔨𝔢𝔯𝔞𝔰𝔞𝔫. 𝔄𝔡𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔱𝔢𝔪𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 76ℭ 𝔧𝔬. 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 80 𝔞𝔶𝔞𝔱 (1) 𝔘𝔘 35/2014.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔩𝔞𝔫𝔤𝔨𝔞𝔥 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔞𝔭𝔞 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔦𝔰𝔞 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔤𝔲𝔯𝔲 𝔦𝔫𝔧𝔞𝔨 𝔰𝔦𝔰𝔴𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Hak dan Kewajiban Guru
Sebelum kami membahas soal langkah hukum yang dapat dilakukan jika guru injak siswa, kami akan menerangkan terlebih dahulu perihal hak dan kewajiban guru.
Menurut Pasal 1 angka 1 UU 14/2005, g͟u͟r͟u͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟ p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟u͟g͟a͟s͟ u͟t͟a͟m͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟j͟͟a͟͟r͟͟, m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟i͟͟m͟͟b͟͟i͟͟n͟͟g͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟h͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟͟e͟͟l͟͟a͟͟t͟͟i͟͟h͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟v͟a͟l͟u͟a͟s͟i͟ p͟e͟s͟e͟r͟t͟a͟ d͟i͟d͟i͟k͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟n͟a͟k͟ u͟s͟i͟a͟ d͟i͟n͟i͟ j͟a͟l͟u͟r͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ f͟o͟r͟m͟a͟l͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟h͟͟.
Lebih lanjut, guru mempunyai kedudukan s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟e͟n͟a͟g͟a͟ p͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟o͟n͟a͟l͟ p͟a͟d͟a͟ j͟e͟n͟j͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟, p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟h͟͟, d͟a͟n͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟n͟a͟k͟ u͟s͟i͟a͟ d͟i͟n͟i͟ p͟a͟d͟a͟ j͟a͟l͟u͟r͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ f͟o͟r͟m͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.[¹]
Sebagai tenaga profesional, guru memiliki fungsi u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟k͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟a͟r͟t͟a͟b͟a͟t͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟n͟ g͟u͟r͟u͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟g͟e͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ b͟e͟r͟f͟u͟n͟g͟s͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟k͟a͟t͟k͟a͟n͟ m͟u͟t͟u͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ n͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟o͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟l͟͟͟.[²]
Kemudian, dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berhak untuk:[³]
a. memperoleh
penghasilan di atas
kebutuhan hidup
minimum dan
jaminan
kesejahteraan sosial;
b. mendapatkan
promosi dan
penghargaan sesuai
dengan tugas dan
prestasi kerja;
c. memperoleh
perlindungan dalam
melaksanakan tugas
dan hak atas
kekayaan intelektual;
d. memperoleh
kesempatan untuk
meningkatkan
kompetensi;
e. memperoleh dan
memanfaatkan
sarana dan
prasarana
pembelajaran untuk
menunjang
kelancaran tugas
keprofesionalan;
f. memiliki kebebasan
dalam memberikan
penilaian dan ikut
menentukan
kelulusan,
penghargaan, dan/
atau sanksi kepada
peserta didik sesuai
dengan kaidah
pendidikan, kode etik
guru, dan peraturan
perundang-
undangan;
g. memperoleh rasa
aman dan jaminan
keselamatan dalam
melaksanakan
tugas;
h. memiliki kebebasan
untuk berserikat
dalam organisasi
profesi;
i. memiliki kesempatan
untuk berperan
dalam penentuan
kebijakan
pendidikan;
j. memperoleh
kesempatan untuk
mengembangkan
dan meningkatkan
kualifikasi akademik
dan kompetensi;
dan/atau
k. memperoleh
pelatihan dan
pengembangan
profesi dalam
bidangnya.
Lantas, apa kewajiban guru? Dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban:[⁴]
a. merencanakan
pembelajaran,
melaksanakan
proses pembelajaran
yang bermutu, serta
menilai dan
mengevaluasi hasil
pembelajaran;
b. meningkatkan dan
mengembangkan
kualifikasi akademik
dan kompetensi
secara berkelanjutan
sejalan dengan
perkembangan ilmu
pengetahuan,
teknologi, dan seni;
c. bertindak objektif
dan tidak
diskriminatif atas
dasar pertimbangan
jenis kelamin,
agama, suku, ras,
dan kondisi fisik
tertentu, atau latar
belakang keluarga,
dan status sosial
ekonomi peserta
didik dalam
pembelajaran;
d. menjunjung tinggi
peraturan
perundang-
undangan, hukum,
dan kode etik
guru, serta
nilai-nilai agama
dan etika; dan
e. memelihara dan
memupuk persatuan
dan kesatuan
bangsa.
Bagaimana h͟u͟k͟u͟m͟n͟y͟a͟ j͟i͟k͟a͟ g͟u͟r͟u͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ s͟i͟s͟w͟a͟?
Perlindungan Anak dari Kekerasan di Sekolah
Kasus yang Anda tanyakan terjadi di lingkungan pendidikan dan terjadi terhadap siswa oleh guru. Maka, dapat kami asumsikan bahwa korban adalah anak. Adapun yang dimaksud anak adalah s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ b͟e͟r͟u͟s͟i͟a͟ 18 t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟n͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ a͟n͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟͟a͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.[⁵]
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa setiap anak berhak atas perlindungan di sekolah, sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (1a) UU 35/2014, sebagai berikut:
- Setiap anak berhak m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟i͟ s͟a͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ d͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, t͟e͟n͟a͟g͟a͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, s͟e͟s͟a͟m͟a͟ p͟e͟s͟e͟r͟t͟a͟ d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Kemudian, perlindungan dari kekerasan untuk siswa juga diatur dalam Pasal 54 ayat (1) UU 35/2014, yang menyatakan:
- A͟n͟a͟k͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟a͟n͟ d͟i͟ l͟͟i͟͟n͟͟g͟͟k͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟ s͟a͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟n͟d͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟, psikis, kejahatan seksual, dan kejahatan lainnya y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, t͟e͟n͟a͟g͟a͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, s͟e͟s͟a͟m͟a͟ p͟e͟s͟e͟r͟t͟a͟ d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟i͟n͟.
Perlindungan sebagaimana dimaksud di atas dilakukan oleh pendidik, tenaga kependidikan, aparat pemerintah, dan/atau masyarakat.[⁶]
Sanksi Pelaku Tindak Kekerasan di Sekolah
Apa sanksi pelaku tindak kekerasan di sekolah? Perbuatan guru injak siswa merupakan suatu kekerasan terhadap anak. Adapun sanksi pidana kekerasan terhadap anak dapat ditemukan pada ketentuan Pasal 76C jo. Pasal 80 ayat (1) UU 35/2014. Berdasarkan ketentuan ini, guru yang melakukan kekerasan terhadap siswanya (anak), dapat dipidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 juta.
Kemudian, berdasarkan kasus yang Anda sampaikan, anak mengeluh sakit hingga tidak masuk sekolah. Dalam hal anak tersebut luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp100 juta. Namun, jika anak sebagaimana dimaksud mati, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan/atau denda paling banyak Rp3 miliar.[⁷]
Lebih lanjut, menurut hemat kami, perbuatan guru yang menginjak siswa dapat juga dikategorikan sebagai tindak pidana penganiayaan ringan. Maka, sang guru juga dapat dilaporkan atas dasar (tindak pidana penganiayaan ringan* yang diatur dalam Pasal 352 KUHP lama yang masih berlaku pada saat artikel ini diterbitkan, atau Pasal 471 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang mulai berlaku 3 tahun terhitung sejak tanggal diundangkan.[⁸]
Lantas, langkah hukum apa yang bisa dilakukan jika guru injak siswa?
Langkah yang Dapat Dilakukan
Tentunya karena yang dilakukan adalah tindak pidana, maka korban atau orang tua korban dapat menyampaikan laporan kepada polisi. Laporan adalah p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ a͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟n͟y͟a͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.[⁹]
Namun, menurut Sovia Hasanah (penulis sebelumnya), perlu diingat bahwa tindak pidana kekerasan guru terhadap siswa ini dilakukan pada lingkup pendidikan. Sebagai sebuah institusi pendidikan, maka seyogyanya permasalahan yang terjadi diselesaikan terlebih dahulu melalui mekanisme yang berlaku dalam lingkungan sekolah. Hal ini adalah dalam rangka mencari jalan keluar terhadap permasalahan yang terjadi secara kekeluargaan. Terhadap upaya hukum ini, maka a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟e͟r͟b͟u͟k͟t͟i͟ g͟u͟r͟u͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟n͟a͟k͟ d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, m͟a͟k͟a͟ t͟i͟n͟g͟k͟a͟t͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ a͟k͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟u͟t͟i͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ s͟e͟k͟o͟l͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟e͟͟r͟͟s͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟.
Selain itu, penanganan perkara pidana dapat dilakukan secara restorative justice, yaitu p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, t͟o͟k͟o͟h͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟, t͟o͟k͟o͟h͟ a͟͟g͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, t͟o͟k͟o͟h͟ a͟͟͟͟d͟͟͟͟a͟͟͟͟t͟͟͟͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟a͟n͟g͟k͟u͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟s͟a͟m͟a͟-s͟a͟m͟a͟ m͟e͟n͟c͟a͟r͟i͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ a͟d͟i͟l͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟e͟r͟d͟a͟m͟a͟i͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟e͟k͟a͟n͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟u͟l͟i͟h͟a͟n͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ s͟͟e͟͟m͟͟u͟͟l͟͟a͟͟.[¹⁰]
Demikianlah jawaban dari kami semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
- Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Langkah Hukum Jika Anak Ditempeleng Guru yang dibuat oleh* John I.M. Pattiwael, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 29 Januari 2013, kemudian dimutakhirkan pertama kali oleh Sovia Hasanah, S.H. pada 08 November 2017. Dan dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Langkah Hukum Jika Guru Melakukan Kekerasan, pada 15 September 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers, pada tanggal 29 September 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

