INDRAMAYU — PERTANYAAN
Apakah dalam perbuatan tidak menyenangkan Pasal 335 KUHP harus terdapat unsur kekerasan atau ancaman kekerasan? Dan didalam pasal tersebut, apakah termasuk delik aduan atau delik umum? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga selalu diberikan kesehatan dan kelancaran rejeki. Aamiin..
Mus Bin Asmu – Loyank
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
ᵀᵃᵈⁱⁿʸᵃ, ˢᵉˡᵃⁱⁿ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵃⁿᶜᵃᵐᵃⁿ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ, ᴾᵃˢᵃˡ ³³⁵ ᵃʸᵃᵗ (¹) ᵇᵘᵗⁱʳ ¹ ᴷᵁᴴᴾ ʲᵘᵍᵃ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵏᵉⁿᵃᵏᵃⁿ ʲⁱᵏᵃ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵃᵈᵃ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵐᵉⁿʸᵉⁿᵃⁿᵍᵏᵃⁿ, ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ᵖᵃˢᵃˡ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ᵈⁱᵏᵉⁿᵃˡ ʲᵘᵍᵃ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵖᵃˢᵃˡ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵐᵉⁿʸᵉⁿᵃⁿᵍᵏᵃⁿ.
ᴺᵃᵐᵘⁿ, ᵖᵃˢᶜᵃ ᴾᵘᵗᵘˢᵃⁿ ᴹᴷ ¹/ᴾᵁᵁ-ˣᴵ/²⁰²³, ᶠʳᵃˢᵃ “ˢᵉˢᵘᵃᵗᵘ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ˡᵃⁱⁿ ᵐᵃᵘᵖᵘⁿ ᵖᵉʳˡᵃᵏᵘᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵗᵃᵏ ᵐᵉⁿʸᵉⁿᵃⁿᵍᵏᵃⁿ” ᵖᵃᵈᵃ ᵖᵃˢᵃˡ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ᵗᵉˡᵃʰ ᵈⁱᶜᵃᵇᵘᵗ ᵃᵗᵃᵘ ᵗⁱᵈᵃᵏ ˡᵃᵍⁱ ᵇᵉʳˡᵃᵏᵘ, ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱʲᵉʳᵃᵗ ᵃᵈᵃˡᵃʰ ᵖᵉᵐᵃᵏˢᵃᵃⁿ ᵗᵉʳʰᵃᵈᵃᵖ ᵒʳᵃⁿᵍ ˡᵃⁱⁿ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵐᵉᵐᵃᵏᵃⁱ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ ᵃᵗᵃᵘ ᵃⁿᶜᵃᵐᵃⁿ ᵏᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ. ᴬᵗᵃᵘ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵏᵃᵗᵃ ˡᵃⁱⁿ ᶠʳᵃˢᵃ ᵖᵃᵈᵃ ᵖᵃˢᵃˡ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵐᵉⁿʸᵉⁿᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ᵈⁱʰᵃᵖᵘˢ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan
Sebelumnya kami akan membandingkan bunyi pasal KUHP perbuatan tidak menyenangkan yang masih berlaku pada saat artikel ini diterbitkan dan UU 1/2023 tentang KUHP baru yang baru berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[¹] yaitu tahun 2026, sebagai berikut.
Pasal 335 KUHP
1) Diancam dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp4,5 juta:[²]
- Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain;
- Barang siapa memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan ancaman pencemaran atau pencemaran tertulis.
2) Dalam hal sebagaimana dirumuskan dalam butir 2, k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟k͟͟e͟͟n͟͟a͟͟.
Pasal 448 UU 1/2023
1) Dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 tahun atau pidana denda paling banyak kategori II, yaitu Rp10 juta[³] setiap orang yang:
a. secara melawan
hukum memaksa
orang lain supaya
melakukan, tidak
melakukan, atau
membiarkan
sesuatu, dengan
kekerasan atau
ancaman kekerasan,
baik terhadap orang
itu sendiri maupun
orang lain; atau
b. memaksa orang lain
supaya melakukan,
tidak melakukan,
atau membiarkan
sesuatu dengan
ancaman
pencemaran atau
pencemaran tertulis.
2) Tindak pidana sebagaimana dimaksud p͟a͟d͟a͟ a͟y͟a͟t͟ (1) h͟u͟r͟u͟f͟ b͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Pasal di atas tadinya dinamakan pasal perbuatan tidak menyenangkan. S͟͟e͟͟b͟͟e͟͟l͟͟u͟͟m͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, p͟a͟s͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟a͟s͟a͟l͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟n͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ d͟i͟ m͟e͟d͟i͟a͟ s͟͟o͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟, y͟a͟n͟g͟ o͟l͟e͟h͟ s͟͟e͟͟b͟͟a͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟ k͟a͟l͟a͟n͟g͟a͟n͟ w͟a͟r͟g͟a͟n͟e͟t͟ d͟i͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Namun, dalam perkembangannya, Mahkamah Konstitusi (“MK”) melalui Putusan MK No. 1/PUU-XI/2013 menyatakan bahwa frasa, “sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam pasal tersebut b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ U͟U͟D͟ 1945 d͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟a͟t͟ (hal. 40-41) atau dengan kata lain frasa pada pasal perbuatan tidak menyenangkan dihapus.
MK menilai frasa “sesuatu perbuatan lain maupun perlakuan yang tak menyenangkan” dalam Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟i͟d͟a͟k͟p͟a͟s͟t͟i͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ k͟͟e͟͟t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. Sebab, p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ a͟p͟a͟ s͟a͟j͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟n͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟n͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ i͟m͟p͟l͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟s͟i͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ i͟t͟u͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ p͟e͟l͟u͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟n͟y͟a͟ k͟e͟s͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟-w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ d͟a͟n͟ p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟m͟u͟m͟ terutama bagi pihak yang dilaporkan.
Sehingga, rumusan Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP yang tadinya mengatur pasal tentang perbuatan tidak menyenangkan menjadi berbunyi:
- Barang siapa secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan atau membiarkan sesuatu, dengan memakai kekerasan, atau dengan memakai ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.
Sehingga, u͟n͟s͟u͟r͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟n͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟g͟i͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 335 a͟y͟a͟t͟ (1) b͟u͟t͟i͟r͟ 1 K͟͟U͟͟H͟͟P͟͟, dan pasal tersebut tidak lagi bisa disebut pasal perbuatan tidak menyenangkan.
Unsur Pasal Pemaksaan dengan Kekerasan atau Ancaman
Untuk dapat dijerat Pasal 335 KUHP atau Pasal 448 UU 1/2023, perbuatan tersebut harus memenuhi unsur-unsur berikut:
- Barang siapa;
- Secara melawan hukum;
- Memaksa orang lain supaya melakukan, tidak melakukan, atau membiarkan sesuatu;
- Memakai kekerasan atau ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu sendiri maupun orang lain.
Mengenai kekerasan dan ancaman kekerasan, R. Soesilo dalam buku Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 238) mengatakan, yang harus dibuktikan adalah:
- Ada orang yang dengan melawan hak dipaksa melakukan sesuatu, tidak melakukan sesuatu atau membiarkan sesuatu;
- Paksaan itu dilakukan dengan memakai kekerasan, ataupun ancaman kekerasan, baik terhadap orang itu, maupun terhadap orang lain.
Dalam hal ini, definisi “kekerasan” menurut R. Soesilo yakni menggunakan tenaga atau kekuatan jasmani tidak kecil dan tidak sah, misalnya memukul dengan tangan atau dengan segala macam senjata, menyepak, menendang, dan sebagainya (hal. 98). Selain itu, yang disamakan dengan “melakukan kekerasan” ialah membuat orang jadi pingsan atau tidak berdaya lagi (lemah).
Jadi, pembuktian delik dalam pasal ini cukup dengan terpenuhinya salah satu dari 2 unsur tersebut, yakni ancaman kekerasan atau kekerasan.
Delik Biasa atau Delik Aduan?
Dalam perkara pidana, suatu perkara diproses berdasarkan pada deliknya. Disarikan dari Perbedaan Delik Biasa dan Delik Aduan Beserta Contohnya, dikenal 2 macam delik, yaitu delik biasa dan delik aduan:
- D͟e͟l͟i͟k͟ b͟i͟a͟s͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ d͟e͟l͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟r͟o͟s͟e͟s͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟ t͟a͟n͟p͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟; d͟a͟n͟
- D͟e͟l͟i͟k͟ a͟d͟u͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ d͟e͟l͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟n͟y͟a͟ b͟i͟s͟a͟ d͟i͟p͟r͟o͟s͟e͟s͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ a͟d͟a͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ l͟a͟p͟o͟r͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Dilihat dari rumusan pasalnya, Pasal 335 ayat (1) butir 1 KUHP atau Pasal 448 ayat (1) huruf a UU 1/2023 merupakan delik biasa. Sedangkan Pasal 335 ayat (1) butir 2 KUHP atau Pasal 448 ayat (1) huruf b UU 1/2023 merupakan delik aduan, sebab ditegaskan bahwa seseorang yang melakukan tindak pidana tersebut hanya dapat dijerat pidana a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ a͟d͟a͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟u͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada umumnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2012 tentang Penyesuaian Batasan Tindak Pidana Ringan dan Jumlah Denda dalam KUHP.
Artikel ini adalah pemutakhiran ketiga dari artikel dengan judul Perbuatan Tidak Menyenangkan yang dibuat oleh Supriyadi Widodo Eddyono, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Senin, 08 November 2010 kemudian dimutakhirkan pertama kali oleh Erizka Permatasari, S.H. pada Senin, 28 Januari 2019, dan kedua kalinya pada Selasa, 8 Februari 2022. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Pasal Perbuatan Tidak Menyenangkan Dihapus, Ini Dasarnya, pada tanggal 19 Juni 2023. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 04 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

