INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Belakangan ini, Indonesia dihebohkan oleh dugaan kekerasan seksual di pondok pesantren di Pati oleh pengasuh pondok pesantren. Menurut berita yang beredar, terdapat puluhan santriwati yang menjadi korban kekerasan seksual tersebut. Lantas, apakah pelaku kekerasan seksual seperti yang terjadi dalam kasus tersebut bisa dihukum kebiri kimia dan pemasangan chip?
Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga semakin cerdas dan bijak dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Aamiin..
Wassalam,
Kessah Wiiwin – Pilang City
••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔖𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔤𝔞𝔯𝔦𝔰 𝔟𝔢𝔰𝔞𝔯, 𝔨𝔢𝔟𝔦𝔯𝔦 𝔨𝔦𝔪𝔦𝔞 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔷𝔞𝔱 𝔨𝔦𝔪𝔦𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔩𝔲𝔦 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔲𝔫𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔪𝔢𝔱𝔬𝔡𝔢 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔱𝔲𝔧𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔢𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔰𝔯𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔨𝔰𝔲𝔞𝔩 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥.
ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔟𝔦𝔯𝔦 𝔨𝔦𝔪𝔦𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔞𝔰𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔠𝔥𝔦𝔭 𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔢𝔱𝔲𝔟𝔲𝔥𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔞𝔫𝔞𝔨 𝔡𝔦 ℑ𝔫𝔡𝔬𝔫𝔢𝔰𝔦𝔞 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔘𝔘 𝔓𝔢𝔯𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔄𝔫𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔟𝔞𝔥𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔰𝔢𝔯𝔱𝔞 𝔓𝔓 70/2020.
𝔎𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔰𝔲𝔡𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤-𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤, 𝔡𝔬𝔨𝔱𝔢𝔯 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔢𝔨𝔰𝔢𝔨𝔲𝔱𝔬𝔯 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔦𝔫𝔦 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔟𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔪𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔰𝔞𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔦𝔫𝔦 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥 𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤-𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔞𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔫𝔞𝔯.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Apa itu Kebiri Kimia?
Hukuman berupa tindakan kebiri kimia atau yang lebih familiar disebut hukuman kebiri adalah pemberian zat kimia melalui penyuntikan atau metode lain, yang dilakukan kepada pelaku yang pernah dipidana karena melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, sehingga menimbulkan korban lebih dari 1 orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia, untuk menekan hasrat seksual berlebih, yang disertai rehabilitasi.[¹]
Sehingga menjawab pertanyaan Anda, s͟e͟c͟a͟r͟a͟ g͟a͟r͟i͟s͟ b͟e͟s͟a͟r͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ k͟i͟m͟i͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ z͟a͟t͟ k͟i͟m͟i͟a͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟e͟n͟y͟u͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟t͟o͟d͟e͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟j͟u͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟k͟a͟n͟ h͟a͟s͟r͟a͟t͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟e͟͟b͟͟i͟͟h͟͟.
Kemudian, pemasangan chip yang Anda maksud, kami asumsikan s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ p͟e͟n͟d͟e͟t͟e͟k͟s͟i͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟.
Hukum Kebiri di Indonesia
Baik hukuman kebiri kimia maupun pemasangan alat pendeteksi elektronik atau chip diatur dalam UU Perlindungan Anak dan perubahannya serta lebih lanjut diatur dalam PP 70/2020.
Hukum kebiri dan pemasangan chip dikenakan kepada pelaku persetubuhan, sebagaimana diatur dalam Pasal 2 ayat (1) PP 70/2020, yang berbunyi:
- T͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ k͟͟i͟͟m͟͟i͟͟a͟͟, t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ p͟e͟n͟d͟e͟t͟e͟k͟s͟i͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, dan rehabilitasi dikenakan terhadap pelaku persetubuhan berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Berkaitan dengan pertanyaan Anda di mana korban pelecehan adalah anak, yang dimaksud dengan pelaku persetubuhan kepada anak dengan kekerasan atau ancaman kekerasan seksual memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain (“pelaku persetubuhan”) adalah t͟e͟r͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ s͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟l͟a͟n͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ a͟n͟a͟k͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ a͟n͟a͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟n͟y͟a͟ a͟t͟a͟u͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.[²]
Tindakan kebiri kimia dan tindakan pemasangan alat pendeteksi elektronik atau chip tidak bisa dilakukan pada setiap tindak pidana kekerasan seksual. Sebagai informasi, sebelum berlakunya UU 1/2023 tentang KUHP baru pada 2 Januari 2026,[3] hukum kebiri dan pemasangan chip dapat dilakukan jika melanggar ketentuan Pasal 76D dan Pasal 76E UU 35/2014, yang berbunyi:
Pasal 76D UU 35/2014:
- Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain.
Pasal 76E UU 35/2014:
- Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.
Namun, pasca berlakunya UU 1/2023 tentang KUHP baru, p͟e͟m͟i͟d͟a͟n͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 76E͟ U͟U͟ 35/2014 yang terdapat dalam Pasal 82 Perppu 1/2016 t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟c͟a͟b͟u͟t͟ d͟a͟n͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟ melalui Pasal VII angka 55 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 622 ayat (1) huruf n UU 1/2023.
Kemudian, pengacuan pemidanaan Pasal 82 Perppu 1/2026 diganti dengan Pasal 415 atau Pasal 417 UU 1/2023,[⁴] y͟a͟n͟g͟ m͟a͟n͟a͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟l͟i͟p͟u͟t͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ d͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ c͟͟h͟͟i͟͟p͟͟. Sebagai informasi, berikut adalah bunyi Pasal 415 dan Pasal 417 UU 1/2023:
Pasal 415 UU 1/2023:
- Dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun, Setiap Orang yang:
a. melakukan
perbuatan cabul
dengan seseorang
yang diketahui
orang tersebut
pingsan atau tidak
berdaya; atau
b. melakukan
perbuatan cabul
dengan seseorang
yang diketahui atau
patut diduga Anak
Pasal 417 UU 1/2023
- Setiap Orang yang memberi atau berjanji akan memberi hadiah menyalahgunakan wibawa yang timbul dari hubungan keadaan atau dengan penyesatan menggerakkan orang yang diketahui atau patut diduga Anak, untuk melakukan perbuatan cabul atau membiarkan terhadap dirinya dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Oleh karena itu, saat ini pemberian tindakan kebiri hanya dapat dilakukan pada pelaku tindak pidana yang melanggar Pasal 76D UU 35/2014. Sebagai informasi, p͟e͟n͟g͟a͟c͟u͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟o͟k͟o͟k͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ P͟a͟s͟a͟l͟ 76D͟ U͟U͟ 35/2014 d͟i͟u͟b͟a͟h͟ dari yang awalnya terdapat dalam Pasal 81 ayat (1) Perppu 1/2016 menjadi Pasal 473 ayat (4) UU 1/2023,[⁵] yang menyatakan bahwa:
- Dalam tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) huruf c dan huruf d, dan ayat (3) dilakukan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VII, yaitu sebesar Rp5 miliar.[⁶]
Namun, sebagaimana kami sampaikan, patut diperhatikan bahwa t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟m͟u͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ a͟n͟a͟k͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ p͟e͟m͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟l͟a͟t͟ p͟e͟n͟d͟e͟t͟e͟k͟s͟i͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ c͟h͟i͟p͟ d͟a͟n͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ k͟͟i͟͟m͟͟i͟͟a͟͟. Tindakan berupa kebiri kimia dan pemasangan pendeteksi elektronik atau chip baru dapat dikenakan pada:[⁷]
- pelaku yang sebelumnya pernah dipidana karena melakukan tindak pidana persetubuhan terhadap anak; dan
- pelaku tindak pidana persetubuhan terhadap anak yang menimbulkan korban lebih dari 1 orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular, terganggu atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunia.
T͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ p͟͟͟e͟͟͟m͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ c͟h͟i͟p͟ d͟a͟n͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ k͟i͟m͟i͟a͟ d͟͟i͟͟k͟͟e͟͟n͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ u͟n͟t͟u͟k͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ m͟a͟k͟s͟i͟m͟a͟l͟ 2 t͟a͟h͟u͟n͟ d͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ t͟e͟r͟p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟l͟a͟n͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟͟o͟͟k͟͟o͟͟k͟͟.[⁸] Lalu, pelaksanaan pemasangan chip dan kebiri kimia disertai dengan rehabilitasinya di bawah pengawasan berkala oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hukum, sosial, dan kesehatan.[⁹]
Pandangan Hukum Pidana
Menurut hemat kami, pelaku kejahatan seksual terhadap anak dikualifikasikan sebagai graviora delicta atau kejahatan serius yang kejam. Mengapa dikatakan demikian? K͟a͟r͟e͟n͟a͟ a͟n͟a͟k͟ s͟a͟n͟g͟a͟t͟ r͟e͟n͟t͟a͟n͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ s͟e͟b͟a͟b͟ i͟t͟u͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟l͟͟i͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.
Secara khusus, misalnya dalam lingkungan gereja, kejahatan seksual terhadap anak memang dipandang sebagai graviora delicta dan menjadi perhatian khusus bagi gereja, seperti yang tergambar dalam Ave Maria International Law Journal yang berjudul The New Delicta Graviora Laws yang ditulis Davide Cito (hal. 93):
- Although the abuse of minors by a Cleric is a particularly odious and very serious crime, it is certainly not the only crime contained in the delicta graviora. However, recent events have made this particular type of crime the driving force of reform, and in a sense, the central point in the Holy See’s current penal legal system.
A͟n͟a͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ t͟e͟r͟d͟a͟m͟p͟a͟k͟ l͟u͟a͟r͟ b͟͟i͟͟a͟͟s͟͟a͟͟, t͟e͟r͟u͟t͟a͟m͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟e͟r͟k͟e͟m͟b͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟s͟i͟k͟o͟l͟o͟g͟i͟s͟ n͟y͟a͟ d͟͟i͟͟ m͟a͟s͟a͟ y͟a͟n͟g͟ a͟k͟a͟n͟ d͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟, a͟k͟i͟b͟a͟t͟ d͟a͟r͟i͟ d͟͟͟e͟͟͟p͟͟͟r͟͟͟e͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟, m͟a͟l͟u͟, d͟a͟n͟ l͟a͟i͟n͟ s͟͟e͟͟b͟͟a͟͟g͟͟a͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Dalam konteks ini, h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟b͟i͟r͟i͟ k͟i͟m͟i͟a͟ d͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟s͟a͟n͟g͟a͟n͟ c͟h͟i͟p͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟e͟͟t͟͟i͟͟m͟͟p͟͟a͟͟l͟͟. Sebab, selain pelaku tidak bisa lagi mengulangi perbuatannya, pada saat yang sama ini sekaligus merupakan general prevention bagi orang lain agar tidak melakukan kejahatan yang sama.
Apakah Hukuman Kebiri Kimia dan Pemasangan Chip Melanggar HAM?
Pernyataan tindakan kebiri kimia dan pemasangan chip adalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (“HAM”), memang tidaklah dapat dinafikan. Akan tetapi, a͟p͟a͟k͟a͟h͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ s͟a͟a͟t͟ b͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟ d͟e͟m͟i͟k͟i͟a͟n͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟m͟i͟k͟i͟r͟k͟a͟n͟ H͟A͟M͟ a͟n͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟?
Selain itu, dokter yang tidak mau menjadi eksekutor karena dianggap bertentangan dengan etika kedokteran merupakan permasalahan lain.
Dikutip dari Pasal 5 Kode Etik Kedokteran Indonesia (“KODEKI”), memang disebutkan:
- Tiap perbuatan atau nasihat dokter yang mungkin melemahkan daya tahan psikis maupun fisik, wajib memperoleh persetujuan pasien/keluarganya dan hanya diberikan untuk kepentingan dan kebaikan pasien tersebut.
Adapun Penjelasan Pasal 5 KODEKI, berbunyi:
- Pada diri pasien sebagai manusia, kaitan badan/tubuh dan jiwa/mental tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Melemahkan daya tahan psikis dan fisik adalah bertentangan dengan fitrah/tugas ilmu kedokteran, karena hal ini jika dibiarkan justru akan membahayakan nyawa atau memperberat penderitaannya. Kecuali ada alasan pembenar, tindakan tersebut diperbolehkan seperti pembiusan pra-bedah pada umumnya, pemberian obat pra-anestesi/anestesi untuk kejang atau nyeri tak tertahankan.
Tindakan kebiri kimia memang berkaitan dengan ketentuan dalam KODEKI yang kami sebutkan di atas. Akan tetapi, k͟e͟t͟i͟k͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ t͟e͟r͟c͟a͟n͟t͟u͟m͟ d͟a͟l͟a͟m͟ u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, i͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟͟i͟͟t͟͟a͟͟a͟͟t͟͟i͟͟. Terlebih lagi, saat ini sudah ada peraturan pemerintah yang ditetapkan sebagai peraturan pelaksana hukuman kebiri kimia, yakni PP 70/2020.
Penting untuk diketahui, Pasal 9 huruf b PP 70/2020 menyatakan:
- Dalam jangka waktu paling lambat 7 hari kerja sejak diterimanya kesimpulan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, jaksa memerintahkan dokter untuk melakukan pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia kepada Pelaku Persetubuhan.
Sehingga apabila di kemudian hari dokter ditetapkan menjadi eksekutor tindakan ini, maka i͟a͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟͟͟e͟͟͟l͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟n͟͟͟y͟͟a͟͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ i͟n͟i͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟n͟a͟r͟ d͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟n͟y͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ m͟͟e͟͟n͟͟o͟͟l͟͟a͟͟k͟͟.
Alasan pembenar dapat dilihat pada Pasal 31 dan Pasal 32 UU 1/2023 sebagai berikut:
Pasal 31 UU 1/2023
- Setiap Orang yang melakukan perbuatan yang dilarang tidak dipidana, jika perbuatan tersebut dilakukan untuk melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pasal 32 UU 1/2023
- Setiap Orang yang melakukan perbuatan yang dilarang tidak dipidana, jika perbuatan tersebut dilakukan untuk melaksanakan perintah jabatan dari Pejabat yang berwenang.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak;
- Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana;
- Peraturan Pemerintah Nomor 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Deteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Davide Cito. The New Delicta Graviora Laws. Ave Maria International Law Journal, Vol. 1, No. 1, 2011;
- Kode Etik Kedokteran Indonesia, yang diakses pada 07 Mei 2026, pukul 06.00 WIB.
Artikel ini adalah pemutakhiran ketiga kali dari artikel dengan judul Alasan Hukum yang Membenarkan Pemasangan Chip dan Kebiri Kimia, yang dipublikasikan pertama kali pada 17 Juni 2020, dimutakhirkan pertama kali pada 5 Januari 2021, dan dimutakhirkan kedua kali pada 27 Desember 2021. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 07 Mei 2026, dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 20 Mei 2026M/03 Zulhijjah 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

