Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Embriologi adalah ilmu yang mempelajari proses terbentuknya manusia sejak pertemuan sel reproduksi (sperma dan ovum) hingga menjadi janin. Pengetahuan ini berkembang pesat dalam biologi modern melalui observasi mikroskopis dan teknologi kedokteran. Namun, jauh sebelum itu, Al-Qur’an telah memberi isyarat mengenai asal-usul manusia, salah satunya melalui QS. Ath-Thāriq: 5–7:
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ (٥) خُلِقَ مِن مَّاءٍ دَافِقٍ (٦) يَخْرُجُ مِن بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ (٧)
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apa ia diciptakan. Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi dan tulang dada.”
Ayat ini sejak lama mengundang diskusi tafsir. Bagaimana mungkin “air yang terpancar” (mā’ dāfiq) dikaitkan dengan tulang belakang (sulb) dan tulang dada (tara’ib)? Mari kita lihat bagaimana tafsir klasik, modern, dan ilmu biologi menafsirkannya.
Tafsir Klasik
Para mufasir awal seperti Al-Ṭabarī dan Ibn Kathīr menafsirkan “mā’ dāfiq” sebagai air mani laki-laki, yakni sperma, yang memancar saat ejakulasi.
Sulb diartikan sebagai tulang belakang laki-laki, tempat keluarnya sperma.
Tara’ib dipahami sebagai tulang dada perempuan, yang secara simbolik menunjuk pada pasangan dalam proses reproduksi.
Dengan kata lain, tafsir klasik melihat ayat ini sebagai pertemuan unsur laki-laki dan perempuan dalam penciptaan manusia.
Tafsir Modern
Perkembangan ilmu biologi mendorong mufasir kontemporer menafsirkan ayat ini secara lebih detail:
1.Maurice Bucaille (La Bible, Le Coran et la Science) menafsirkan bahwa ayat ini mencerminkan kompleksitas reproduksi manusia. Sperma memang berasal dari testis yang posisinya di daerah belakang (sulb), sementara ovum dihasilkan ovarium yang terletak dekat perut depan (tara’ib).
2.Zaghloul El-Naggar, ilmuwan Muslim Mesir, menekankan bahwa kata “mā’ dāfiq” bukan hanya sperma, melainkan seluruh cairan reproduktif, baik dari laki-laki maupun perempuan, yang memang bertemu dalam proses pembuahan.
3.Umar Abd-Allah menekankan sisi metaforis: sulb dan tara’ib adalah simbol keterlibatan dua pihak (laki-laki dan perempuan) dalam suatu proses biologis yang diatur penuh hikmah.
Evolusi Pemahaman Embriologi dalam Sains
Pemahaman tentang reproduksi manusia berkembang secara bertahap:
1.Yunani Kuno (Hippokrates, Aristoteles)
Sperma dianggap sebagai “benih” penuh, sementara perempuan hanya wadah.
Aristoteles menambahkan peran darah menstruasi perempuan sebagai material pembentuk.
2.Abad Pertengahan (Galen, Ibnu Sina)
Muncul konsep kontribusi kedua pihak: sperma dan ovum (meski istilah ovum belum jelas).
Ibnu Sina dalam al-Qanun fi al-Tibb menjelaskan proses pembentukan janin lebih maju dibanding teori Yunani.
3.Revolusi Mikroskop (Leeuwenhoek, abad ke-17)
Penemuan sperma (1677) melahirkan teori spermism (janin terbentuk penuh dalam sperma) dan ovism (janin terbentuk penuh dalam ovum).
4.Abad ke-19–20 (Biologi Modern)
Karl Ernst von Baer menemukan ovum (1827).
Fertilisasi dipahami sebagai pertemuan sperma dan ovum → terbentuk zigot.
Penemuan DNA menjelaskan dasar genetik kehidupan.
5.Embriologi Kontemporer
Diketahui testis (penghasil sperma) mula-mula terbentuk di area belakang ginjal (retroperitoneal) sebelum turun ke skrotum.
Ovarium pun berasal dari lokasi embrional serupa, lalu menetap di panggul.
Fakta ini menarik karena berhubungan dengan deskripsi Qur’an tentang “antara sulbi dan tara’ib.”
Integrasi Tafsir dan Sains
Dari sini dapat disimpulkan:
Al-Qur’an tidak berubah. Pesan wahyunya tetap sama sejak diturunkan.
Organ reproduksi pun tidak berubah. Proses spermatogenesis dan oogenesis tetap berlangsung sebagaimana dijelaskan ayat, meski pemahaman manusia tentang mekanismenya berevolusi.
Sains dan tafsir modern menemukan titik temu. Apa yang dulu dipahami simbolik, kini dapat dibaca ulang melalui embriologi.
Penutup
Kajian QS. Ath-Thāriq (5–7) memperlihatkan dua hal penting:
1.Tafsir klasik menekankan kontribusi laki-laki dan perempuan dalam proses penciptaan.
2.Tafsir modern (Bucaille, El-Naggar, Umar Abd-Allah) membuka ruang integrasi dengan ilmu pengetahuan.
3.Sains embriologi menunjukkan fakta: testis dan ovarium memang berasal dari daerah belakang tubuh (sekitar sulb) sebelum menetap di posisinya masing-masing.
Dengan demikian, ayat ini bukan sekadar pengingat spiritual, melainkan jembatan antara wahyu yang tetap dan sains yang berkembang, sama-sama mengajak manusia untuk “memikirkan dari apa ia diciptakan.”
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

