Oleh: Suhaeli Nawawi
Abstrak
INDRAMAYU — Artikel ini berupaya membangun jembatan konseptual antara internalisme dan eksternalisme dalam filsafat pengetahuan dengan perkembangan sains dari ranah kuantum ke atomik. Dengan memadukan perspektif filsafat, sains, dan teologi, tulisan ini menunjukkan bahwa pergeseran derajat pemahaman realitas dari level mikroskopis (kuantum) ke makroskopis (atomik dan material) memiliki konsekuensi epistemologis yang berkaitan dengan perdebatan internalisme-eksternalisme. Pada akhirnya, artikel ini berargumen bahwa keterbatasan sains dalam menjelaskan “realitas terdalam” membuka ruang dialog antara sains dan teologi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang eksistensi.
Pendahuluan
Perdebatan tentang internalisme dan eksternalisme dalam epistemologi sering dianggap berada di ranah filsafat murni. Internalisme menuntut agar keyakinan epistemik harus didasarkan pada akses kognitif yang dapat dipertanggungjawabkan, sementara eksternalisme mengizinkan keyakinan sahih sejauh ia dihasilkan oleh mekanisme yang reliabel, meski tidak sepenuhnya transparan bagi subjek. Menariknya, perdebatan ini menemukan paralel dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam transisi pemahaman realitas dari skala kuantum menuju atomik.
Dalam fisika, fenomena kuantum menantang intuisi manusia karena ketidakpastian (Heisenberg), superposisi, dan entanglement. Namun, pada level atomik, hukum-hukum tersebut mengkristal menjadi keteraturan yang dapat diobservasi, diukur, dan dipahami dalam kerangka hukum klasik maupun kimia atomik. Peralihan dari kuantum ke atomik ini dapat dipandang sebagai analogi epistemologis: apakah manusia hanya bisa menerima realitas sejauh dapat diakses kesadarannya (internalisme), ataukah realitas tetap sahih meski tak sepenuhnya bisa diakses (eksternalisme)?
Dari Kuantum ke Atomik: Kerangka Ilmiah
Fisika kuantum menunjukkan bahwa partikel subatomik tidak berperilaku sesuai logika klasik. Fenomena seperti dualitas gelombang-partikel dan ketidakpastian posisi-momentum menggarisbawahi keterbatasan manusia dalam memetakan realitas fundamental. Namun, ketika partikel-partikel kuantum berinteraksi dalam jumlah besar, muncullah stabilitas atomik yang menjadi dasar kimia, biologi, dan fisika makroskopis.
Derajat perubahan ini dapat dipahami sebagai “emergensi” (emergence), yakni munculnya sifat baru yang tidak terdapat dalam komponen penyusunnya. Philip Anderson (1972) dalam artikelnya More is Different menegaskan bahwa hukum-hukum baru muncul pada level kompleksitas yang lebih tinggi. Dengan demikian, atom bukan sekadar kumpulan partikel kuantum, melainkan sistem dengan hukum tersendiri.
Internalisme dan Eksternalisme: Sebuah Analogi Epistemik
Jika kita mengaitkan perdebatan epistemologi dengan perkembangan sains, maka:
Internalisme mirip dengan pendekatan manusia dalam menghadapi realitas atomik: pengetahuan dianggap sahih jika dapat direduksi pada penjelasan yang dapat diakses kesadaran. Atom, misalnya, dapat dipelajari melalui model Bohr, mekanika gelombang Schrödinger, hingga eksperimen laboratorium yang terukur.
Eksternalisme sejalan dengan realitas kuantum: meski manusia tidak selalu dapat “mengakses” proses di balik layar, seperti superposisi atau entanglement, realitas tersebut tetap bekerja dan sahih, menghasilkan fenomena yang dapat kita lihat di dunia makro.
Dengan demikian, internalisme dan eksternalisme tidak harus dipandang sebagai oposisi mutlak, melainkan sebagai dua cara memahami relasi antara subjek dan realitas.
Implikasi Teologis: Sains dan Transendensi
Pertanyaan filosofis muncul: jika realitas kuantum tak sepenuhnya dapat dipahami, apakah manusia harus berhenti pada eksternalisme sains? Teologi justru menawarkan ruang alternatif. Dalam teologi Islam, misalnya, konsep ghaib (yang tersembunyi) adalah realitas yang tidak dapat diakses langsung, tetapi tetap diyakini sebagai kebenaran. Al-Qur’an menyebut orang beriman sebagai mereka yang “yu’minūna bil-ghaib” (beriman kepada yang gaib, QS. Al-Baqarah:3).
Analogi ini memperlihatkan bahwa epistemologi teistik memiliki kedekatan dengan eksternalisme: validitas suatu keyakinan tidak harus selalu dapat dijustifikasi secara internal, selama ia berakar pada sumber yang reliabel (wahyu). Namun, teologi juga tidak menafikan internalisme, karena wahyu mendorong penggunaan akal (‘aql) dan refleksi ilmiah terhadap fenomena alam.
Maka, dialog antara sains dan teologi tidak hanya sekadar integrasi, tetapi juga pengakuan bahwa setiap ranah memiliki metode validasi kebenaran yang berbeda.
Kesimpulan
Perjalanan dari kuantum ke atomik tidak hanya mencerminkan perkembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menyiratkan kerangka epistemologis yang relevan bagi filsafat dan teologi. Internalisme menekankan akuntabilitas epistemik melalui akses kesadaran, sedangkan eksternalisme menegaskan reliabilitas meski tanpa kesadaran penuh. Kedua perspektif ini menemukan padanannya dalam sains dan dalam cara manusia memahami wahyu.
Implikasi teologis dari analogi ini menegaskan keterbatasan sains sebagai penjelas tunggal realitas, serta membuka ruang bagi integrasi epistemologi ilmiah dan keyakinan religius. Dengan demikian, dari kuantum ke atomik, manusia belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus transparan, tetapi juga dapat hadir sebagai misteri yang reliabel—dan justru di situlah letak ruang dialog antara sains dan teologi.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب.
