INDRAMAYU — Barang siapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya. Bulan Muharrom yang merupakan salah satu bulan mulia dan memiliki berbagai keutamaan dan mempunyai sejarah penting dalam peradaban Islam. Disamping itu bulan Muharrom di kenal juga sebagai bulannya anak yatim, terlebih pada tanggal 10 Muharrom, yang mana tanggal tersebut di jadikan mementum untuk beramal soleh. Diantaranya berbagi dengan anak yatim dan mengusap kepalanya. “Jangan Sakiti Anak Yatim, Anak Yatim Harus Dikasih Sayangi”.
Kisah tragis, seorang anak yatim di bawah umur berinisial ZK (12), siswa kelas 5 SD asal Desa Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, harus menghadapi kenyataan pahit.
Ia digugat oleh kakek kandungnya sendiri dalam perkara sengketa tanah yang merupakan peninggalan almarhum ayahnya, Suparto.
Gugatan tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri (PN) Indramayu dan kini masih dalam proses persidangan.
Tanah yang menjadi objek sengketa adalah rumah tempat tinggal dan diketahui telah lama ditempati oleh ZK (anak yatim) bersama kakaknya Heryatno (20) dan ibu kandungnya, Rastiah (37).
Gugatan itu muncul, setelah ayahnya almarhum Suparto meninggal dunia setahun yang lalu.
Tokoh masyarakat Karangsong, Warhadi Papi menjelaskan, setelah Suparto meninggal, sang kakek dan sang nenek tega melayangkan gugatan terhadap tanah tersebut, yang selama ini menjadi tempat tinggal keluarga anak yatim sejak 2009 lalu.
Menurut Warhadi sesuai cerita ZK (anak yatim) dan Heryatno (kakak kandung ZK) mengungkapkan, bahwa bangunan rumah yang menjadi objek sengketa itu merupakan rumah peninggalan kedua orang tua mereka yang berada di Blok Wanasari Desa Karangsong.
Ia menyesalkan tindakan sang kakek dan nenek yang menggugat cucu kandung mereka sendiri.
“Bangunan ini milik almarhum bapak saya dan ibu saya. Saya sama adik tinggal di sini sejak saya umur 5 tahun, jadi sudah sekitar 15 tahun,” ujar Heryatno, kepada wartawan, Sabtu (6/7) dirumahnya.
Heryatno mengaku, selama ini hubungan keluarganya dengan sang kakek berjalan baik. Namun, tidak menyangka, sejak kakeknya mengadukan gugatan, keadaan berubah drastis dan membuatnya terpukul secara batin dan kehidupannya merana.
“Saya sangat menyayangkan. Kenapa kakek dan nenek tega banget sama cucunya sendiri. Sampai perkara ini dibawa ke pengadilan,” tambah Warhadi.
Dijelaskan Warhadi, sesuai data yang terungkap, tanah seluas hampir 200 meter itu awalnya di tahun 2028 dibeli oleh ayahnya ZK (almarhum Suprapto) senilai Rp 35 juta. Namun saat pembelian, uang yang digunakan ada dari bapaknya alm Suprapto yakni Kakek Kadi sebesar Rp 23 juta.
Setelah itu, pada tahun 2009, ayah ZK (alm Suprapto) membangun tanah tersebut hasil kerja jerih payah bersama istrinya Rastiah. Rumah yang dibangun itu diperkirakan habis Rp 300 juta pada masa itu.
Bangunan rumah tersebut letaknya strategis dekat TPI Karangsong, rumah tersebut juga dijadikan tempat jualan ikan bakar. Seiring perjalanan waktu, pada bulan Juli 2024 setahun yang lalu, Suprapto (ayah ZK) meninggal dunia dan meninggalkan kedua anak. ZK waktu itu masih berumur 11 tahun.
Malang mulai menimpa keluarga ZK. Setelah 3 hari ayahnya meninggal, tiba-tiba kakek dan neneknya mendatangi rumahnya, intinya agar penghuni dirumah tersebut untuk segera mengosongkan karena tanahnya di klaim milik kakeknya (Kadi)
“Cucuhnya ini mempertahankan, karena sepeninggal ayahnya tidak ada tempat lagi untuk berteduh. Karena tidak ada titik temu, selanjutnya cucunya digugat di Pengadilan Negeri (PN) Indramayu. Saya sangat prihatin, kenapa waktu ayahnya masih hidup tidak ada masalah, setelah meninggal dipersoalkan. Jujur, saya akan membela nasib anak yatim ini karena perlu perlindungan”, beber Warhadi.
Dirinya juga pernah melakukan mediasi sebelum ada gugatan, jika memang cucunya harus mengosongkan rumah yang belasan tahun ditempati, asal diganti rugi bangunannya yang dikabarkan habis 300 juta. Hal ini supaya mereka (anak yatim-red) ada rumah untuk berteduh.
“Atau jika kakek Kadi bersikeras, pihak cucunya juga sanggup memberikan pengganti uang kakeknya saat beli tanah Rp 25 juta di tahun 2008. Jika mau, uang sebesar Rp25 juta dapat hasil pinjaman dari orang yang peduli, termasuk dari saya,” jelas Warhadi yang ikhlas membantu dan rela menghubungi teman pengacaranya, Bapak Yopi SH untuk menjadi kuasa hukum keluarga ZK (anak yatim) guna mendampingi dalam persidangan di PN Indramayu.
Heryatno, kakak ZK berharap perkara ini bisa diselesaikan secara damai tanpa perlu berlarut-larut di meja hijau. Ia mengaku terbuka untuk berdamai demi kebaikan bersama.
“Saya ingin sekali masalah ini selesai secara damai. Supaya kami semua tenang, enggak terus berkepanjangan seperti ini,” ungkapnya.
Juru Bicara PN Indramayu, Adrian Anju Purba membenarkan adanya gugatan sengketa tanah yang melibatkan anak di bawah umur.
“Benar, di Pengadilan Negeri Indramayu saat ini sedang berlangsung perkara dengan tergugat ketiga atas nama ZK, yang teregistrasi dengan nomor perkara 34/Pdt.G/2025/PN Idm. Perkara ini telah disidangkan pertama kali pada 2 Juli 2025 dengan jenis gugatan perbuatan melawan hukum,” kata Adrian seperti yang di kutip inews.id.
Namun, dalam sidang perdana tersebut, pihak tergugat ketiga dalam hal ini ZK tidak bisa dihadirkan dalam ruangan sidang karena anak dibawah umur, sehingga majelis hakim menunda persidangan dan menjadwalkan agenda pramediasi.
“Sidang ditunda dan akan dilanjutkan pada 16 Juli 2025 untuk menunggu kelengkapan kehadiran para pihak,” ujarnya.
Adrian menjelaskan, mediasi juga belum dapat dilaksanakan karena masih menunggu kehadiran seluruh pihak yang bersengketa.
“Mediasi juga belum karena masih menunggu kelengkapan para pihak. Sidang perdana sudah digelar tanggal 2 Juli 2025,” katanya.
Terkait pendampingan anak selama proses hukum, Adrian menegaskan bahwa pengadilan tidak membatasi keterlibatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) jika diperlukan. “Dari pengadilan tidak ada larangan. Itu hak tergugat jika ingin didampingi, termasuk oleh KPAI,” tegasnya. (Taryam)

