INDRAMAYU — Bertempat di Kantor Balai Desa Krangkeng Kecamatan Krangkeng Kabupaten Indramayu, menggelar Lelang Tanah Titisara seluas 17 hektar untuk Musim Tanam 2026-2029 Senin (23/6/2025).
Tampak hadir pada moment tersebut, Forkopimcam Kecamatan Krangkeng Kuwu desa Krangkeng Mansur BMW serta masyarakat desa setempat.
Sebelum Lelang digelar, pemandu acara Julekah terlebih dahulu menyampaikan informasi yang berkaitan tentang lelang Tanah Titisara yang disampaikan oleh panitia lelang.
Menurut Kuwu Desa Krangkeng Mansur BMW, Dirinya lebih menitikberatkan tentang kehati-hatiannya kepada para peserta lelang untuk tidak saling panas-panasan dalam menentukan harga lelang.
“Sebaiknya dihitung dulu sebelum memutuskan harga lelang, jangan sampai harga lelangnya tinggi, tetapi setelah digarap hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan,” ujarnya.
Sementara itu Camat Krangkeng H. Suminta, S. Sos., Mengungkapkan, Lelang Tanah Titisara (TTS) hari ini diharapkan bisa berjalan dengan baik tanpa adanya gesekan dan panas-panasan. Hal yang sama juga disampaikan Ketua Panitia lelang, Aris berharap hasil panennya nanti menjadi bagus, harga ikan atau garam pun tinggi, sehingga pada gilirannya bisa dirasakan oleh pemenang lelang tersebut.
“Saya berharap semoga Empang hasil leleng nanti hasil panennya bagus, tapi jangan lupa bayar zakat ya, ujar Aris dengan nada gurau.
Aris mengungkapkan dana hasil lelang ini nantinya untuk pembangunan di desa yang bersangkutan, termasuk dana-dana lainnya yang digulirkan pemerintah, seperti AD-ADD- Banprov serta dana lainnya, itu semua untuk pembangunan desa.
“Saya berpesan agar Infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat harus lebih diutamakan,” ujarnya.
Peserta lelang yang diikuti 2 orang Yakni Khamza, dan Tohari Lelang dilakukan dengan cara terbuka.
Saat lelang berlangsung terlihat tampak seru, karena saling unggul-unggulan harga. Sehingga panitia menawarkan untuk dilakukan lelang tertutup.
Saat ditawarkan oleh panitia lelang, 2 peserta lelang musyawarah untuk dilakukan lelang tertutup, akhirnya oleh panitia, lelang terbuka diteruskan.
Namun seiring berjalannya lelang, nampaknya peserta lelang kembali saling menaikkan harga tinggi. Melihat kondisi itu panitia lelang kembali menawarkan lelang tertutup untuk kedua kalinya.
Akhirnya disetujui lelang tertutup, sekalipun salah satu peserta lelang Khamza kembali melakukan penolakan, namun ia harus mengalah karena satu peserta lelang lainnya sepakat untuk dilakukan lelang tertutup.
Pada akhirnya lelang tertutup diputuskan sebagai pemenang lelang Titisara desa Krangkeng atas nama Tohari dengan angka lelang tembus sebesar Rp1.005.000.000. mengalahkan satu peserta lelang lainnya yaitu Khamza dengan kekuatan angka Rp.1.000.000.000. (Satu milyar).
Sementara itu Lelang Titisarah ini menyisakan ketidakpuasan dari salah satu peserta lelang, Khamza Menurutnya, lelang Titisarah itu semestinya tetap dilakukan dengan cara terbuka, karena awalnya juga dilakukan secara terbuka.
Dalam pandangannya, kalau mau ada lelang tertutup, seharusnya panitia lelang menawarkan terlebih dahulu kepada peserta lelang sebelum lelang dilaksanakan. Ini mah lelang terbuka dan sudah berjalan, eh ditawarkan lelang tertutup. Ini kan tidak fer, “Seharusnya panitia lelang tetap saja melaksanakan lelang terbuka sampai ada pemenang lelang, bukan ujug-ujug dialihkan ke lelang tertutup, tandas Khamza kepada awak media dengan nada kecewa.
Terlepas adanya ketidakpuasan dari salah satu peserta lelang, berharap hasil lelang Tanah Titisarah ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk pembangunan didesa tersebut, bukan malah sebaliknya hasil lelang dimaksud dijadikan sebagai ajang bancakan.
Ketua Lelang Aris menambahkan, “Karena sejatinya Tanah Titisara itu adalah tanah asli milik desa yang berdasarkan asal usul-nya diperuntukkan sebagai dana untuk pembangunan desa. Alhamdulillah sekarang sudah dimusyawarahkan dan hasilnya berujung adil dan kondusif,”
tutup Aris. (Taryam)

