Oleh: Suhaeli Nawawi
Pengantar
INDRAMAYU — Pernahkah kita terdiam saat membaca doa yang dahulu begitu menggugah, namun kini terasa kering tanpa air mata? Atau mengingat hari bahagia seperti pernikahan, namun tak lagi merasakan detak jantung dan keharuan yang dahulu begitu nyata? Mengapa kita bisa mengingat kata-kata, tetapi tak lagi mampu menghadirkan rasa? Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar kita pada pencarian ilmiah mengenai perbedaan antara mengingat secara sadar dan merasakan secara mendalam. Artikel ini menawarkan penjelasan ilmiah atas fenomena tersebut dengan menggabungkan wawasan dari neuropsikologi, biologi hormon, dan pengalaman afektif manusia.
Dalam tradisi keagamaan, pengalaman afeksi yang mendalam sering kali dianggap sebagai bentuk keterhubungan spiritual yang melampaui logika. Ketika seseorang menangis dalam doa, sebagaimana dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya, … dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian lalu matanya berlinang air mata.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa air mata dalam doa bukanlah ekspresi biasa, melainkan pancaran dari kedalaman ruhani yang menyatu dengan emosi dan tubuh. Namun, dalam kenyataan, pengalaman spiritual seperti itu seringkali tidak dapat diulang begitu saja hanya dengan mengingatnya. Di sinilah ilmu saraf dan psikologi memberi kontribusi penting untuk memahami keterbatasan biologis dalam merekonstruksi pengalaman ruhaniah secara emosional.
Abstrak
Pertanyaan mengapa pengetahuan yang terlupakan relatif lebih mudah diingat kembali daripada pengalaman emosional yang mendalam, seperti rasa haru atau duka yang intens, membuka ruang kajian interdisipliner antara psikologi kognitif, neurologi, dan endokrinologi. Artikel ini membahas alasan biologis dan psikologis mengapa memori kognitif dan afektif bekerja dengan cara berbeda. Penjelasan difokuskan pada mekanisme neurohormonal yang terlibat dalam pengalaman afektif dan mengapa pengalaman tersebut sukar dihidupkan kembali secara utuh hanya melalui imajinasi atau ingatan.
Pendahuluan
Manusia adalah makhluk pengingat. Kita sering dengan mudah mengingat kembali fakta-fakta, peristiwa, atau tempat tertentu dalam kehidupan masa lalu kita. Namun, yang lebih sukar dilakukan adalah menghidupkan kembali emosi yang menyertainya secara autentik. Mengapa kita bisa mengingat kata-kata yang diucapkan di hari pernikahan, tetapi tidak lagi merasakan degup jantung, haru, atau tangis sebagaimana saat itu terjadi? Perbedaan ini menunjukkan adanya pemisahan relatif antara sistem kognitif dan sistem afektif dalam memori manusia.
Memori Kognitif vs Memori Afektif
Dalam kajian psikologi, memori dibagi menjadi beberapa jenis, dua di antaranya adalah memori deklaratif (eksplisit) dan memori emosional (implisit/afektif). Memori deklaratif mencakup fakta dan informasi yang bisa diungkapkan kembali secara sadar, seperti nama, tanggal, dan kejadian. Sementara itu, memori afektif melibatkan pengalaman emosional, yang kerap kali terekam dalam bentuk sensasi tubuh dan reaksi fisiologis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Peran Struktur Otak Secara neuroanatomi, memori deklaratif diproses dan disimpan terutama di hipokampus dan korteks prefrontal. Sebaliknya, memori emosional melibatkan struktur yang berbeda, terutama:
▪︎ Amygdala, pusat pemrosesan emosi, terutama ketakutan dan gairah emosional.
▪︎ Hipotalamus, yang mengatur respons hormonal sebagai reaksi atas stimulus emosional.
▪︎ Insula, yang berperan dalam kesadaran interoseptif (kesadaran atas kondisi internal tubuh seperti degupan jantung atau rasa mual).
Memori emosional lebih erat kaitannya dengan kondisi tubuh saat kejadian berlangsung. Oleh karena itu, pengalaman emosional yang kuat melibatkan seluruh sistem tubuh, termasuk detak jantung, pernapasan, dan ekspresi wajah.
Hormonalitas dan Emosi Hal yang membedakan paling signifikan antara memori kognitif dan afektif adalah keterlibatan hormon. Ketika seseorang mengalami pengalaman emosional yang kuat, sistem limbik akan memicu hipotalamus untuk mengaktifkan kelenjar adrenal, yang melepaskan hormon seperti:
▪︎ Adrenalin (epinefrin): Meningkatkan detak jantung, tekanan darah, dan energi.
▪︎ Kortisol: Hormon stres yang memperkuat pengkodean memori emosional.
▪︎ Oksitosin: Muncul dalam pengalaman afektif yang bersifat kasih sayang atau kelekatan, misalnya saat pernikahan atau kehilangan orang tua.
Hormon-hormon ini tidak hanya memperkuat memori pada saat kejadian, tetapi juga memediasi sensasi tubuh dan emosi aktual. Ketika kita mencoba mengingat kembali pengalaman afektif tanpa situasi yang sama, sistem hormonal tersebut tidak otomatis aktif, atau jika aktif, hanya sebagian. Inilah yang menyebabkan emosi sulit dihidupkan kembali secara autentik dibandingkan dengan pengetahuan atau informasi kognitif.
Contoh: Doa dan Air Mata yang Tidak Lagi Mengalir Salah satu contoh konkret yang sering dialami banyak orang adalah doa dalam kondisi sangat emosional, misalnya ketika memohon keselamatan orang tua yang sedang kritis, atau ketika pertama kali merasa dekat dengan Tuhan secara spiritual—doa yang pada waktu itu diiringi linangan air mata, dada sesak oleh haru, bahkan tubuh gemetar.
Namun, ketika doa yang sama dibaca ulang di kemudian hari—meskipun kata-katanya persis sama, dan niatnya tetap suci—air mata tidak serta-merta mengalir. Sensasi spiritual itu seolah telah surut, dan yang tersisa hanya kata-kata kosong. Ini bukan karena seseorang menjadi kurang tulus, tetapi karena mekanisme tubuh dan hormon saat itu tidak lagi aktif, tidak dapat sepenuhnya direkonstruksi oleh pikiran saja.
Fenomena ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Az-Zumar: 23, “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah…”
Ayat ini menunjukkan bahwa efek spiritual (afektif) dari ayat-ayat suci tidak hanya mengenai akal (kognisi), tetapi juga menyentuh tubuh—kulit, hati, dan sistem biologis secara menyeluruh.
Kesimpulan
Perbedaan antara memori kognitif dan afektif terletak pada sistem biologis yang menopangnya. Sementara pengetahuan dapat disimpan dan dipanggil kembali melalui sistem saraf pusat, pengalaman emosional bergantung pada respon tubuh secara keseluruhan, termasuk sistem hormonal. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika rasa kehilangan yang mendalam, cinta pertama, atau doa penuh linangan air mata hanya bisa dikenang secara kognitif, tetapi tidak bisa dirasakan secara penuh tanpa konteks fisiologis yang menyertainya.
Daftar Pustaka: ….
