INDRAMAYU — PERTANYAAN
A mengancam B akan membuka rahasia perselingkuhannya kepada istrinya, jika tidak menandatangani surat jual beli rumah dengan si A. Pertanyaan saya:
- apakan perjanjian tersebut dianggap sah?
- adakah akibat hukumnya?
Atas jawabannya diucapkan terimakasih dan untuk team ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kesuksesan. Aamiin..
Rizal-Bakso Kuah – Tambi
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
ˢᵘᵃᵗᵘ ᵖᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵇᵘᵃᵗ ᵒˡᵉʰ ᵈᵃⁿ ᵃⁿᵗᵃʳᵃ ᵖᵃʳᵃ ᵖⁱʰᵃᵏ ʰᵃʳᵘˢ ᵐᵉᵐᵉⁿᵘʰⁱ ˢʸᵃʳᵃᵗ-ˢʸᵃʳᵃᵗ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵉʳˢⁱᶠᵃᵗ ˡⁱᵐⁱᵗᵃᵗⁱᶠ ˢᵉᵇᵃᵍᵃⁱᵐᵃⁿᵃ ᵏᵉᵗᵉⁿᵗᵘᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ¹³²⁰ ᴷᵁᴴ ᴾᵉʳᵈᵃᵗᵃ ʸᵃⁱᵗᵘ:
- ᵃᵈᵃⁿʸᵃ ᵏᵉˢᵉᵖᵃᵏᵃᵗᵃⁿ (ᶜᵒⁿˢᵉⁿˢᵘˢ);
- ᵖᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ʰᵃʳᵘˢ ᵈⁱᵇᵘᵃᵗ ᵒˡᵉʰ ᵒʳᵃⁿᵍ ʸᵃⁿᵍ ᶜᵃᵏᵃᵖ;
- ᵒᵇʲᵉᵏ ᵖᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ʰᵃʳᵘˢ ʲᵉˡᵃˢ ᵃᵗᵃᵘ ᵗᵉʳᵗᵉⁿᵗᵘ;
- ᵖᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ⁱᵗᵘ ᵐᵉᵐⁱˡⁱᵏⁱ ˢᵉᵇᵃᵇ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵖᵉʳᵇᵒˡᵉʰᵏᵃⁿ.
ᴾᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ᵗᵉᵏᵃⁿᵃⁿ ᵐᵉʳᵘᵖᵃᵏᵃⁿ ᵇᵉⁿᵗᵘᵏ ᵖᵉⁿʸᵃˡᵃʰᵍᵘⁿᵃᵃⁿ ᵏᵉᵃᵈᵃᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵉʳᵃᵗ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ˢʸᵃʳᵃᵗ ˢᵘᵇʲᵉᵏᵗⁱᶠ ᵖᵉʳʲᵃⁿʲⁱᵃⁿ ˢᵉʰⁱⁿᵍᵍᵃ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵐⁱⁿᵗᵃᵏᵃⁿ ᵖᵉᵐᵇᵃᵗᵃˡᵃⁿ ᵏᵉ ᵖᵉⁿᵍᵃᵈⁱˡᵃⁿ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Syarat Sah Perjanjian
P͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ K͟o͟n͟t͟r͟a͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ h͟a͟s͟i͟l͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ p͟a͟r͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟h͟o͟r͟m͟a͟t͟i͟ d͟a͟n͟ d͟i͟p͟a͟t͟u͟h͟i͟ o͟l͟e͟h͟ p͟a͟r͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ b͟e͟r͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ k͟͟͟͟͟o͟͟͟͟͟n͟͟͟͟͟t͟͟͟͟͟r͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟k͟͟͟͟͟/p͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟j͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟j͟͟͟i͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[¹] Maka dari itu, suatu perjanjian yang dirancang harus mengacu pada asas proporsional, yang mana dalam penuangan suatu kesepakatan itu haruslah berdasarkan hasil sepakat akan tujuan yang sama (consensus ad idem).[²]
Menurut Herlien Budiono, pengujian suatu kontrak harus meliputi 3 aspek penting yaitu:[³]
- tindakan para pihak;
- isi perjanjian; dan
- implementasi atas apa yang sudah disepakati.
Namun demikian, bukan berarti setelah terjadinya kesepakatan, suatu perjanjian menjadi mengikat secara mutlak bagi mereka yang telah menandatanganinya. Dalam praktiknya, a͟d͟a͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ k͟e͟c͟a͟c͟a͟t͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟d͟͟i͟͟, d͟i͟m͟a͟n͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ i͟s͟t͟i͟l͟a͟h͟ h͟u͟k͟u͟m͟ l͟e͟b͟i͟h͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟l͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ c͟a͟c͟a͟t͟ k͟e͟h͟e͟n͟d͟a͟k͟ (w͟i͟l͟s͟g͟e͟b͟r͟e͟k͟), yang dapat terjadi karena adanya ancaman/paksaan (bedreiging, dwang), kekeliruan/kesesatan/kekhilafan (dwaling), penipuan (bedrog).[⁴]
Selanjutnya, menjawab pertanyaan Anda terkait dengan perjanjian atau surat jual beli rumah yang ditandatangani B yang berada di bawah ancaman A, maka perlu diperhatikan terlebih dahulu syarat sahnya suatu perjanjian.
Perjanjian menurut Pasal 1313 KUH Perdata adalah suatu perbuatan dengan mana satu pihak atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.[⁵] Suatu perjanjian yang dibuat oleh dan antara para pihak harus memenuhi syarat-syarat yang bersifat limitatif sebagaimana ketentuan Pasal 1320 KUH Perdata yaitu:
- sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;
- kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
- suatu hal tertentu;
- suatu sebab yang halal (diperbolehkan).
Syarat 1 dan 2 merupakan syarat subjektif yaitu tentang subjek yang mengadakan perjanjian. Sedangkan, syarat 3 dan 4 merupakan syarat objektif yaitu tentang objek perjanjian. J͟i͟k͟a͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟t͟i͟f͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟ m͟a͟k͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟a͟t͟a͟l͟k͟a͟n͟ (vernietigbaar), sedangkan t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟n͟y͟a͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ o͟b͟j͟e͟k͟t͟i͟f͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ b͟a͟t͟a͟l͟ d͟e͟m͟i͟ h͟u͟k͟u͟m͟ (n͟i͟e͟t͟i͟g͟).[⁶]
Penyalahgunaan Keadaan dalam Membuat Perjanjian
Dalam Pasal 1320 KUH Perdata tersebut terkandung asas konsensualisme, yaitu diperlukannya kesepakatan (toestemming) untuk lahirnya perjanjian. Kesepakatan dalam Pasal 1320 KUH Perdata tidak disertai dengan tuntutan formalitas apapun, sehingga dapat disimpulkan bahwa a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ s͟u͟d͟a͟h͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ k͟a͟t͟a͟ s͟͟e͟͟p͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ s͟͟a͟͟h͟͟.[⁷]
Para pihak juga diberikan suatu kebebasan untuk mengadakan perjanjian, dimana syarat-syarat perjanjian yang perlu ditentukan dan diperjanjikan dapat bebas untuk disepakati. Hal ini merupakan implementasi dari asas kebebasan berkontrak (freedom of contract).[⁸] Pada prinsipnya, k͟e͟b͟e͟b͟a͟s͟a͟n͟ b͟e͟r͟k͟o͟n͟t͟r͟a͟k͟ h͟a͟r͟u͟s͟ j͟u͟g͟a͟ d͟i͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ k͟e͟d͟u͟a͟ b͟e͟l͟a͟h͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟͟͟a͟͟͟͟m͟͟͟͟a͟͟͟͟ k͟͟u͟͟a͟͟t͟͟, y͟a͟k͟n͟i͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟s͟e͟i͟m͟b͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟o͟s͟i͟s͟i͟ t͟a͟w͟a͟r͟ (b͟a͟r͟g͟a͟i͟n͟i͟n͟g͟ p͟͟o͟͟s͟͟i͟͟t͟͟i͟͟o͟͟n͟͟) y͟a͟n͟g͟ s͟͟a͟͟m͟͟a͟͟.[⁹]
A͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟p͟a͟k͟s͟a͟ atau d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ d͟i͟ m͟a͟n͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟w͟a͟n͟n͟y͟a͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ p͟s͟i͟k͟o͟l͟o͟g͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ k͟u͟a͟t͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟a͟k͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ k͟͟e͟͟a͟͟d͟͟a͟͟a͟͟n͟͟.
Penyalahgunaan keadaan tidak semata berkaitan dengan isi perjanjian yang tidak berimbang. J. Satrio mengemukakan bahwa memanfaatkan keadaan orang lain, bukan berarti isi dan tujuan perjanjian tidak sah, namun P͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ b͟͟e͟͟b͟͟a͟͟s͟͟. Oleh karena itu, permasalahannya bukan terletak pada “kausa/sebab” yang dilarang, melainkan pada c͟a͟c͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟͟e͟͟h͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟, c͟a͟r͟a͟ “m͟͟͟e͟͟͟m͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟” p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ “y͟a͟n͟g͟ disalahgunakan”.[¹⁰]
Meski mengenai “penyalahgunaan keadaan” (misbruik van omstandigheden) belum jelas diatur dalam KUH Perdata, namun alasan-alasan kebatalan suatu perjanjian dapat dilihat dalam Pasal 1322 tentang kekhilafan, Pasal 1323 tentang paksaan, dan Pasal 1328 tentang penipuan.
Konstruksi penyalahgunaan keadaan sebagai cacat kehendak membawa konsekuensi bahwa perjanjian dapat dimohonkan pembatalannya (vernietigbaar) kepada hakim oleh pihak yang dirugikan. S͟e͟p͟a͟n͟j͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ b͟e͟l͟u͟m͟ d͟͟i͟͟b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟l͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟p͟ m͟e͟n͟g͟i͟k͟a͟t͟ p͟a͟r͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟a͟͟t͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Tuntutan pembatalan dapat dilakukan untuk sebagian atau seluruhnya dari isi perjanjian.
Mengenai penyalahgunaan keadaan dalam konteks perjanjian, terdapat dua macam penyalahgunaan keadaan yaitu:[¹¹]
- Seseorang menggunakan posisi psikologis dominannya menekan pihak yang lemah agar pihak tersebut menyetujui perjanjian yang sebenarnya tidak ingin menyetujuinya.
- Seseorang menggunakan wewenang kedudukan dan kepercayaannya untuk membujuk pihak lain agar melakukan transaksi.
Oleh sebab itu, dapat disimpulkan bahwa penyalahgunaan keadaan erat kaitannya dengan syarat subjektif perjanjian. Sehingga, s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟u͟a͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ dibukanya rahasia perselingkuhan salah satu pihak, maka d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟a͟t͟e͟g͟o͟r͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟a͟k͟s͟a͟a͟n͟ sebagaimana diatur dalam Pasal 1324 KUH Perdata. Ini karena dalam hal pemberian persetujuan atas jual beli rumah tersebut, si B berada dalam keadaan yang tidak bebas. Hal ini disebut dengan misbruik van omstandigheden (penyalahgunaan keadaan).
Sahkah Perjanjian di Bawah Tekanan?
Dengan demikian, p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ t͟e͟k͟a͟n͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ t͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟ p͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟l͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟i͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟n͟y͟a͟ d͟a͟r͟i͟ i͟s͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟n͟͟j͟͟i͟͟a͟͟n͟͟. Hal ini karena tekanan atau ancaman merupakan penyalahgunaan keadaan sebagai cacat kehendak yang menyebabkan perjanjian dapat dimohonkan pembatalannya (vernietigbaar) kepada hakim oleh pihak yang dirugikan.
Pasal 1321 KUH Perdata pada pokoknya mengatur bahwa tidak ada suatu persetujuan yang mempunyai kekuatan jika diberikan karena kekhilafan atau diperoleh dengan paksaan atau penipuan. Artinya, p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ t͟e͟k͟a͟n͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟a͟k͟s͟a͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟k͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
Adapun yang dimaksud dengan paksaan menurut Pasal 1324 KUH Perdata adalah sebagai berikut:
- Paksaan terjadi, bila tindakan itu sedemikian rupa sehingga memberi kesan dan dapat menimbulkan ketakutan pada orang yang berakal sehat, bahwa dirinya, orang-orangnya, atau kekayaannya, terancam rugi besar dalam waktu dekat. Dalam pertimbangan hal tersebut, harus diperhatikan usia, jenis kelamin dan kedudukan orang yang bersangkutan.
Lebih lanjut, praktik peradilan telah menerima penyalahgunaan keadaan sebagai salah satu alasan pembatalan perjanjian selain syarat sah perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata.
Dalam Yurisprudensi MA No. 3666 K/PDT/1992 tanggal 26 Oktober 1994 dinyatakan bahwa keadaan ekonomi yang lemah dari salah satu pihak digunakan oleh pihak lawan untuk melakukan tindakan hukum yang merugikan menguntungkan dirinya, sehingga terjadi penyalahgunaan keadaan dan tindakan hukum tersebut dinyatakan batal.
Oleh sebab itu, k͟o͟n͟d͟i͟s͟i͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟͟e͟͟k͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟/i͟n͟t͟i͟m͟i͟d͟a͟s͟i͟ d͟a͟r͟i͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟, m͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟b͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟j͟a͟n͟j͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟u͟a͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟b͟a͟t͟a͟l͟k͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ k͟e͟h͟e͟n͟d͟a͟k͟ b͟e͟b͟a͟s͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ k͟͟e͟͟s͟͟e͟͟p͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟.
Kesimpulannya, perjanjian jual beli yang dilakukan antara si A dan si B dapat dimintakan pembatalannya oleh si B sebagai pihak yang dirugikan karena tidak terpenuhinya syarat subjektif dari syarat sah perjanjian, yaitu adanya sepakat para pihak. Nantinya, hakim berwenang memutus surat atau perjanjian jual beli rumah dinyatakan batal dan tidak mengikat secara hukum karena dibuat berdasarkan penyalahgunaan keadaan.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
P͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟:
Yurisprudensi MA RI Nomor 3666 K/PDT 1992.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Keabsahan Perjanjian yang Dibuat di Bawah Ancaman yang dibuat oleh Letezia Tobing, S.H., M.Kn., dan pertama kali dipublikasikan pada 23 April 2013. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Sahkah Perjanjian di Bawah Tekanan? Pada tanggal 24 Desember 2024. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 04 Mei 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

