INDRAMAYU — PERTANYAAN
Pada kasus pemerkosaan dokter PPDS Unpad terhadap anak pasien dengan korban dibius, pelaku dan keluarga korban disebut telah menandatangani kesepakatan damai. Jika sudah terdapat kesepakatan damai, apakah kasus pelecehan seksual bisa diselesaikan secara damai? Jika ada kemungkinan damai, apakah proses di kepolisian tidak dilanjutkan?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih dan untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kesuksesan. Aamiin.
Nono – RTH Jatibarang
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
ᴾᵉᵐᵉʳᵏᵒˢᵃᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵉʳᵘᵖᵃᵏᵃⁿ ˢᵃˡᵃʰ ˢᵃᵗᵘ ᵇᵉⁿᵗᵘᵏ ᵀⁱⁿᵈᵃᵏ ᴾⁱᵈᵃⁿᵃ ᴷᵉᵏᵉʳᵃˢᵃⁿ ˢᵉᵏˢᵘᵃˡ (“ᵀᴾᴷˢ”) ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖᵉⁿʸᵉˡᵉˢᵃⁱᵃⁿ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃⁿʸᵃ ᵐᵉʳᵘʲᵘᵏ ᵖᵃᵈᵃ ᵏᵉᵗᵉⁿᵗᵘᵃⁿ ᴾᵃˢᵃˡ ²³ ᵁᵁ ᵀᴾᴷˢ. ᴾᵃˢᵃˡ ᵗᵉʳˢᵉᵇᵘᵗ ᵐᵉⁿᵉʳᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ᵇᵃʰʷᵃ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃ ᵀᴾᴷˢ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵖᵉⁿʸᵉˡᵉˢᵃⁱᵃⁿ ᵈⁱ ˡᵘᵃʳ ᵖʳᵒˢᵉˢ ᵖᵉʳᵃᵈⁱˡᵃⁿ, ᵏᵉᶜᵘᵃˡⁱ ᵗᵉʳʰᵃᵈᵃᵖ ᵖᵉˡᵃᵏᵘ ᵃⁿᵃᵏ ˢᵉᵇᵃᵍᵃⁱᵐᵃⁿᵃ ᵈⁱᵃᵗᵘʳ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵘⁿᵈᵃⁿᵍ-ᵘⁿᵈᵃⁿᵍ.
ᴶᵃᵈⁱ, ʷᵃˡᵃᵘᵖᵘⁿ ˢᵘᵈᵃʰ ᵃᵈᵃ ᵏᵉˢᵉᵖᵃᵏᵃᵗᵃⁿ ᵈᵃᵐᵃⁱ ᵃⁿᵗᵃʳᵃ ᵖᵉˡᵃᵏᵘ ᵈᵃⁿ ᵏᵒʳᵇᵃⁿ, ᵖᵉⁿᵃⁿᵍᵃⁿᵃⁿ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃ ᵀᴾᴷˢ ᵗᵉᵗᵃᵖ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵐᵉⁿᵍᵍᵘⁿᵃᵏᵃⁿ ᵖᵉⁿᵈᵉᵏᵃᵗᵃⁿ ᴿᵉˢᵗᵒʳᵃᵗⁱᶠ. ᴼˡᵉʰ ᵏᵃʳᵉⁿᵃ ⁱᵗᵘ, ᵖᵉˡᵃᵏᵘ ʰᵃʳᵘˢ ᵗᵉᵗᵃᵖ ᵐᵉˡᵃᵏˢᵃⁿᵃᵏᵃⁿ ᵖᵉʳᵗᵃⁿᵍᵍᵘⁿᵍʲᵃʷᵃᵇᵃⁿ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵃᵗᵃˢ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ʸᵃⁿᵍ ˢᵘᵈᵃʰ ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ˢᵉʳᵗᵃ ᵐᵉˡᵃⁿʲᵘᵗᵏᵃⁿ ᵖʳᵒˢᵉˢ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵗᵉⁿᵍᵃʰ ᵈⁱʲᵃˡᵃⁿⁱ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023.
Keadilan Restoratif
Perlu diketahui sebelumnya, m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ u͟p͟a͟y͟a͟ d͟a͟m͟a͟i͟ d͟i͟s͟i͟n͟i͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟d͟e͟k͟a͟t͟a͟n͟ r͟e͟s͟t͟o͟r͟a͟t͟i͟v͟e͟ j͟u͟s͟t͟i͟c͟e͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟͟e͟͟s͟͟t͟͟o͟͟r͟͟a͟͟t͟͟i͟͟f͟͟. Hafrida dan Usman dalam bukunya Keadilan Restoratif (Restorative Justice) dalam Sistem Peradilan Pidana (hal. 1) m͟e͟n͟d͟e͟f͟i͟n͟i͟s͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟e͟s͟t͟o͟r͟a͟t͟i͟f͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟n͟d͟e͟k͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ k͟e͟t͟e͟r͟l͟i͟b͟a͟t͟a͟n͟ b͟a͟n͟y͟a͟k͟ p͟i͟h͟a͟k͟ seperti pihak pelaku/keluarganya, korban/keluarganya dan kelompok masyarakat terkait.
Masih dalam buku yang sama, keadilan restoratif merupakan suatu prinsip dalam penyelesaian perkara pidana yang berfokus pada m͟e͟m͟p͟e͟r͟b͟a͟i͟k͟i͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟l͟a͟m͟i͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟, m͟e͟m͟i͟n͟t͟a͟ p͟͟e͟͟r͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟n͟͟g͟͟j͟͟a͟͟w͟͟a͟͟b͟͟a͟͟n͟͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ a͟t͟a͟s͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟/k͟e͟r͟u͟s͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ p͟͟e͟͟r͟͟b͟͟u͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. (hal. 1)
Menyambung pertanyaan Anda, penanganan tindak pidana dengan pendekatan keadilan restoratif pada kasus Anda terjadi pada tahap penyidikan atau penyelidikan oleh polisi. T͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ h͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ K͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ N͟e͟g͟a͟r͟a͟ R͟e͟p͟u͟b͟l͟i͟k͟ I͟n͟d͟o͟n͟e͟s͟i͟a͟ (“P͟͟͟o͟͟͟l͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟”) m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ i͟n͟t͟e͟r͟n͟a͟l͟ t͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟e͟s͟t͟o͟r͟a͟t͟i͟f͟ y͟a͟i͟t͟u͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟e͟r͟p͟o͟l͟ 8/2021.
Dalam Perpol 8/2021, keadilan restoratif diartikan sebagai penyelesaian tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku, keluarga korban, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat atau pemangku kepentingan untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil melalui perdamaian dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula.[¹]
Penanganan tindak pidana berdasarkan keadilan restoratif pada kegiatan penyelidikan atau penyidikan dilakukan oleh penyidik Polri dan dapat dilakukan penghentian penyelidikan atau penyidikan dalam hal terjadi penanganan tindak pidana berdasarkan keadilan restoratif.[²]
Penanganan tindak pidana berdasarkan keadilan restoratif ini harus memenuhi persyaratan umum dan/atau khusus.[³] Persyaratan umum diatur dalam Pasal 4 Perpol 8/2021, yang meliputi:
1. Syarat materiil, yang terdiri dari:[⁴]
a. tidak menimbulkan
keresahan dan/atau
penolakan dari
masyarakat;
b. tidak berdampak
konflik sosial;
c. tidak berpotensi
memecah belah
bangsa;
d. tidak bersifat
radikalisme dan
separatisme;
e. bukan pelaku
pengulangan tindak
pidana berdasarkan
putusan pengadilan;
dan
f. bukan tindak pidana
terorisme, tindak
pidana terhadap
keamanan negara,
tindak pidana
korupsi dan tindak
pidana terhadap
nyawa orang.
2. Syarat formil, yang terdiri dari:[⁵]
a. perdamaian dari
kedua belah pihak
yang dibuktikan
dengan surat
kesepakatan
perdamaian dan
ditandatangani oleh
para pihak,[⁶] kecuali
untuk tindak pidana
narkoba; dan
b. pemenuhan hak-hak
korban dan
tanggung jawab
pelaku seperti
pengembalian
barang, ganti rugi,
mengganti biaya
yang ditimbulkan,
dan/atau mengganti
kerusakan akibat
tindak pidana.[⁷]
Namun, hal ini tidak
berlaku untuk tindak
pidana narkoba.
Adapun, persyaratan khusus pelaksanaan keadilan restoratif merujuk pada ketentuan Pasal 7 Perpol 8/2021, yang merupakan persyaratan tambahan untuk tindak pidana informasi dan transaksi elektronik, narkoba, dan lalu lintas. Selengkapnya mengenai persyaratan khusus, dapat Anda temukan dalam Pasal 8 s.d Pasal 10 Perpol 8/2021.
Lantas, apakah kekerasan seksual bisa di- restorative justice?
Apakah Kasus Kekerasan Seksual Bisa Diselesaikan Secara Damai?
Dalam menjawab pertanyaan Anda, mengenai apakah kasus pelecehan seksual atau kekerasan seksual bisa diselesaikan secara damai, m͟a͟k͟a͟ h͟a͟r͟u͟s͟ m͟e͟r͟u͟j͟u͟k͟ p͟a͟d͟a͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟ d͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ h͟i͟e͟r͟a͟r͟k͟i͟s͟ l͟e͟b͟i͟h͟ t͟i͟n͟g͟g͟i͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ (“TPKS”) yaitu UU TPKS. Hal ini b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟ p͟a͟d͟a͟ a͟s͟a͟s͟ l͟e͟x͟ s͟u͟p͟e͟r͟i͟o͟r͟ d͟e͟r͟o͟g͟a͟t͟e͟ l͟e͟b͟i͟h͟ i͟n͟f͟e͟r͟i͟o͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ t͟i͟n͟g͟g͟i͟ m͟e͟n͟g͟e͟s͟a͟m͟p͟i͟n͟g͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟e͟b͟i͟h͟ r͟͟e͟͟n͟͟d͟͟a͟͟h͟͟.
Dalam penyelesaian perkara TPKS, dapat merujuk pada Pasal 23 UU TPKS, yang berbunyi:
- Perkara Tindak Pidana Kekerasan Seksual tidak dapat dilakukan penyelesaian di luar proses peradilan, kecuali terhadap pelaku anak sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Berdasarkan pasal di atas, dapat disimpulkan bahwa walaupun sudah terdapat kesepakatan damai antara pelaku dan korban serta perkara TPKS b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ dalam Perpol 8/2021.
Oleh karena p͟e͟m͟e͟r͟k͟o͟s͟a͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ T͟͟P͟͟K͟͟S͟͟, [⁸] M͟a͟k͟a͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ u͟p͟a͟y͟a͟ d͟a͟m͟a͟i͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟e͟n͟d͟e͟k͟a͟t͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ r͟͟e͟͟s͟͟t͟͟o͟͟r͟͟a͟͟t͟͟i͟͟f͟͟, k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟ j͟i͟k͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟n͟y͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟.
Pendekatan keadilan restoratif hanya dapat dilakukan terhadap anak k͟a͟r͟e͟n͟a͟ a͟n͟a͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟͟e͟͟r͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Selain itu, a͟n͟a͟k͟ b͟e͟l͟u͟m͟ m͟a͟m͟p͟u͟ b͟e͟r͟p͟i͟k͟i͟r͟ j͟e͟r͟n͟i͟h͟ a͟t͟a͟s͟ a͟p͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟o͟l͟e͟h͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟.
Oleh karena itu, a͟d͟a͟n͟y͟a͟ k͟e͟s͟e͟p͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟m͟a͟i͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟o͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟p͟u͟s͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟. Masih dalam artikel yang sama, hal ini karena keadilan restoratif bukan merupakan alternatif sistem peradilan pidana, melainkan berguna untuk keperluan melengkapi peradilan pidana yang kurang komplit mengenai hak korban, maka dari itu keadilan restoratif tidak menghapus hukum pidana yang ada.
Pemerkosaan Terhadap Wanita yang Tidak Berdaya
Adapun sanksi pidana yang dapat dijerat terhadap pelaku pemerkosaan pada kasus yang Anda tanyakan dapat melihat pada aturan KUHP lama yang pada saat artikel ini diterbitkan masih berlaku dan UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[⁹] yaitu tahun 2026. Selain itu, dapat juga melihat pada ketentuan UU TPKS.
Dalam KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP baru, tindak pidana pemerkosaan terhadap wanita tidak berdaya dapat merujuk pada Pasal 286 KUHP lama dan Pasal 473 UU 1/2023, sebagai berikut:
Pasal 286 KUHP
- Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama 9 tahun.
Pasal 473 ayat (1) dan (2) UU 1/2023
- (1) Setiap orang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya, dipidana karena perkoasan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
- (2) Termasuk tindak pidana perkosaan dan dipidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi perbuatan:
a. persetubuhan
dengan seseorang
dengan
persetujuannya,
karena orang
tersebut percaya
bahwa orang itu
merupakan suami
istrinya yang sah;
b. persetubuhan
dengan anak;
c. persetubuhan
dengan seseorang,
padahal diketahui
bahwa orang lain
tersebut dalam
keadaan pingsan
atau tidak
berdaya; atau
d. persetubuhan
dengan penyandang
disabilitas mental
dan/atau disabilitas
intelektual dengan
memberi atau
menjanjikan uang
atau Barang,
menyalahgunakan
wibawa yang timbul
dari hubungan
keadaan, atau
dengan penyesatan
menggerakkannya
untuk melakukan
atau membiarkan
dilakukan
persetubuhan
dengannya, padahal
tentang keadaan
disabilitas itu
diketahui.
Penjelasan selengkapnya terhadap pasal di atas dapat Anda temukan pada Kasus Viral “Vina” Apakah Dikategorikan Dalam Pasal 286 KUHP.
Selain KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP baru, menurut hemat kami, seorang dokter yang melakukan pemerkosaan terhadap keluarga pasien dapat dijerat dengan ketentuan Pasal 6 huruf c UU TPKS yang menyatakan bahwa dipidana karena pelecehan seksual fisik setiap orang yang m͟e͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟d͟͟u͟͟d͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, w͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟a͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟ d͟a͟r͟i͟ t͟i͟p͟u͟ m͟u͟s͟l͟i͟h͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, ketidaksetaraan atau ketergantungan seseorang, memaksa atau dengan penyesatan menggerakkan orang itu untuk melakukan atau membiarkan dilakukan persetubuhan atau perbuatan cabul dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp300 juta.
Jika kekerasan seksual atau pemerkosaan tersebut dilakukan pelaku kepada korban dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, maka, berdasarkan Pasal 15 ayat (1) huruf b dan j UU TPKS, s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ d͟i͟t͟a͟m͟b͟a͟h͟ 1/3.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada umumnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2021 tentang Penanganan Tindak Pidana Berdasarkan Keadilan Restoratif.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Bisakah Kasus Kekerasan Seksual Diselesaikan secara Damai? pada tanggal 15 April 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 29 Mei 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

