INDRAMAYU — Pertanyaan:
Saya seorang wartawan dimedia Online, yang setiap hari menulis berita untuk para pembaca. Didalam setiap tulisan yang saya realis terkadang menyisipkan kata-kata milik orang lain untuk membubuhi berita tersebut agar enak dibacanya dan tidak membosankan. Semisal, menyelipkan pengalaman, cuplikan kata-kata, motivasi atau kutipan tulisan orang lain. Mohon petunjuknya bagaimana caranya agar berita yang saya tulis tidak melanggar hak cipta milik orang lain, tidak dicap seorang plagiat dan agar terhindar dari ancaman pidana plagiarisme. Terimakasih.
Toha – Pantura Journalist
••••••••••••••••••••••••••••••••
“Intisari Jawaban”
ᴬᵍᵃʳ ᵗᵉʳʰⁱⁿᵈᵃʳ ᵈᵃʳⁱ ᵖˡᵃᵍⁱᵃʳⁱˢᵐᵉ, ᵇᵉᵇᵉʳᵃᵖᵃ ᵗⁱᵖˢ ᵇᵉʳⁱᵏᵘᵗ ᵖᵉʳˡᵘ ᵈⁱⁱⁿᵍᵃᵗ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵐᵉⁿᵘˡⁱˢ:
a. ᵀᵘˡⁱˢ ᵏᵃʳʸᵃ ʸᵃⁿᵍ ᴬⁿᵈᵃ
ᵏᵘᵗⁱᵖ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵇᵉⁿᵗᵘᵏ
ᵏᵘᵗⁱᵖᵃⁿ ˡᵃⁿᵍˢᵘⁿᵍ, ᵈᵃˡᵃᵐ
ᵗᵃⁿᵈᵃ ᵖᵉᵗⁱᵏ “…”
(ᵠᵘᵒᵗᵃᵗⁱᵒⁿ ᵐᵃʳᵏˢ)
ˢᵉᶜᵃʳᵃ ᵘᵗᵘʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ
ᵐᵉⁿʸᵉᵇᵘᵗ ˢᵘᵐᵇᵉʳⁿʸᵃ ᵇᵃⁱᵏ
ᵈᵃˡᵃᵐ ᵗᵉᵏˢ, ᵈⁱ ᶜᵃᵗᵃᵗᵃⁿ
ᵏᵃᵏⁱ ᵈᵃⁿ ᵈⁱ ᵃᵏʰⁱʳ ᵏᵃʳʸᵃ
ᵗᵘˡⁱˢ ᵇᵉʳᵘᵖᵃ ᵈᵃᶠᵗᵃʳ
ᵖᵘˢᵗᵃᵏᵃ. ᵁⁿᵗᵘᵏ
ᵖᵉⁿᵍᵘᵗⁱᵖᵃⁿ ᵏᵃʳʸᵃ ᵗᵘˡⁱˢ,
ᵖᵉⁿʸᵉᵇᵘᵗᵃⁿ ᵃᵗᵃᵘ
ᵖᵉⁿᶜᵃⁿᵗᵘᵐᵃⁿ ˢᵘᵐᵇᵉʳ
ᵏᵃʳʸᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵏᵘᵗⁱᵖ ʰᵃʳᵘˢ
ᵈⁱˡᵃᵏᵘᵏᵃⁿ ˢᵉᶜᵃʳᵃ ˡᵉⁿᵍᵏᵃᵖ
ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵐᵉⁿᶜᵃⁿᵗᵘᵐᵏᵃⁿ
ˢᵉᵏᵘʳᵃⁿᵍ-ᵏᵘʳᵃⁿᵍⁿʸᵃ ⁿᵃᵐᵃ
ᵖᵉⁿᶜⁱᵖᵗᵃ, ʲᵘᵈᵘˡ ᵃᵗᵃᵘ ⁿᵃᵐᵃ
ᶜⁱᵖᵗᵃᵃⁿ, ⁿᵃᵐᵃ ᵖᵉⁿᵉʳᵇⁱᵗ
ʲⁱᵏᵃ ᵃᵈᵃ;
b.ᴶⁱᵏᵃ ᵐᵉⁿᵍᵃᵐᵇⁱˡ ⁱᵈᵉ ᵈᵃʳⁱ
ᵗᵘˡⁱˢᵃⁿ ᵒʳᵃⁿᵍ ˡᵃⁱⁿ ᵈᵃⁿ
ᵐᵉⁿᵘᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ᵏᵉᵐᵇᵃˡⁱ
ⁱᵈᵉⁿʸᵃ, ˢᵉˡᵘʳᵘʰⁿʸᵃ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ
ᵏᵃᵗᵃ-ᵏᵃᵗᵃ ˢᵉⁿᵈⁱʳⁱ
(ᵖᵃʳᵃᵖʰʳᵃˢⁱⁿᵍ), ʰᵃʳᵘˢ
ᵗᵉᵗᵃᵖ ᵐᵉⁿʸᵉᵇᵘᵗ
ˢᵘᵐᵇᵉʳⁿʸᵃ.
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
Ulasan selengkapnya;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Terkadang, dalam menulis, baik fiksi maupun nonfiksi, p͟e͟n͟u͟l͟i͟s͟ h͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟ t͟e͟r͟f͟o͟k͟u͟s͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟n͟y͟u͟s͟u͟n͟a͟n͟ k͟a͟r͟y͟a͟n͟y͟a͟ t͟a͟n͟p͟a͟ m͟e͟n͟y͟a͟d͟a͟r͟i͟ b͟a͟h͟w͟a͟ i͟a͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ h͟a͟k͟ c͟i͟p͟t͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Tuduhan plagiat dari pihak yang merasa dirugikan sedikit banyak akan berdampak terhadap reputasi si penulis. Bahkan di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme (disebut plagiator) dapat mendapat hukuman berat, seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Untuk menghindari plagiarisme dalam menulis, berikut beberapa hal yang perlu dipahami penulis:
Prinsip Perlindungan Hak Cipta
Hak cipta lahir seketika setelah sebuah karya dilahirkan atau diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 1 angka 1 dan Pasal 40 ayat (3) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (“UUHC”). P͟e͟n͟d͟a͟f͟t͟a͟r͟a͟n͟ c͟i͟p͟t͟a͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟y͟a͟r͟a͟t͟ b͟a͟g͟i͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ h͟a͟k͟ c͟͟i͟͟p͟͟t͟͟a͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.[¹]
Berkaitan dengan penulisan buku, perlindungan hak cipta mencakup semua elemen pada buku yang dapat digolongkan sebagai ekspresi si penulis yang dihasilkan atas inspirasi, kemampuan, pikiran, imajinasi, kecekatan, keterampilan, atau keahliannya. Selain buku, hak cipta juga diberikan kepada karya orisinal lainnya dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni, atau sastra, di antaranya, program komputer, ceramah, kuliah, pidato, lagu, gambar, fotografi dan potret, karya arsitektur, karya sinematografi, dan tari, termasuk terjemahan, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi.[²]
Sebagai informasi tambahan, mengenai ide, ditegaskan bahwa ide atau konsep tidak dapat didaftarkan sebagai salah satu ciptaan yang dilindungi hukum, karena ide atau konsep tidak memenuhi syarat-syarat perlindungan sebagai suatu ciptaan.
Hak Moral
Sebagaimana diatur pula dalam Pasal 6bis Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works di mana Indonesia juga merupakan salah satu negara pihak dalam perjanjian internasional ini, UUHC memberi pencipta hak untuk tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian ciptaannya untuk umum atau menggunakan nama aliasnya atau samarannya, yang dikenal dengan istilah hak moral.[³]
Hak moral terpisah dari hak ekonomi dan akan terus mengikuti pencipta bahkan jika pencipta telah mengalihkan hak ekonominya kepada pihak lain, karena hak moral adalah hak yang melekat secara abadi pada diri pencipta.[⁴]
UUHC juga melindungi hak moral pencipta dalam hal perubahan judul dan anak judul karya tulis, pencantuman dan perubahan nama atau nama samaran pencipta,[⁵] dan untuk mempertahankan haknya apabila terjadi distorsi, modifikasi, mutilasi atau bentuk perubahan lainnya yang berhubungan dengan karya cipta yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.[⁶]
H͟a͟k͟-h͟a͟k͟ m͟o͟r͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟͟i͟͟ a͟t͟a͟s͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟i͟n͟d͟a͟h͟k͟a͟n͟ s͟e͟l͟a͟m͟a͟ p͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟n͟y͟a͟ m͟a͟s͟i͟h͟ h͟͟i͟͟d͟͟u͟͟p͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟l͟i͟h͟k͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟i͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ w͟a͟s͟i͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟b͟a͟b͟ l͟a͟i͟n͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟͟u͟͟n͟͟i͟͟a͟͟.[⁷]
Plagiarisme
UUHC tidak mendefinisikan pragiarisme, namun berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional, p͟l͟a͟g͟i͟a͟r͟i͟s͟m͟e͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟n͟j͟i͟p͟l͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ h͟a͟k͟ c͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟p͟͟͟͟͟t͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟.
Berdasarkan definisi tersebut, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟n͟u͟l͟i͟s͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟y͟a͟l͟i͟n͟ k͟a͟r͟y͟a͟ a͟t͟a͟u͟ c͟i͟p͟t͟a͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟u͟l͟i͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ b͟͟u͟͟k͟͟u͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, t͟a͟n͟p͟a͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟t͟a͟k͟a͟n͟ s͟͟u͟͟m͟͟b͟͟e͟͟r͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟ k͟e͟s͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ i͟͟a͟͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟c͟i͟p͟t͟a͟k͟a͟n͟ k͟a͟r͟y͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟, i͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ p͟͟͟͟l͟͟͟͟a͟͟͟͟g͟͟͟͟i͟͟͟͟a͟͟͟͟r͟͟͟͟i͟͟͟͟s͟͟͟͟m͟͟͟͟e͟͟͟͟, karena ia telah melanggar hak moral pencipta untuk dicantumkan namanya.
Pembatasan Hak Cipta
Perlu diketahui bahwa UUHC juga mengatur soal pembatasan hak cipta yang dikenal dengan istilah “fair use” atau “fair dealing” yang m͟e͟n͟g͟i͟z͟i͟n͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟k͟͟a͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟n͟g͟a͟m͟b͟i͟l͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟a͟n͟y͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ c͟i͟p͟t͟a͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ p͟e͟m͟e͟g͟a͟n͟g͟ h͟a͟k͟ c͟i͟p͟t͟a͟n͟y͟a͟ s͟e͟p͟a͟n͟j͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟y͟e͟b͟u͟t͟ s͟u͟m͟b͟e͟r͟n͟y͟a͟ dan h͟a͟l͟ i͟t͟u͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ n͟͟o͟͟n͟͟k͟͟o͟͟m͟͟e͟͟r͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ u͟ntuk k͟e͟g͟i͟a͟t͟a͟n͟ s͟͟o͟͟s͟͟i͟͟a͟͟l͟͟.
Fair use yang diatur dalam UUHC di antaranya:[⁸]
a. pengambilan
berita aktual;
b. penggunaan ciptaan
pihak lain
untuk kepentingan
pendidikan,
penelitian, penulisan
karya ilmiah,
penyusunan laporan,
penulisan kritik atau
tinjauan suatu
masalah dengan
tidak merugikan
kepentingan yang
wajar dari pencipta;
c. pengambilan
ciptaan pihak lain
guna keperluan
ceramah yang
semata-mata
untuk tujuan
pendidikan dan
ilmu pengetahuan;
d. perbanyakan suatu
ciptaan selain
program komputer,
oleh perpustakaan
umum, lembaga
ilmu pengetahuan
atau pendidikan, dan
pusat dokumentasi
yang nonkomersial
semata-mata untuk
keperluan
aktivitasnya;
e. pembuatan salinan
cadangan suatu
program komputer
oleh pemilik
program komputer
yang dilakukan
semata-mata untuk
digunakan sendiri.
Domain Publik
Ditegaskan bahwa jika hak cipta dari sebuah karya telah berakhir, karya tersebut dianggap milik publik atau menjadi public domain dan karenanya siapapun dapat menggunakannya secara gratis tanpa perlu izin penciptanya.
Khusus mengenai hak cipta atas buku dan semua hasil karya tulis lainnya berlaku selama hidup pencipta dan terus berlangsung selama 70 tahun setelah pencipta meninggal dunia terhitung mulai tanggal 1 Januari tahun berikutnya.[⁹] Adapun perlindungan hak cipta atas perwajahan karya tulis, karya fotografi dan potret berlaku selama 50 tahun sejak pertama kali diumumkan.[¹⁰]
Tips Menghindari Plagiarisme
Agar terhindar dari plagiarisme, beberapa tips berikut perlu diingat dalam menulis:
- Tulis karya yang Anda kutip dalam bentuk kutipan langsung, dalam tanda petik “…” (quotation marks) dengan menyebut sumbernya baik dalam teks, di catatan kaki dan di akhir karya tulis berupa daftar pustaka. Untuk pengutipan karya tulis, penyebutan atau pencantuman sumber karya yang dikutip harus dilakukan secara lengkap dengan mencantumkan sekurang-kurangnya nama pencipta, judul atau nama ciptaan, dan nama penerbit jika ada;
- Jika mengambil ide dari tulisan orang lain dan menuangkan kembali idenya, seluruhnya dengan kata-kata sendiri (paraphrasing), harus tetap dengan menyebut sumbernya. Contoh: “ …sebagaimana disampaikan Dr. Hari Rusli…”
Demikian jawaban kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta;
- Berne Convention for the Protection of Literary and Artistic Works.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Menghindari Pelanggaran Hak Cipta dalam Menulis yang dibuat oleh Lucky Setiawati, S.H. dari Globomark yang pertama kali dipublikasikan pada Rabu, 25 Juli 2012. Dipublikasikan kedua oleh “..hukumonline.com..” dengan judul, Tips Hindari Pelanggaran Hak Cipta dalam Menulis, pada tanggal 24 Agustus 2020. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 10 Maret 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.
👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.
👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.
👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

