INDRAMAYU — Pertanyaan:
Akhir-akhir ini sedang viral berita pria (Agus Buntung) dengan disabilitas yang menjadi tersangka pemerkosaan mahasiswi di NTB. Disabilitas yang dia derita adalah disabilitas fisik. Menurut hukum apakah mungkin pria disabilitas menjadi tersangka kasus pemerkosaan? Apakah ada alasan pemaaf bagi pelaku disabilitas yang melakukan tindak pidana? Lalu, jika tuduhan ini merupakan fitnah, apakah yang memfitnah dapat dilaporkan? Terimakasih.
H.Abdul Jabaruddin – Brebes.
••••••••••••••••••••••••••••••••••
“Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023”.
Ulasan selengkapnya:
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Tanggung Jawab Pidana Penyandang Disabilitas
Ketentuan khusus mengenai penyandang disabilitas di atur di dalam UU 8/2016. Dalam Penjelasan Umum UU 8/2016 dijelaskan bahwa undang-undang tersebut mengatur mengenai ragam penyandang disabilitas, hak penyandang disabilitas, pelaksanaan penghormatan, pelindungan, dan pemenuhan hak penyandang disabilitas, koordinasi, Komisi Nasional Disabilitas, pendanaan, kerja sama internasional, dan penghargaan.
Lebih lanjut, Pasal 1 angka 1 UU 8/2016 menerangkan apa yang dimaksud dengan penyandang disabilitas adalah setiap o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ k͟e͟t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟a͟n͟ f͟͟͟i͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟k͟͟͟, i͟͟n͟͟t͟͟e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟l͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ s͟e͟n͟s͟o͟r͟i͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ l͟a͟m͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟r͟i͟n͟t͟e͟r͟a͟k͟s͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ l͟i͟n͟g͟k͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ h͟a͟m͟b͟a͟t͟a͟n͟ d͟͟a͟͟n͟͟ k͟e͟s͟u͟l͟i͟t͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟p͟a͟r͟t͟i͟s͟i͟p͟a͟s͟i͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟e͟n͟u͟h͟ d͟a͟n͟ e͟f͟e͟k͟t͟i͟f͟ dengan warga negara lainnya.
Apakah ada alasan pemaaf bagi pelaku disabilitas yang melakukan tindak pidana? Disarikan artikel Apakah Orang Gila Bisa Dipidana? dijelaskan bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ i͟l͟m͟u͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟l͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟a͟p͟u͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟i͟t͟u͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟n͟a͟r͟ d͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟a͟͟f͟͟. Menurut Albert Aries dalam bukunya Hukum Pidana Indonesia Menurut KUHP Lama dan KUHP Baru Dilengkapi dengan Asas, Yurisprudensi & Postulat Lain (hal. 192 – 193) yang dimaksud dengan alasan pemaaf adalah p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ i͟t͟u͟ s͟e͟b͟e͟n͟a͟r͟n͟y͟a͟ s͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟, a͟k͟a͟n͟ t͟e͟t͟a͟p͟i͟ m͟a͟s͟i͟h͟ d͟i͟p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟m͟i͟n͟t͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟.
Alasan pemaaf diatur di dalam Pasal 44 KUHP lama dan Pasal 38 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[¹] yaitu tahun 2026, sebagai berikut:
Pasal 44 KUHP
- Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena penyakit, tidak dipidana.
- Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan supaya orang itu dimasukkan ke rumah sakit jiwa, paling lama 1 tahun sebagai waktu percobaan.
- Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.
Pasal 38 UU 1/2023
- Setiap orang yang pada waktu melakukan tindak pidana menyandang disabilitas mental dan/atau disabilitas intelektual dapat dikurangi pidananya dan/atau dikenai tindakan.
Terkait dengan Pasal 44 KUHP, R. Soesilo pada bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 60 – 61) menjelaskan bahwa dalam pasal ini alasan tidak dapat dihukumnya terdakwa atas perbuatannya tidak dapat dipertanggungjawabkan kepadanya karena:
- Kurang sempurna akalnya. Yang dimaksud dengan akal di sini adalah kekuatan pikiran, daya pikiran, kecerdasan pikiran. Misalnya idiot, imbesil, buta tuli dan bisu mulai lahir.
- Sakit berubah akalnya. Misalnya, sakit gila, epilepsi, dan bermacam-macam penyakit jiwa lainnya.
Lalu, Penjelasan Pasal 38 UU 1/2023 menerangkan bahwa yang dimaksud disabilitas mental adalah terganggunya fungsi pikir, emosi, dan perilaku antara lain:
- Psikososial, antara lain, skizofrenia, bipolar, depresi, anxiety, dan gangguan kepribadian; dan
- disabilitas perkembangan yang berpengaruh pada kemampuan interaksi sosial, antara lain, autis dan hiperaktif.
Sedangkan, disabilitas intelektual adalah terganggunya fungsi pikir karena tingkat kecerdasan di bawah rata-rata, antara lain, lambat belajar, disabilitas grahita, dan down syndrome.
Selain itu, Pasal 39 UU 1/2023 diatur lebih lanjut mengenai tindak pidana oleh penyandang disabilitas mental atau disabilitas intelektual, yang berbunyi:
- Setiap orang yang pada waktu melakukan tindak pidana m͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ m͟e͟n͟t͟a͟l͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ k͟e͟k͟a͟m͟b͟u͟h͟a͟n͟ a͟k͟u͟t͟ d͟i͟s͟e͟r͟t͟a͟i͟ g͟a͟m͟b͟a͟r͟a͟n͟ p͟s͟i͟k͟o͟t͟i͟k͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ i͟n͟t͟e͟l͟e͟k͟t͟u͟a͟l͟ d͟e͟r͟a͟j͟a͟t͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ b͟e͟r͟a͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ t͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Dalam ketentuan ini, penyandang disabilitas mental yang dalam keadaan kekambuhan akut dan disertai psikotik dan/atau penyandang disabilitas intelektual derajat sedang atau berat, t͟i͟d͟a͟k͟ m͟a͟m͟p͟u͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟͟a͟͟w͟͟a͟͟b͟͟.[²]
Berdasarkan penjelasan di atas,
u͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ f͟i͟s͟i͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟a͟f͟ j͟i͟k͟a͟ m͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.
Terlebih lagi dalam Pasal 35 UU 8/2016 dijelaskan bahwa proses peradilan pidana b͟a͟g͟i͟ p͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟c͟a͟r͟a͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Tata Cara Penetapan Tersangka
Ketentuan hukum acara pidana sendiri diatur dalam KUHAP. Menurut Pasal 1 angka 14 KUHAP, tersangka adalah s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ a͟t͟a͟u͟ k͟͟e͟͟a͟͟d͟͟a͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ b͟u͟k͟t͟i͟ p͟e͟r͟m͟u͟l͟a͟a͟n͟ p͟a͟t͟u͟t͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.
Perlu diperhatikan bahwa pasca Putusan MK Nomor 21/PUU-XII/2014 (hal. 109) frasa bukti permulaan pada definisi tersangka di atas dinyatakan bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa adalah minimal dua alat bukti yang termuat dalam Pasal 184 KUHP.
Adapun yang alat bukti yang sah, antara lain:[³]
- keterangan saksi;
- keterangan ahli;
- surat;
- petunjuk;
- keterangan terdakwa.
Jadi, selama berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai pelaku tindak pidana, seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka. Namun, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟i͟s͟a͟n͟g͟k͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟r͟͟o͟͟s͟͟e͟͟d͟͟u͟͟r͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, m͟a͟k͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟r͟͟a͟͟p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟. Terkait dengan praperadilan, Pengadilan Negeri berwenang dan memutus:[⁴]
- sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan, atau penghentian penuntutan termasuk penetapan tersangka, penggeledahan, dan penyitaan;
- ganti kerugian dan atau rehabilitasi bagi seseorang yang perkaranya dihentikan, pada tingkat penyidikan dan penuntutan.
Tindak Pidana Pemerkosaan
Perbuatan perkosaan dapat dikategorikan sebagai tindak pidana kekerasan seksual. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a UU TPKS. Tindak pidana kekerasan seksual sendiri adalah s͟e͟g͟a͟l͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟ U͟U͟ T͟P͟K͟S͟ d͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟k͟s͟u͟a͟l͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟ u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟ s͟e͟p͟a͟n͟j͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ U͟U͟ T͟͟P͟͟K͟͟S͟͟.
Disarikan dari artikel Jenis-jenis Kekerasan Seksual Menurut Pasal 4 UU TPKS, ancaman pidana dari perbuatan perkosaan diatur dalam ketentuan yang berbeda, yaitu KUHP dan UU 1/2023, lebih spesifiknya adalah Pasal 285 KUHP dan Pasal 473 ayat (1) dan (2) UU 1/2023, yang berbunyi:
Pasal 285 KUHP
- Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
Pasal 473 ayat (1) UU 1/2023
- Setiap orang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang bersetubuh dengannya, dipidana karena melakukan perkosaan, dengan pidana penjara paling lama 12 tahun.
Pada dasarnya yang diancam oleh Pasal 285 KUHP adalah dengan k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ k͟e͟k͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟k͟s͟a͟ p͟e͟r͟e͟m͟p͟u͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟a͟n͟ i͟s͟t͟r͟i͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟͟i͟͟a͟͟.[⁵] Seorang perempuan yang dipaksa demikian rupa, sehingga akhirnya tak dapat melawan lagi dan terpaksa mau melakukan persetubuhan, masuk juga dalam pasal ini. P͟e͟r͟l͟u͟ d͟i͟i͟n͟g͟a͟t͟ b͟a͟h͟w͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟b͟u͟h͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟a͟s͟a͟l͟ i͟n͟i͟ h͟a͟r͟u͟s͟ b͟͟e͟͟n͟a͟r͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟. A͟͟p͟͟a͟b͟i͟l͟a͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟, m͟a͟k͟a͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟k͟a͟n͟ P͟a͟s͟a͟l͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ c͟a͟b͟u͟l͟.[⁶]
Lalu, mengambil dari artikel Bunyi Pasal 285 KUHP tentang Perkosaan, unsur-unsur dari Pasal 285 KUHP, antara lain:
- barang siapa;
- dengan kekerasan;
- dengan ancaman akan memakai kekerasan;
- memaksa seorang wanita mengadakan hubungan kelamin di luar perkawinan;
- dengan dirinya/pelaku.
Dari penjelasan di atas, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟s͟i͟m͟p͟u͟l͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ p͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟ j͟i͟k͟a͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟i͟ u͟n͟s͟u͟r͟ p͟a͟s͟a͟l͟ d͟͟i͟͟a͟͟t͟͟a͟͟s͟͟, m͟a͟k͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟e͟r͟a͟t͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟a͟s͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟n͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟. M͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ f͟i͟s͟i͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟a͟f͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟.
Akan tetapi, j͟i͟k͟a͟ m͟e͟m͟a͟n͟g͟ t͟u͟d͟u͟h͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ f͟͟i͟͟t͟͟n͟͟a͟͟h͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟n͟u͟d͟u͟h͟ b͟e͟r͟p͟o͟t͟e͟n͟s͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ berdasarkan Pasal 311 ayat (1) KUHP dan Pasal 434 ayat (1) UU 1/2023.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan bisa dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk Bpk H.Abdul Jabaruddin yang dari Brebes.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan Hukumonline.com dengan judul Adakah Alasan Pemaaf Pelaku Perkosaan dengan Disabilitas pada tanggal 05 Desember 2024. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 22 Januari 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata u͟n͟t͟u͟k͟ t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum atau Paralegal UBK LAWYERS.
Punya Permasalahan Hukum yang sedang dihadapi? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui E-mail, Chatt atau Tlp langsung ke:
👇👇👇
E-mail:
ubklawyer@gmail.com
Tlp/Chatt:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian K͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ B͟e͟s͟a͟r͟ U͟͟B͟͟K͟͟ L͟͟A͟͟W͟͟Y͟͟E͟͟R͟͟S͟͟. Klik link dibawah.
👇👇👇
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ L͟B͟H͟-U͟M͟A͟R͟ B͟I͟N͟ K͟͟H͟͟A͟͟T͟͟T͟͟A͟͟B͟͟. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.
👇👇👇
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

