INDRAMAYU — Pertanyaan:
Orang gila apakah termasuk subjek hukum? Apakah benar Pasal 44 KUHP lama mengatur tentang alasan pemaaf tindak pidana yang dilakukan orang yang jiwanya cacat? Jika benar, apa bunyi Pasal 44 KUHP lama? Terimakasih.
Karnadi (Pitung) – Tukdana
••••••••••••••••••••••••••••••••••
“Artikel ini dibuat berdasarkan KUHP lama dan UU 1/2023 tentang KUHP yang diundangkan pada tanggal 2 Januari 2023”.
Ulasan selengkapnya:
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Pengertian Subjek Hukum
Menjawab pertanyaan Anda mengenai apakah orang gila apakah termasuk subjek hukum, k͟a͟m͟i͟ a͟s͟u͟m͟s͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ g͟i͟l͟a͟ y͟a͟n͟g͟ A͟n͟d͟a͟ m͟a͟k͟s͟u͟d͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ O͟r͟a͟n͟g͟ D͟e͟n͟g͟a͟n͟ G͟a͟n͟g͟g͟u͟a͟n͟ J͟i͟w͟a͟ (O͟D͟G͟J͟) a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ j͟i͟w͟a͟n͟y͟a͟ c͟͟a͟͟c͟͟a͟͟t͟͟.
Kemudian, terdapat beberapa pengertian subjek hukum dari para ahli:
- Mochtar Kusumaatmadja dan B. Arief Sidharta: Subjek hukum adalah pemegang atau pengemban hak dan kewajiban.[¹]
- E. Utrecht dan Moh. Saleh Djindang: Subjek hukum adalah pendukung hak.[²]
- Sudikno Mertokusumo: Subjek hukum adalah segala sesuatu yang dapat memperoleh hak dan kewajiban.[³]
Berkaitan dengan kewajiban subjek hukum, menurut hemat kami, salah satu kewajiban su͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ dalam hal subjek hukum yang bersangkutan melakukan tindak pidana.
Menurut Romli Atmasasmita dalam bukunya Asas-asas Perbandingan Hukum Pidana, pertanggungjawaban pidana adalah suatu perbuatan yang tercela oleh masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan pada si pembuatnya atas perbuatan yang dilakukan. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam artikel Memahami Pertanggungjawaban Pidana dalam KUHP Baru.
Lantas, apakah orang yang jiwanya cacat memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab secara pidana?
Bunyi Pasal 44 KUHP Lama
Pada dasarnya, perlu diketahui bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ i͟l͟m͟u͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟l͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟h͟a͟p͟u͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟i͟t͟u͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟e͟n͟a͟r͟ d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟a͟͟f͟͟. Untuk mempersingkat jawaban, kami akan jelaskan a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟a͟͟a͟͟f͟͟ dalam Pasal 44 KUHP lama yang saat artikel ini diterbitkan masih berlaku.
Berikut adalah bunyi Pasal 44 KUHP lama:
- Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggungkan kepadanya karena j͟i͟w͟a͟n͟y͟a͟ c͟a͟c͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟t͟u͟m͟b͟u͟h͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟e͟r͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟a͟͟k͟͟i͟͟t͟͟, t͟i͟d͟a͟k͟ d͟͟i͟͟p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
- Jika ternyata perbuatan itu tidak dapat dipertanggungkan kepada pelakunya karena pertumbuhan jiwanya cacat atau terganggu karena penyakit, maka hakim dapat memerintahkan s͟u͟p͟a͟y͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ i͟t͟u͟ d͟i͟m͟a͟s͟u͟k͟k͟a͟n͟ k͟e͟ r͟u͟m͟a͟h͟ s͟a͟k͟i͟t͟ j͟͟i͟͟w͟͟a͟͟, paling lama satu tahun sebagai waktu percobaan.
- Ketentuan dalam ayat 2 hanya berlaku bagi Mahkamah Agung, Pengadilan Tinggi, dan Pengadilan Negeri.
Kemudian, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal menjelaskan bahwa sebab tidak dapat dihukumnya terdakwa berhubung perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya adalah karena (hal. 60-61):
1. Kurang Sempurna Akalnya
Yang dimaksud dengan perkataan “akal” di sini ialah kekuatan pikiran, daya pikiran, dan kecerdasan pikiran. Orang dapat dianggap kurang sempurna akalnya, misalnya: idiot, imbisil, buta-tuli, dan bisu mulai lahir, orang-orang semacam ini sebenarnya tidak sakit, tetapi karena cacat-cacatnya sejak lahir, maka pikirannya tetap sebagai kanak-kanak.
2. Sakit Berubah Akalnya
Yang dapat dimasukkan dalam pengertian ini misalnya: sakit gila, histeri (sejenis penyakit saraf terutama pada wanita), epilepsi, dan bermacam-macam penyakit jiwa lainnya.
Bunyi Pasal 38 dan 39 UU 1/2023
Sedangkan dalam UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku 3 tahun sejak tanggal diundangkan,[⁴] yaitu tahun 2026, pertanggungjawaban pidana oleh orang yang cacat jiwanya diatur dalam Pasal 38 dan Pasal 39 sebagai berikut:
Pasal 38
- Setiap Orang yang p͟a͟d͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ m͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ T͟i͟n͟d͟a͟k͟ P͟͟͟i͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟ m͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ i͟n͟t͟e͟l͟e͟k͟t͟u͟a͟l͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ t͟͟i͟͟n͟͟d͟͟a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Pasal 39
- Setiap Orang yang p͟a͟d͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ T͟i͟n͟d͟a͟k͟ P͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ m͟e͟n͟t͟a͟l͟ yang dalam keadaan kekambuhan akut dan disertai gambaran psikotik dan/atau d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ i͟͟͟͟n͟͟͟͟t͟͟͟͟e͟͟͟͟l͟͟͟͟e͟͟͟͟k͟͟͟͟t͟͟͟͟u͟͟͟͟a͟͟͟͟l͟͟͟͟ derajat sedang atau berat t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟j͟a͟t͟u͟h͟i͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟e͟n͟a͟i͟ t͟͟͟i͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.
Penjelasan Pasal 38 dan 39 UU 1/2023
Adapun menurut Penjelasan Pasal 38 UU 1/2023, y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ “d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟l͟͟” a͟d͟a͟l͟a͟h͟ t͟e͟r͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟y͟a͟ f͟u͟n͟g͟s͟i͟ p͟͟i͟͟k͟͟i͟͟r͟͟, e͟͟m͟͟o͟͟s͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, antara lain:
a. psikososial, antara
lain, skizofrenia,
bipolar, depresi,
anxiety, dan
gangguan
kepribadian; dan
b. disabilitas
perkembangan yang
berpengaruh pada
kemampuan
interaksi sosial,
antara lain, autis dan
hiperaktif.
Lalu, yang dimaksud dengan “disabilitas intelektual” adalah t͟e͟r͟g͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟y͟a͟ f͟u͟n͟g͟s͟i͟ p͟i͟k͟i͟r͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟i͟n͟g͟k͟a͟t͟ k͟e͟c͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟n͟ d͟͟i͟͟ b͟a͟w͟a͟h͟ r͟͟a͟͟t͟͟a͟͟-r͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, antara lain, l͟a͟m͟b͟a͟t͟ b͟͟e͟͟l͟͟a͟͟j͟͟a͟͟r͟͟, d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ g͟͟r͟͟a͟͟h͟͟i͟͟t͟͟a͟͟, d͟a͟n͟ d͟o͟w͟n͟ s͟͟y͟͟n͟͟d͟͟r͟͟o͟͟m͟͟e͟͟. Pelaku tindak pidana yang m͟e͟n͟y͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ m͟e͟n͟t͟a͟l͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ d͟i͟s͟a͟b͟i͟l͟i͟t͟a͟s͟ i͟n͟t͟e͟l͟e͟k͟t͟u͟a͟l͟ d͟i͟n͟i͟l͟a͟i͟ k͟u͟r͟a͟n͟g͟ m͟a͟m͟p͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟i͟n͟s͟a͟f͟i͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ s͟i͟f͟a͟t͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ atau untuk berbuat berdasarkan keinsafan yang dapat dipidana.
Sedangkan berdasarkan Penjelasan Pasal 39 UU 1/2023, penyandang disabilitas mental yang dalam keadaan kekambuhan akut dan disertai gambaran psikotik dan/atau penyandang disabilitas intelektual derajat sedang atau berat, tidak mampu bertanggung jawab. Kemudian, u͟n͟t͟u͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟e͟l͟a͟s͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟a͟m͟p͟u͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ d͟a͟r͟i͟ s͟e͟g͟i͟ m͟͟e͟͟d͟͟i͟͟s͟͟, p͟e͟r͟l͟u͟ d͟͟i͟͟h͟͟a͟͟d͟͟i͟͟r͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ a͟h͟l͟i͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟p͟a͟n͟d͟a͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ d͟i͟n͟i͟l͟a͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟͟a͟͟m͟͟p͟͟u͟͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟͟a͟͟w͟͟a͟͟b͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan bisa dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk Sdr Karnadi (Pitung) yang dari Gadel-Tukdana.
Artikel ini dibuat oleh Renata Christa Auli. SH, dipublikasikan Hukumonline.com dengan judul Pasal 44 KUHP Lama tentang Alasan Pemaaf Tindak Pidana pada tanggal 29 Mei 2024. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 23 Januari 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata u͟n͟t͟u͟k͟ t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum atau Paralegal UBK LAWYERS.
Punya Permasalahan Hukum yang sedang dihadapi? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui E-mail, Chatt atau Tlp langsung ke:
👇👇👇
E-mail:
ubklawyer@gmail.com
Tlp/Chatt:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian K͟e͟l͟u͟a͟r͟g͟a͟ B͟e͟s͟a͟r͟ U͟͟B͟͟K͟͟ L͟͟A͟͟W͟͟Y͟͟E͟͟R͟͟S͟͟. Klik link dibawah.
👇👇👇
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ L͟B͟H͟-U͟M͟A͟R͟ B͟I͟N͟ K͟͟H͟͟A͟͟T͟͟T͟͟A͟͟B͟͟. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.
👇👇👇
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

