
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN, Di media sosial, sedang ramai mengenai seruan untuk memboikot Bank Mandiri. Hal ini karena adanya dugaan pemblokiran rekening Bank Mandiri milik Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) Supriyono. Pihak Bank Mandiri menyampaikan bahwa pemblokiran tersebut dilakukan atas permintaan aparat penegak hukum tanpa menjelaskan institusi mana, perkara pidana yang menjadi dasar pemblokiran, maupun ada atau tidaknya penetapan dari pengadilan. Pertanyaan saya, bagaimana sebenarnya undang-undang mengatur pemblokiran rekening bank? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers dan Paralegalnya semoga semakin sukses. Aamiin..
Wassalam,
Sally Nurullisa – PT. Medco
••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔄𝔭𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔢𝔫𝔢𝔤𝔞𝔨 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪, 𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰𝔫𝔶𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔶𝔦𝔡𝔦𝔨, 𝔭𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱 𝔲𝔪𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪, 𝔟𝔢𝔯𝔴𝔢𝔫𝔞𝔫𝔤 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥 𝔟𝔞𝔫𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯 𝔯𝔢𝔨𝔢𝔫𝔦𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲. 𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯𝔞𝔫 𝔯𝔢𝔨𝔢𝔫𝔦𝔫𝔤 𝔟𝔞𝔫𝔨 𝔦𝔫𝔦 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔰𝔢𝔪𝔟𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫, 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫-𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔥𝔞𝔱𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔫𝔨.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔞𝔭𝔞𝔯𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔩𝔬𝔨𝔦𝔯 𝔯𝔢𝔨𝔢𝔫𝔦𝔫𝔤 𝔟𝔞𝔫𝔨?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Pemblokiran Rekening Bank oleh OJK
Mengenai pemblokiran rekening bank, jika melihat pada ketentuan yang terdapat dalam UU Perbankan dan perubahannya, mengatur bahwa Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟k͟a͟n͟ b͟a͟n͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟. Hal ini sebagaimana ditemukan pada Pasal 14 angka 33 UU P2SK yang mengubah Pasal 36A ayat (1) UU Perbankan, sebagai berikut:
Dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan, Otoritas Jasa Keuangan berwenang:
a. meminta bank,
untuk mengambil
dan menyerahkan
data/dokumen dari
setiap tempat yang
terkait bank;
b. meminta bank
untuk mengambil
dan menyerahkan
data/dokumen dan
keterangan dari
setiap pihak yang
menurut penilaian
Otoritas Jasa
Keuangan memiliki
pengaruh terhadap
bank; dan
c. memerintahkan
bank untuk
melakukan
pemblokiran
tertentu.
Pemblokiran dalam tugas pengawasan OJK ini diatur lebih lanjut dalam POJK 5/2024. Menurut Pasal 66 ayat (1) POJK 5/2024, perintah pemblokiran rekening tertentu dilakukan berdasarkan:
- pelaksanaan tugas pengawasan OJK; atau
- p͟e͟r͟m͟i͟n͟t͟a͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟i͟h͟a͟k͟ l͟a͟i͟n͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ O͟͟J͟͟K͟͟.
Perintah pemblokiran rekening ini dilakukan u͟n͟t͟u͟k͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟a͟m͟p͟u͟n͟g͟ d͟a͟n͟a͟ h͟a͟s͟i͟l͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.[¹]
P͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟m͟p͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ O͟J͟K͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟u͟k͟a͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟l͟͟o͟͟k͟͟i͟͟r͟͟a͟͟n͟͟.[²]
Kemudian, dalam hal rekening tersebut atas nama seseorang atau pihak lain yang telah dinyatakan sebagai tersangka atau terdakwa oleh polisi, jaksa, hakim, atau aparat penegak hukum lain berdasarkan kewenangannya, maka pemblokiran dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan tanpa memerlukan izin dari OJK.[³]
Melihat ketentuan di atas, dapat disimpulkan bahwa pemblokiran rekening pada dasarnya boleh saja dilakukan selama berdasarkan pelaksanaan tugas pengawasan OJK atau permintaan dari pihak lain kepada OJK.
Namun, pemblokiran ini tidak dapat dilakukan sembarangan, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ a͟k͟t͟i͟v͟i͟t͟a͟s͟ i͟͟l͟͟e͟͟g͟͟a͟͟l͟͟, b͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟t͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟t͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.[⁴]
Pemblokiran dalam KUHAP
Tidak hanya UU Perbankan dan perubahannya serta POJK 5/2024 yang mengatur mengenai pemblokiran rekening bank. Terdapat juga peraturan-peraturan lain yang mengatur mengenai pemblokiran rekening bank.
Seperti UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026.[⁵] Dalam UU 20/2025, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ u͟p͟a͟y͟a͟ p͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟a͟͟͟.[⁶] Adapun yang dimaksud dengan pemblokiran adalah t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟c͟e͟g͟a͟h͟ a͟k͟s͟e͟s͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟i͟n͟d͟a͟h͟a͟n͟ s͟e͟s͟u͟a͟t͟u͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ h͟a͟r͟t͟a͟ k͟͟e͟͟k͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, b͟u͟k͟t͟i͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟m͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, t͟r͟a͟n͟s͟a͟k͟s͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟b͟͟a͟͟n͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, a͟k͟u͟n͟ p͟l͟a͟t͟f͟o͟r͟m͟ d͟͟a͟͟r͟͟i͟͟n͟͟g͟͟, i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, d͟o͟k͟u͟m͟e͟n͟ e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟r͟o͟d͟u͟k͟ a͟d͟m͟i͟n͟i͟s͟t͟r͟a͟t͟i͟f͟ l͟͟͟a͟͟͟i͟͟͟n͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟ u͟n͟t͟u͟k͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟i͟m͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟e͟t͟a͟p͟a͟n͟n͟y͟a͟.[⁷]
P͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟U͟H͟A͟P͟ b͟a͟r͟u͟ h͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟m͟u͟m͟ a͟t͟a͟u͟ h͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟i͟͟͟m͟͟͟.[⁸] Pemblokiran tidak dapat dilakukan begitu saja, izin harus didapatkan terlebih dahulu dari ketua pengadilan negeri.[⁹]
Adapun permohonan izin untuk pemblokiran harus memuat informasi lengkap mengenai a͟l͟a͟s͟a͟n͟ p͟e͟r͟l͟u͟n͟y͟a͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟l͟͟o͟͟k͟͟i͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟i͟n͟i͟m͟a͟l͟ m͟e͟l͟i͟p͟u͟t͟i͟:[¹⁰]
- uraian tindak pidana yang sedang diproses;
- dasar atau fakta yang menunjukkan objek yang akan diblokir memiliki relevansi dengan tindak pidana yang sedang diproses dan sumber perolehan dasar atau fakta tersebut; dan
- bentuk dan tujuan pemblokiran yang akan dilakukan terhadap masing-masing objek yang akan diblokir.
Terhadap alasan-alasan di atas, ketua pengadilan negeri dapat meminta informasi tambahan dari penyidik.[¹¹]
Sejak permohonan izin pemblokiran diajukan, ketua pengadilan negeri wajib meneliti secara cermat permohonan izin tersebut dalam jangka waktu paling lama 2 hari terhitung sejak permohonan izin diajukan.[¹²]
Setelah mendapatkan izin dari ketua pengadilan negeri, pemblokiran hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu 1 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali untuk jangka waktu 6 bulan.[¹³]
Akan tetapi, d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟d͟͟e͟͟s͟͟a͟͟k͟͟, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ i͟z͟i͟n͟ k͟e͟t͟u͟a͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ n͟͟͟e͟͟͟g͟͟͟e͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟.[¹⁴] Keadaan mendesak ini meliputi:[¹⁵]
- potensi dialihkannya harta kekayaan;
- adanya tindak pidana terkait informasi dan transaksi elektronik;
- telah terjadi permufakatan dalam tindak pidana terorganisasi; dan/atau
- situasi berdasarkan penilaian penyidik.
Jika pemblokiran dilakukan dalam keadaan mendesak, penyidik dalam jangka waktu paling lama 2×24 jam meminta persetujuan kepada ketua pengadilan negeri setelah dilakukan pemblokiran.[¹⁶] Setelah penyidik meminta persetujuan, ketua pengadilan negeri dalam jangka waktu paling lama 2×24 jam mengeluarkan penetapan.[¹⁷]
Apabila ketua pengadilan negeri menolak memberikan persetujuan terhadap pemblokiran dalam keadaan mendesak, penolakan harus disertai dengan alasan dan berakibat pada pemblokiran wajib dibuka dalam jangka waktu paling lama 3 hari kerja oleh pejabat yang memerintahkan pemblokiran dengan mengeluarkan surat perintah pencabutan pemblokiran.[¹⁸]
Selain itu, dalam hal perkara dihentikan pada tahap penyidikan, penuntutan atau berdasarkan putusan praperadilan mengenai tidak sahnya penetapan tersangka, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟b͟u͟k͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟ 3 h͟a͟r͟i͟ k͟e͟r͟j͟a͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟l͟u͟a͟r͟k͟a͟n͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ p͟e͟n͟c͟a͟b͟u͟t͟a͟n͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟l͟͟o͟͟k͟͟i͟͟r͟͟a͟͟n͟͟.[¹⁹]
Pemblokiran dalam Tindak Pidana Khusus
Selain itu, terdapat juga ketentuan mengenai tindak pidana khusus yang mengatur mengenai pemblokiran rekening bank. Salah satu contohnya adalah UU TPPU yang mengatur mengenai tindak pidana pencucian uang.
B͟a͟n͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟i͟h͟a͟k͟ p͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ o͟l͟e͟h͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟i͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ k͟e͟k͟a͟y͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ a͟t͟a͟u͟ p͟a͟t͟u͟t͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ h͟a͟s͟i͟l͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ dari:[²⁰]
- setiap orang yang telah dilaporkan oleh Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (“PPATK”) kepada penyidik;
- tersangka; atau
- terdakwa.
Perintah ini harus dilakukan secara tertulis dengan menyebutkan secara jelas mengenai:[²¹]
- nama dan jabatan penyidik, tersangka, atau terdakwa;
- identitas setiap orang yang telah dilaporkan oleh PPATK kepada penyidik, tersangka, atau terdakwa;
- alasan pemblokiran;
- tindak pidana yang disangkakan atau didakwakan; dan
- tempat harta kekayaan berada.
S͟e͟t͟e͟l͟a͟h͟ s͟u͟r͟a͟t͟ p͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟i͟t͟e͟r͟i͟m͟a͟ d͟a͟r͟i͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, a͟t͟a͟u͟ h͟͟a͟͟k͟͟i͟͟m͟͟, m͟a͟k͟a͟ b͟a͟n͟k͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ p͟͟͟e͟͟͟m͟͟͟b͟͟͟l͟͟͟o͟͟͟k͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟.[²²]
Lamanya pemblokiran adalah 30 hari kerja dan setelah berakhir, bank wajib mengakhiri pemblokiran demi hukum.[²³]
Di samping UU TPPU, terdapat ketentuan tindak pidana khusus lain yang mengatur mengenai pemblokiran rekening bank, misalnya UU Tipikor yang mengatur mengenai tindak pidana korupsi dan juga Perppu 1/2002 tentang tindak pidana terorisme.
Pemblokiran Rekening Bank oleh Aparat
Menjawab pertanyaan Anda, pada dasarnya peraturan perundang-undangan memberikan kewenangan untuk a͟p͟a͟r͟a͟t͟ p͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, k͟h͟u͟s͟u͟s͟n͟y͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟, p͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟, d͟a͟n͟ h͟͟a͟͟k͟͟i͟͟m͟͟, u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ b͟a͟n͟k͟ j͟i͟k͟a͟ d͟͟i͟͟p͟͟e͟͟r͟͟l͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟.
Namun, b͟u͟k͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟r͟t͟i͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟. T͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ a͟t͟u͟r͟a͟n͟-a͟t͟u͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟p͟e͟r͟h͟a͟t͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ b͟͟a͟͟n͟͟k͟͟. Dari berbagai undang-undang yang sudah dikutip di atas, sudah jelas bahwa pemblokiran oleh aparat penegak hukum hanya terbatas pada penyidik, penuntut umum, dan hakim.
Kemudian, p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ b͟e͟r͟a͟l͟a͟s͟a͟n͟ s͟e͟r͟t͟a͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ b͟a͟n͟k͟ y͟a͟n͟g͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟ b͟e͟r͟h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟p͟͟r͟͟o͟͟s͟͟e͟͟s͟͟.
Khusus untuk pemblokiran rekening bank melalui mekanisme UU 20/2025 tentang KUHAP baru, d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ j͟u͟g͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ i͟z͟i͟n͟ d͟a͟r͟i͟ k͟e͟t͟u͟a͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ n͟e͟g͟e͟r͟i͟ s͟e͟b͟e͟l͟u͟m͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ dan setelah melakukan pemblokiran jika pemblokiran dilakukan karena keadaan mendesak.
Menurut hemat kami, tindakan pemblokiran atas perintah aparat yang dilakukan pada kasus Anda telah dilakukan secara sewenang-wenang. Pasalnya, t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟s͟a͟r͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ r͟e͟k͟e͟n͟i͟n͟g͟ b͟a͟n͟k͟ b͟e͟r͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟b͟l͟o͟k͟i͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟d͟u͟r͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟t͟u͟r͟ o͟l͟e͟h͟ u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟.
Di lain sisi, p͟i͟h͟a͟k͟ b͟a͟n͟k͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ h͟a͟k͟ k͟o͟n͟s͟u͟m͟e͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟a͟m͟a͟n͟a͟n͟ dalam menggunakan produk dan/atau memanfaatkan layanan sesuai yang ditetapkan dalam ketentuan peraturan perundang-undangan dan/atau perjanjian.[²⁴]
Selanjutnya, b͟a͟n͟k͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟g͟a͟ k͟e͟a͟m͟a͟n͟a͟n͟ s͟͟i͟͟m͟͟p͟͟a͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, a͟t͟a͟u͟ a͟s͟e͟t͟ k͟o͟n͟s͟u͟m͟e͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟a͟d͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ b͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟k͟͟͟.[²⁵] Terhadap pelanggaran kewajiban ini, pihak bank berpotensi untuk dikenai sanksi pidana berupa pidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau pidana denda paling banyak kategori VI,[²⁶] yaitu sebesar Rp2 miliar.[²⁷]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan;
- Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan;
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme;
- Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang;
- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme Menjadi Undang-Undang;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja Menjadi Undang-Undang;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana;
- Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan;
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 22 Tahun 2023 tentang Pelindungan Konsumen dan Masyarakat di Sektor Jasa Keuangan;
- Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 5 Tahun 2024 tentang Penetapan Status Pengawasan dan Penanganan Permasalahan Bank Umum.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Mencari Ridha Allah pada tanggal 28 Agustus 2026. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 02 November 2026M/22 Jumadil Awwal 1448H.
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

