
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN, Kakek saya meninggalkan 1 rumah sebagai warisan kepada anak-anaknya. Namun tanpa sepengetahuan orang tua saya dan saudaranya yang lain, si bungsu telah menggadaikan rumah itu kepada orang lain dan sekarang rumah itu dikuasai oleh orang lain tersebut. Upaya apa yang harus dilakukan orang tua saya untuk mengambil alih rumah tersebut dan apakah perbuatan hukum yang dilakukan atas rumah itu sah? Atas pencerahannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan rizki dan segala permasalahannya. Aamiin..
Wassalam,
Suwarna – Samsat Indramayu
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔎𝔢𝔩𝔲𝔞𝔯𝔤𝔞】
𝔅𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 833 𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞, 𝔭𝔞𝔯𝔞 𝔞𝔥𝔩𝔦 𝔴𝔞𝔯𝔦𝔰 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔫𝔡𝔦𝔯𝔦𝔫𝔶𝔞 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪, 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔥𝔞𝔨 𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔞𝔱𝔞𝔰 𝔰𝔢𝔤𝔞𝔩𝔞 𝔟𝔞𝔯𝔞𝔫𝔤, 𝔰𝔢𝔪𝔲𝔞 𝔥𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔪𝔲𝔞 𝔭𝔦𝔲𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔲𝔡𝔞𝔥 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞𝔩.
𝔖𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞, 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔡𝔞𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔯𝔲𝔪𝔞𝔥 𝔴𝔞𝔯𝔦𝔰𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔩𝔲𝔪 𝔡𝔦𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔱𝔞𝔫𝔭𝔞 𝔦𝔷𝔦𝔫 𝔞𝔥𝔩𝔦 𝔴𝔞𝔯𝔦𝔰 𝔩𝔞𝔦𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔟𝔢𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Siapa Saja yang Termasuk dalam Ahli Waris?
Kami mengasumsikan bahwa saudara bungsu ayah/ibu Anda menggadaikan rumah warisan kakek Anda (pewaris) tanpa izin ayah/ibu Anda maupun saudara yang lainnya, padahal rumah tersebut belum dibagi waris.
Lantas, apakah perbuatan menggadaikan rumah warisan tanpa izin ahli waris lainnya boleh secara hukum? Jika tidak, apa upaya hukumnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai siapa saja yang berhak menjadi ahli waris.
Menurut KBBI, ahli waris adalah o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ (h͟a͟r͟t͟a͟ p͟͟u͟͟s͟͟a͟͟k͟͟a͟͟). Sementara itu pengertian ahli waris menurut Pasal 171 huruf c Kompilasi Hukum Islam (“KHI”) adalah o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ m͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟u͟n͟i͟a͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟, b͟e͟r͟a͟g͟a͟m͟a͟ I͟s͟l͟a͟m͟ d͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟h͟a͟l͟a͟n͟g͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa ahli waris adalah s͟͟e͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ a͟t͟a͟u͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ d͟i͟s͟e͟b͟a͟b͟k͟a͟n͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟a͟b͟a͟t͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟k͟a͟w͟i͟n͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟, d͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟h͟a͟l͟a͟n͟g͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟.
Dengan demikian, y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ h͟a͟n͟y͟a͟l͟a͟h͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟, b͟a͟i͟k͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ k͟e͟t͟u͟r͟u͟n͟a͟n͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟͟u͟͟a͟͟, s͟͟a͟͟u͟͟d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, n͟͟e͟͟n͟͟e͟͟k͟͟/k͟a͟k͟e͟k͟ a͟t͟a͟u͟ k͟e͟t͟u͟r͟u͟n͟a͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟r͟i͟ s͟͟a͟͟u͟͟d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟-s͟͟a͟͟u͟͟d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟n͟y͟a͟. Secara lebih rinci mengenai golongan ahli waris, Anda dapat membaca artikel Empat Golongan Ahli Waris Menurut KUHP.
Dalam kasus Anda, karena kakek Anda telah meninggal, maka yang menjadi ahli waris adalah anak-anaknya yaitu ayah/ibu Anda serta saudara-saudaranya. Hal ini berdasarkan golongan ahli waris menurut KUH Perdata, yang mana a͟n͟a͟k͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ I͟. Hal ini diatur di dalam Pasal 852 KUH Perdata yang berbunyi sebagai berikut:
- Anak-anak atau keturunan-keturunan, sekalipun dilahirkan dan berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan para orangtua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga-keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dulu.
- Mereka mewarisi bagian-bagian yang sama besarnya kepala demi kepala, bila dengan yang meninggal mereka semua bertalian keluarga dalam derajat pertama dan masing-masing berhak karena dirinya sendiri; mereka mewarisi pancang demi pancang, bila mereka semua atas sebagian mewarisi sebagai pengganti.
Dengan demikian, a͟n͟a͟k͟-a͟n͟a͟k͟ d͟a͟r͟i͟ k͟a͟k͟e͟k͟ A͟n͟d͟a͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ b͟e͟s͟a͟r͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, p͟a͟n͟c͟a͟n͟g͟ d͟e͟m͟i͟ p͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟c͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟g͟͟͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟t͟u͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟.
Hal tersebut juga ditegaskan dalam Pasal 174 ayat (1) huruf a KHI bahwa a͟n͟a͟k͟-a͟n͟a͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟e͟l͟o͟m͟p͟o͟k͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟h͟͟. Anda dapat membaca lebih lanjut pembagian warisan anak menurut KHI dalam artikel Cara Hitung Pembagian Harta Warisan Anak Menurut KHI.
Berdasarkan penjelasan di atas, m͟a͟k͟a͟ a͟͟y͟͟a͟͟h͟͟/i͟b͟u͟ A͟n͟d͟a͟ d͟a͟n͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟n͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ d͟a͟r͟i͟ k͟a͟k͟e͟k͟ A͟͟n͟͟d͟͟a͟͟. Kemudian, k͟a͟m͟i͟ m͟e͟n͟g͟a͟s͟u͟m͟s͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ r͟u͟m͟a͟h͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ d͟i͟t͟e͟r͟i͟m͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ A͟n͟d͟a͟ d͟a͟n͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟n͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟.
Bolehkah Ahli Waris Menggadaikan Rumah Warisan Tanpa Izin?
P͟a͟r͟a͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟n͟y͟a͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟r͟t͟a͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. Hal ini diatur di dalam Pasal 833 KUH Perdata, yang berbunyi:
- Para ahli waris, dengan sendirinya karena hukum, mendapat hak milik atas semua barang, semua hak dan semua piutang orang yang meninggal.
Oleh karena itu, perbuatan hukum terhadap harta waris yang belum dibagi harus melibatkan dan atas persetujuan seluruh ahli waris. Sehingga, m͟e͟n͟g͟g͟a͟d͟a͟i͟k͟a͟n͟ r͟u͟m͟a͟h͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ w͟a͟j͟i͟b͟ d͟i͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟i͟ o͟l͟e͟h͟ s͟e͟m͟u͟a͟ a͟h͟l͟i͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟.
Irma Devita Purnamasari dalam buku Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami Masalah Hukum Waris (hal. 176-177) menerangkan bahwa j͟i͟k͟a͟ i͟n͟g͟i͟n͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟j͟u͟a͟l͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟h͟͟/r͟u͟m͟a͟h͟ a͟k͟a͟n͟ d͟i͟j͟a͟d͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟g͟u͟n͟a͟n͟ d͟i͟ b͟͟a͟͟n͟͟k͟͟, m͟a͟k͟a͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ h͟a͟r͟u͟s͟ h͟a͟d͟i͟r͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟t͟͟u͟͟j͟͟u͟͟a͟͟n͟͟. Dalam hal salah seorang ahli waris tidak bisa hadir di hadapan PPAT pembuat akta tersebut (karena berada di luar kota), maka ahli waris tersebut dapat membuat surat persetujuan di bawah tangan yang dilegalisir notaris setempat atau dibuat surat persetujuan dalam bentuk akta notaris.
Jika kemudian salah seorang ahli waris menggadaikan/menjual warisan baik bentuk fisik atau bentuk surat tanpa persetujuan ahli waris lainnya, m͟a͟k͟a͟ h͟a͟l͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. A͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ l͟a͟i͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ berdasarkan Pasal 834 dan Pasal 1365 KUH Perdata sebagai berikut:
Pasal 834 KUH Perdata
- Ahli waris berhak mengajukan gugatan untuk memperoleh warisannya terhadap semua orang yang memegang besit atas seluruh atau sebagian warisan itu dengan alas hak ataupun tanpa alas hak, demikian pula terhadap mereka yang dengan licik telah menghentikan besitnya.
- Dia boleh mengajukan gugatan itu untuk seluruh warisan bila ia adalah satu-satunya ahli waris, atau hanya untuk sebagian bila ada ahli waris lain. Gugatan itu bertujuan untuk menuntut supaya diserahkan apa saja yang dengan alas hak apa pun ada dalam warisan itu, beserta segala penghasilan, pendapatan dan ganti rugi, menurut peraturan-peraturan yang termaktub dalam Bab III buku ini mengenai penuntutan kembali hak milik.
Pasal 1365 KUH Perdata
- Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk menggantikan kerugian tersebut.
Dengan demikian, o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ A͟n͟d͟a͟ a͟t͟a͟u͟ s͟a͟u͟d͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟a͟s͟a͟ d͟i͟r͟u͟g͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟g͟a͟j͟u͟k͟a͟n͟ g͟u͟g͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟d͟͟a͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟/m͟e͟n͟j͟u͟a͟l͟ r͟u͟m͟a͟h͟/t͟a͟n͟a͟h͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟b͟a͟g͟i͟a͟n͟ h͟a͟r͟t͟a͟ p͟͟e͟͟n͟͟i͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, b͟a͟i͟k͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟s͟a͟r͟ h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟m͟a͟ a͟t͟a͟u͟ t͟a͟n͟p͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟ s͟a͟t͟u͟ h͟a͟k͟ p͟u͟n͟ a͟t͟a͟s͟ h͟a͟r͟t͟a͟ p͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟a͟n͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Irma Devita Purnamasari. Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami Masalah Hukum Waris Mizan. Bandung: Pustaka, 2012;
- Ahli waris, yang diakses pada 6 Mei 2025 pukul 11.09 WIB.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Menggadaikan Rumah Warisan yang dibuat oleh Shanti Rachmadsyah, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 08 Oktober 2010. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Bolehkah Menggadaikan Rumah Tanpa Izin Ahli Waris Lainnya? Pada tanggal 06 Mei 2025. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 12 Oktober 2026M/01 Jumadil Awal 1448H.
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

