
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com)PERTANYAAN
Tolong dijelaskan apa yang membedakan subjek hukum dalam hukum perdata dengan subjek hukum dalam hukum pidana? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers beserta Paralegalnya semoga dimudahkan segala kasus yang sedang ditanganinya. Aamiin..
Wassalam,
Mbah Ojenk – Pakar Sejarah
•••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℑ𝔩𝔪𝔲 ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪】
𝔅𝔞𝔦𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞s 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞, 𝔰𝔲𝔟𝔧𝔢𝔨 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔦𝔯𝔦 𝔡𝔞𝔯𝔦 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪. 𝔎𝔢𝔡𝔲𝔞 𝔟𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔞𝔨𝔲𝔦 𝔟𝔞𝔥𝔴𝔞 𝔟𝔞𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔪𝔢𝔪𝔭𝔲𝔫𝔶𝔞𝔦 𝔨𝔢𝔴𝔢𝔫𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔰𝔢𝔭𝔢𝔯𝔱𝔦 𝔥𝔞𝔩𝔫𝔶𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤/𝔦𝔫𝔡𝔦𝔳𝔦𝔡𝔲, 𝔡𝔦𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔟𝔞𝔡𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔰𝔢𝔩𝔞𝔩𝔲 𝔡𝔦𝔴𝔲𝔧𝔲𝔡𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔩𝔲𝔦 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔞𝔭𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔢𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔰𝔲𝔟𝔧𝔢𝔨 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Pengertian Subjek Hukum
Pada dasarnya, subjek hukum adalah s͟e͟g͟a͟l͟a͟ s͟e͟s͟u͟a͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ h͟a͟k͟ d͟a͟n͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ w͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟t͟i͟n͟d͟a͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. K͟͟e͟͟w͟͟e͟͟n͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟ u͟n͟t͟u͟k͟ b͟e͟r͟t͟i͟n͟d͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟m͟a͟k͟s͟u͟d͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ b͟e͟r͟t͟i͟n͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟u͟r͟u͟t͟ h͟͟͟u͟͟͟k͟͟͟u͟͟͟m͟͟͟.[¹]
Adapun subjek hukum dalam perspektif hukum perdata dan hukum pidana adalah sebagai berikut.
Subjek Hukum Perdata
1. Orang
Subekti dalam buku yang berjudul Pokok-Pokok Hukum Perdata (hal. 19-21) menyatakan bahwa dalam hukum, orang (persoon) berarti pembawa hak atau subjek di dalam hukum. Sebagaimana kami sarikan, s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ d͟i͟k͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ (p͟e͟m͟b͟a͟w͟a͟ h͟͟a͟͟k͟͟) d͟i͟m͟u͟l͟a͟i͟ s͟e͟j͟a͟k͟ i͟a͟ d͟i͟l͟a͟h͟i͟r͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟k͟h͟i͟r͟ s͟a͟a͟t͟ i͟a͟ m͟͟e͟͟n͟͟i͟͟n͟͟g͟͟g͟͟a͟͟l͟͟. B͟͟a͟͟h͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, j͟i͟k͟a͟ d͟i͟p͟e͟r͟l͟u͟k͟a͟n͟ (s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ m͟i͟s͟a͟l͟n͟y͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟), d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟h͟i͟t͟u͟n͟g͟ s͟e͟j͟a͟k͟ i͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟͟a͟͟n͟͟d͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, a͟͟s͟͟a͟͟l͟͟ i͟a͟ k͟͟e͟͟m͟͟u͟͟d͟͟i͟͟a͟͟n͟͟ d͟i͟l͟a͟h͟i͟r͟k͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ h͟͟i͟͟d͟͟u͟͟p͟͟.
Dalam kehidupan sehari-hari, yang menjadi subjek hukum dalam sistem hukum Indonesia ialah individu, dengan tindakan hukum sebagai berikut:[²]
a. hak menagih
piutang;
b. hak untuk
mengatur ganti
rugi;
c. kewajiban
membayar pajak;
d. kewajiban
menyerahkan
barang yang dibeli;
dan lain-lain.
2. Badan Hukum
Berdasarkan pendapat Subekti dalam bukunya yang sama (hal. 21), dinyatakan bahwa di samping orang, badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan juga memiliki hak dan melakukan perbuatan hukum seperti seorang manusia. Badan-badan atau perkumpulan-perkumpulan itu mempunyai kekayaan sendiri, ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantara pengurusnya, dapat digugat, dan dapat juga menggugat di muka hakim.
Pada sumber lain, penjelasan dalam artikel Metamorfosis Badan Hukum Indonesia mengatakan bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ t͟e͟l͟a͟h͟ l͟a͟m͟a͟ d͟i͟a͟k͟u͟i͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟u͟a͟t͟u͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ (s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟u͟a͟t͟u͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ m͟͟a͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟; p͟e͟r͟s͟o͟n͟a͟ s͟t͟a͟n͟d͟i͟ i͟n͟ j͟͟u͟͟d͟͟i͟͟c͟͟i͟͟o͟͟) d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ (o͟n͟r͟e͟c͟h͟t͟m͟a͟t͟i͟g͟e͟ h͟͟a͟͟n͟͟d͟͟e͟͟l͟͟e͟͟n͟͟; t͟o͟r͟t͟). Badan hukum mempunyai kewenangan melakukan perbuatan hukum seperti halnya orang, akan tetapi perbuatan hukum itu hanya terbatas pada bidang hukum harta kekayaan. Mengingat wujudnya adalah badan atau lembaga, dalam mekanisme pelaksanaannya badan hukum bertindak dengan perantara pengurus-pengurusnya.
Subjek Hukum Pidana (Publik)
1. Orang
Wirjono Prodjodikoro dalam Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia (hal. 59) mengatakan bahwa dalam pandangan KUHP lama (sebelum diubah oleh UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026) [³], y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ a͟͟d͟͟a͟͟l͟͟a͟͟h͟͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ o͟͟k͟͟n͟͟u͟͟m͟͟. Ini terlihat pada perumusan-perumusan dari tindak pidana dalam KUHP yang menampakkan daya berpikir sebagai syarat bagi subjek tindak pidana itu, juga terlihat pada wujud hukuman/pidana yang termuat dalam pasal-pasal KUHP, yaitu hukuman penjara dan denda.
2. Badan Hukum (Korporasi)
Subjek hukum tindak pidana khusus diperluas, tidak saja meliputi orang pribadi, melainkan juga badan hukum.[⁴] Hal ini karena, s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟͟e͟͟r͟͟d͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ b͟e͟r͟t͟i͟n͟d͟a͟k͟ d͟a͟l͟a͟m͟ d͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ k͟͟o͟͟r͟͟p͟͟o͟͟r͟͟a͟͟s͟͟i͟͟.[⁵]
Masih bersumber pada artikel Metamorfosis Badan Hukum Indonesia, dalam ilmu hukum pidana, gambaran tentang pelaku tindak pidana (kejahatan) masih sering dikaitkan dengan perbuatan yang secara fisik dilakukan oleh pelaku (fysische dader).
Namun demikian, untuk perbuatan korporasi sendiri sebenarnya selalu diwujudkan melalui perbuatan manusia (direksi; manajemen), m͟a͟k͟a͟ p͟e͟l͟i͟m͟p͟a͟h͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ (m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟; n͟a͟t͟u͟r͟a͟l͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟o͟͟o͟͟n͟͟) m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ k͟o͟r͟p͟o͟r͟a͟s͟i͟ (b͟a͟d͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟; l͟e͟g͟a͟l͟ p͟e͟r͟s͟o͟o͟n͟) d͟͟a͟͟p͟͟a͟͟t͟͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ a͟p͟a͟b͟i͟l͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ k͟͟͟͟͟͟͟͟o͟͟͟͟͟͟͟͟r͟͟͟͟͟͟͟͟p͟͟͟͟͟͟͟͟o͟͟͟͟͟͟͟͟r͟͟͟͟͟͟͟͟a͟͟͟͟͟͟͟͟s͟͟͟͟͟͟͟͟i͟͟͟͟͟͟͟͟. Ini yang dikenal sebagai konsep hukum tentang pelaku fungsional (functionele dader).
Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 45 UU 1/2023, korporasi merupakan subjek tindak pidana, yang mencakup:
a. badan hukum
seperti perseroan
terbatas (“PT”),
yayasan, koperasi
Badan Usaha Milik
Negara (“BUMN”),
Badan Usaha Milik
Daerah (“BUMD”),
atau yang
disamakan dengan
itu;
b. perkumpulan baik
yang berbadan
hukum maupun
tidak berbadan
hukum;
c. badan usaha yang
berbentuk firma,
persekutuan
komanditer, atau
yang disamakan
dengan itu sesuai
dengan ketentuan
peraturan
perundang-
undangan.
Selanjutnya, tindak pidana oleh korporasi dapat dipertanggungjawabkan, jika:[⁶]
a. termasuk dalam
lingkup usaha atau
kegiatan
sebagaimana
ditentukan dalam
anggaran dasar
atau ketentuan lain
yang berlaku bagi
korporasi;
b. menguntungkan
korporasi secara
melawan hukum;
c. diterima sebagai
kebijakan
korporasi;
d. korporasi tidak
melakukan
langkah-langkah
yang diperlukan
untuk melakukan
pencegahan,
mencegah dampak
yang lebih besar
dan memastikan
kepatuhan
terhadap
ketentuan hukum
yang berlaku guna
menghindari
terjadinya tindak
pidana; dan/atau
e. korporasi
membiarkan
terjadinya tindak
pidana.
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa b͟a͟i͟k͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ s͟u͟b͟j͟e͟k͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟d͟i͟r͟i͟ d͟a͟r͟i͟ o͟r͟a͟n͟g͟ d͟a͟n͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
D͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, k͟e͟d͟u͟a͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟u͟i͟ b͟a͟h͟w͟a͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ h͟a͟l͟n͟y͟a͟ o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟. H͟a͟l͟ i͟n͟i͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ b͟a͟d͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ s͟e͟l͟a͟l͟u͟ d͟i͟w͟u͟j͟u͟d͟k͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟.
Selain itu, baik dalam hukum pidana maupun hukum perdata, badan hukum dalam melakukan perbuatan hukum bertindak dengan perantaraan pengurus-pengurusnya. Dalam hukum pidana, karena perbuatan badan hukum selalu diwujudkan melalui perbuatan manusia (misalnya direksi), m͟a͟k͟a͟ p͟e͟l͟i͟m͟p͟a͟h͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ p͟a͟d͟a͟ m͟͟a͟͟n͟͟u͟͟s͟͟i͟͟a͟͟, dalam hal ini diwakili oleh direksi. Akan tetapi, pada perkembangannya, dalam peraturan perundang-undangan dikenal juga tindak pidana korporasi.
Demikian jawaban dari kami terkait subjek hukum perdata dan pidana sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- I Ketut Mertha (et al.). Buku Ajar Hukum Pidana. Denpasar: Fakultas Hukum Universitas Udayana, 2016;
- Joko Sriwidodo. Kajian Hukum Pidana Indonesia: Teori dan Praktek. Jakarta: Penerbit Kepel Press, 2019;
- Sri Warjiyati. Memahami Dasar Ilmu Hukum: Konsep Dasar Ilmu Hukum. Jakarta: Prenadamedia Group, 2018;
- Subekti. Pokok-Pokok Hukum Perdata. Jakarta: Intermasa, 2003;
- Wirjono Prodjodikoro. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia. Bandung: Refika Aditama, 2003.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Subjek Hukum dalam Hukum Perdata dan Hukum Pidana yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 13 Januari 2014, kemudiah dimutakhirkan pertama kali oleh Rifdah Rudi, S.H. pada 08 Maret 2024. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 11 Mei 2026. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 05 September 2026M/22 Rabi’ul Awal 1448H.
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

