
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN
Saya mau tanya tentang hukum membatalkan perkawinan sepihak dari pihak keluarga laki-laki. Tanpa pemberitahuan dan permintaan maaf kepada pihak perempuan secara langsung maupun tidak langsung, tanpa alasan yang jelas. Sedangkan, pihak perempuan sudah mempersiapkan semua hal dan ini menyebabkan kerugian materi dan immaterial. Bisakah saya menuntut calon saya? Lalu adakah kejadian seperti ini? Saya dari pihak perempuan merasa sebagai pihak yang sangat dirugikan. Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers dan Paralegalnya semoga diberikan kemudahan jodoh, dan jangan sampai mengalami kejadian seperti apa yang sedang saya alami saat ini. Aamiin..
Wassalam,
Indah Adel – Single Parent
•••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔢𝔯𝔦𝔥𝔞𝔩 𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦 𝔨𝔞𝔴𝔦𝔫 𝔡𝔦𝔪𝔲𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔓𝔞𝔰𝔞𝔩 58 𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞. 𝔖𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔰𝔢𝔡𝔢𝔯𝔥𝔞𝔫𝔞 𝔞𝔡𝔞 𝔱𝔦𝔤𝔞 𝔥𝔞𝔩 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔯𝔲𝔪𝔲𝔰𝔨𝔞𝔫 𝔭𝔞𝔰𝔞𝔩 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱, 𝔞𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔩𝔞𝔦𝔫:
- 𝔍𝔞𝔫𝔧𝔦 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔨𝔞𝔥𝔦 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔪𝔟𝔲𝔩𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱 𝔡𝔦 𝔪𝔲𝔨𝔞 𝔥𝔞𝔨𝔦𝔪 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔡𝔦𝔩𝔞𝔫𝔤𝔰𝔲𝔫𝔤𝔨𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔫𝔦𝔨𝔞𝔥𝔞𝔫. 𝔖𝔢𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔱𝔲, 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔭𝔲𝔩𝔞 𝔪𝔢𝔫𝔦𝔪𝔟𝔲𝔩𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔤𝔞𝔫𝔱𝔦𝔞𝔫 𝔟𝔦𝔞𝔶𝔞, 𝔨𝔢𝔯𝔲𝔤𝔦𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔟𝔲𝔫𝔤𝔞, 𝔞𝔨𝔦𝔟𝔞𝔱 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦𝔫𝔶𝔞 𝔧𝔞𝔫𝔧𝔦 𝔦𝔱𝔲. 𝔖𝔢𝔪𝔲𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔢𝔱𝔲𝔧𝔲𝔞𝔫 𝔤𝔞𝔫𝔱𝔦 𝔯𝔲𝔤𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔞𝔩 𝔦𝔫𝔦 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔟𝔞𝔱𝔞𝔩.
- 𝔄𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔱𝔞𝔭𝔦, 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔢𝔯𝔦𝔱𝔞𝔥𝔲𝔞𝔫 𝔫𝔦𝔨𝔞𝔥 𝔱𝔢𝔩𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔦𝔨𝔲𝔱𝔦 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔲𝔪𝔲𝔪𝔞𝔫, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔥𝔞𝔩 𝔦𝔫𝔦 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔧𝔞𝔡𝔦 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱 𝔨𝔢𝔯𝔲𝔤𝔦𝔞𝔫.
- 𝔐𝔞𝔰𝔞 𝔨𝔢𝔡𝔞𝔩𝔲𝔴𝔞𝔯𝔰𝔞 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔱𝔲𝔱 𝔤𝔞𝔫𝔱𝔦 𝔯𝔲𝔤𝔦 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 18 𝔟𝔲𝔩𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔥𝔦𝔱𝔲𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔧𝔞𝔨 𝔭𝔢𝔫𝔤𝔲𝔪𝔲𝔪𝔞𝔫 𝔯𝔢𝔫𝔠𝔞𝔫𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔴𝔦𝔫𝔞𝔫.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
Dalam praktiknya, tidak sedikit janji kawin yang akhirnya tidak ditepati. Sebagian orang mungkin menganggap bahwa tidak menepati janji kawin atau membatalkan perkawinan adalah hal biasa, namun faktanya m͟e͟n͟g͟i͟n͟g͟k͟a͟r͟i͟ j͟a͟n͟j͟i͟ k͟a͟w͟i͟n͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟n͟y͟a͟t͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ P͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ M͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ H͟u͟k͟u͟m͟ (“P͟M͟H͟”).
Janji Kawin dalam KUH Perdata
Perihal janji kawin dimuat dalam Pasal 58 KUH Perdata. Ketentuan pasal tersebut mengatur hal berikut:
- J͟a͟n͟j͟i͟ k͟a͟w͟i͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ h͟a͟k͟i͟m͟ b͟e͟r͟l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟n͟y͟a͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟w͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, j͟u͟g͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟a͟n͟ b͟͟i͟͟a͟͟y͟͟a͟͟, k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟n͟ b͟͟u͟͟n͟͟g͟͟a͟͟, a͟k͟i͟b͟a͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟n͟y͟a͟ j͟a͟n͟j͟i͟ i͟͟t͟͟u͟͟, s͟e͟m͟u͟a͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ g͟͟a͟͟n͟͟t͟͟i͟͟ r͟u͟g͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ i͟n͟i͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ b͟͟a͟͟t͟͟a͟͟l͟͟.
- Akan tetapi, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ k͟a͟w͟i͟n͟ i͟n͟i͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟i͟k͟u͟t͟i͟ o͟l͟e͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ h͟a͟l͟ i͟t͟u͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟s͟a͟r͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ p͟e͟n͟g͟g͟a͟n͟t͟i͟a͟n͟ b͟͟i͟͟a͟͟y͟͟a͟͟, k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ b͟i͟a͟y͟a͟ d͟a͟n͟ b͟u͟n͟g͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟-k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ n͟y͟a͟t͟a͟ d͟i͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟ o͟l͟e͟h͟ s͟a͟t͟u͟ p͟i͟h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟-b͟a͟r͟a͟n͟g͟n͟y͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ d͟a͟n͟ p͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟a͟n͟ p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟; dalam pada itu tak boleh diperhitungkan soal kehilangan keuntungan. Tuntutan ini lewat waktu dengan lampaunya waktu delapan belas bulan, terhitung dari pengumuman perkawinan itu.
Dalam pasal tersebut, terdapat tiga hal yang dirumuskan, antara lain:
- Janji menikahi tidak menimbulkan hak untuk menuntut di muka hakim untuk dilangsungkannya perkawinan. Selain itu, tidak pula menimbulkan hak untuk menuntut penggantian biaya, kerugian, dan bunga, akibat tidak dipenuhinya janji itu. Semua persetujuan ganti rugi dalam hal ini adalah batal.
- Akan tetapi, j͟i͟k͟a͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟t͟a͟h͟u͟a͟n͟ n͟i͟k͟a͟h͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟i͟k͟u͟t͟i͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟u͟͟m͟͟u͟͟m͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ h͟a͟l͟ i͟n͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ d͟a͟s͟a͟r͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟u͟n͟t͟u͟t͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟.
- Masa kedaluwarsa untuk menuntut ganti rugi tersebut adalah 18 bulan terhitung sejak pengumuman rencana perkawinan.
Menjawab pertanyaan Anda, sebagai pihak yang dirugikan Anda bisa menuntut calon suami yang membatalkan perkawinan sepihak sebagaimana tiga rumusan Pasal 58 KUH Perdata di atas.
Mengingkari Janji Kawin sebagai Perbuatan Melawan Hukum
Sebagaimana yang disampaikan, mengingkari janji kawin dapat dinyatakan sebagai Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Hal ini kami sampaikan karena faktanya, beberapa putusan pernah menyatakannya demikian.
Contoh Kasus 1
Dalam Putusan MA No. 522 K/Sip/1994, sebagaimana dikutip artikel Tidak Menepati Janji Menikahi Adalah PMH, Mahkamah Agung menghukum pria (D) yang berjanji menikahi dan bertunangan dengan seorang perempuan (R). Adanya janji kawin yang disampaikan membuat D dan R melakukan hubungan suami istri sampai sang perempuan hamil.
Kehamilan itu ternyata tidak diharapkan D dan memaksa (R) menggugurkan kandungan. Upaya paksa dibarengi dengan pukulan dan tendangan. MA akhirnya menghukum si pria dengan pidana menyerang kehormatan susila, pencurian dengan kekerasan, dan penganiayaan mengakibatkan luka berat.
Contoh Kasus 2
Kasus serupa juga telah diputus melalui Putusan MA No. 3191 K/Pdt/1984 yang pada intinya mengeluarkan kaidah hukum bahwa d͟e͟n͟g͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟e͟r͟p͟e͟n͟u͟h͟i͟n͟y͟a͟ j͟a͟n͟j͟i͟ k͟a͟w͟i͟n͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟w͟i͟n͟i͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟g͟a͟t͟ a͟l͟i͟a͟s͟ m͟e͟m͟b͟a͟t͟a͟l͟k͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟w͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ n͟o͟r͟m͟a͟ k͟e͟s͟u͟s͟i͟l͟a͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟p͟a͟t͟u͟t͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ m͟͟a͟͟s͟͟y͟͟a͟͟r͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟.
P͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ P͟M͟H͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟n͟i͟m͟b͟u͟l͟k͟a͟n͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ d͟i͟r͟i͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟g͟͟u͟͟g͟͟a͟͟t͟͟, m͟a͟k͟a͟ t͟e͟r͟g͟u͟g͟a͟t͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ k͟͟e͟͟r͟͟u͟͟g͟͟i͟͟a͟͟n͟͟. Sedangkan tuntutan ganti rugi yang diajukan penggugat terhadap semua biaya yang telah dikeluarkan selama hidup bersama itu, haruslah ditolak karena tidak diperjanjikan sebelumnya.
Demikian jawaban kami terkait langkah hukum yang dapat ditempuh jika pasangan membatalkan perkawinan sepihak sebagaimana ditanyakan, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
P͟u͟t͟u͟s͟a͟n͟:
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 522 K/Sip/1994;
- Putusan Mahkamah Agung Nomor 3191 K/Pdt/1984.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Langkah Hukum Jika Calon Suami Membatalkan Perkawinan Secara Sepihak yang dibuat oleh Diana Kusumasari, S.H., M.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Jumat, 23 Maret 2012, lalu dimutakhirkan pertama kali oleh Bernadetha Aurelia Oktavira, S.H. pada 06 Januari 2023. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Bisakah Menuntut Pasangan yang Membatalkan Perkawinan? Pada tanggal 13 Agustus 2026. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 06 September 2026M/23 Rabi’ul Awal 1448H.
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

