INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) – Masalah klasik pendangkalan Muara Karangsong, Indramayu, kini memasuki fase krusial. Dalam pertemuan tatap muka bersama Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri di Pelabuhan Karangsong, perwakilan nelayan mengeluhkan kondisi sedimentasi sungai yang sudah berada di ambang batas parah dan mengganggu produktivitas mereka.
.
Meski klaim pengajuan pembenahan sudah dikirimkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan sejak sebulan lalu, realisasi di lapangan dinilai belum membuahkan hasil. Dampak dari pendangkalan ini pun mulai memukul sektor ekonomi penangkap ikan.
Risiko kapal kandas yang tinggi memaksa nelayan mengeluarkan biaya operasional ekstra, yang ironisnya berbanding terbalik dengan pendapatan akibat waktu melaut yang terpangkas.
.
Nelayan menegaskan bahwa proyek pengerukan berkala tidak akan cukup tanpa adanya perbaikan permanen pada struktur breakwater (pemecah ombak). Penataan infrastruktur penahan arus ini dianggap sebagai kunci utama agar sedimentasi baru tidak kembali menutup jalur kapal pasca-pengerukan.
.
Menutup dialog, perwakilan Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri memastikan seluruh poin tuntutan nelayan akan segera dikoordinasikan dengan pemangku kebijakan terkait. Sembari menunggu tindak lanjut dari otoritas berwenang, petugas meminta nelayan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan memantau dinamika cuaca sebelum berangkat melaut. (Bagus)

Pelabuhan Muara Karangsong Indramayu Dangkal Parah, Nelayan Merugi Akibat Biaya Operasional Membengkak
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) – Masalah klasik pendangkalan Muara Karangsong, Indramayu, kini memasuki fase krusial. Dalam pertemuan tatap muka bersama Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri di Pelabuhan Karangsong, perwakilan nelayan mengeluhkan kondisi sedimentasi sungai yang sudah berada di ambang batas parah dan mengganggu produktivitas mereka.
.
Meski klaim pengajuan pembenahan sudah dikirimkan ke Dinas Perikanan dan Kelautan sejak sebulan lalu, realisasi di lapangan dinilai belum membuahkan hasil. Dampak dari pendangkalan ini pun mulai memukul sektor ekonomi penangkap ikan.
Risiko kapal kandas yang tinggi memaksa nelayan mengeluarkan biaya operasional ekstra, yang ironisnya berbanding terbalik dengan pendapatan akibat waktu melaut yang terpangkas.
.
Nelayan menegaskan bahwa proyek pengerukan berkala tidak akan cukup tanpa adanya perbaikan permanen pada struktur breakwater (pemecah ombak). Penataan infrastruktur penahan arus ini dianggap sebagai kunci utama agar sedimentasi baru tidak kembali menutup jalur kapal pasca-pengerukan.
.
Menutup dialog, perwakilan Ditpolair Korpolairud Baharkam Polri memastikan seluruh poin tuntutan nelayan akan segera dikoordinasikan dengan pemangku kebijakan terkait. Sembari menunggu tindak lanjut dari otoritas berwenang, petugas meminta nelayan tetap mengedepankan aspek keselamatan kerja dan memantau dinamika cuaca sebelum berangkat melaut. (Bagus)

