INDRAMAYU, (lintaspabtursindonedia.com) – Desa Dadap, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, bukan sekadar desa pesisir biasa. Ia adalah ruang sejarah panjang yang terus hidup, tumbuh, dan kini bersiap menatap masa depan baru di bawah kepemimpinan Ali Faosal untuk periode 2026–2034.
Dokumen resmi sejarah Desa Dadap Tahun 2026 mengungkap jejak panjang perjalanan desa ini sejak tahun 1789. Kala itu, Ki Geden Tangtang Buana menggagas pertemuan penting para tokoh masyarakat. Dari musyawarah itulah lahir kesepakatan yang menjadi tonggak awal: nama “Dadap” ditetapkan sebagai identitas desa.
Rapat perdana yang dipimpin oleh Mbah Buyut Tangtang Buana menjadi fondasi awal pemerintahan desa. Sejak saat itu, Dadap tidak hanya berdiri sebagai wilayah, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
Sejumlah tokoh pendiri turut mewarnai lahirnya desa ini. Nama-nama seperti Mbah Buyut Amrillah atau Marilah dari Pemalang, Mbah Buyut Mukhidin, serta Mbah Buyut Asmaun atau Sama’un dari wilayah Tuban–Demak tercatat sebagai bagian penting dari sejarah awal pembentukan Dadap. Jejak mereka masih terasa dalam nilai-nilai sosial masyarakat hingga hari ini.
Salah satu kekuatan Desa Dadap adalah kesinambungan kepemimpinan. Sejak Ki Jaya Praja sebagai kuwu pertama, estafet pemerintahan terus berjalan tanpa putus. Hingga kini, tercatat 26 pemimpin desa telah mengabdi, membentuk karakter dan arah pembangunan Dadap dari masa ke masa.
Memasuki era modern, dinamika kepemimpinan semakin terasa. Nama-nama seperti Sana M. (1993–1995), Kasmadi (1995–1998), Junaedi (2004–2010), H.D. Sofa Nasman (2011–2015), hingga Asyriqin, S.Sos. (2018–2026) menjadi bagian dari perjalanan transformasi desa menuju pembangunan yang lebih terarah.
Kini, tongkat estafet itu beralih kepada Ali Faosal. Terpilih sebagai kuwu ke-26 untuk periode 2026–2034, ia memikul harapan besar masyarakat Dadap untuk membawa desa ini melangkah lebih maju tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
“Saya berkomitmen melanjutkan program pembangunan yang telah berjalan, sekaligus menjawab tantangan ke depan dengan semangat gotong royong dan musyawarah,” tegas Ali Faosal.
Transparansi Dipertanyakan
Penetapan kepemimpinan baru ini bukan sekadar pergantian figur, tetapi juga momentum strategis bagi Desa Dadap untuk memperkuat identitas sekaligus mempercepat pembangunan berbasis potensi lokal, terutama sebagai desa pesisir yang memiliki peluang besar di sektor ekonomi dan sumber daya alam.
Penerbitan dokumen sejarah Desa Dadap menjadi langkah penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat. Lebih dari sekadar catatan masa lalu, dokumen ini diharapkan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda agar tetap terhubung dengan akar sejarahnya.
“Sejarah adalah jati diri. Dengan memahaminya, masyarakat akan lebih solid dalam membangun masa depan,” demikian pesan yang tertuang dalam dokumen tersebut.
Dari musyawarah sederhana di tahun 1789 hingga kepemimpinan baru di tahun 2026, Desa Dadap membuktikan bahwa kekuatan sebuah desa terletak pada kemampuannya menjaga tradisi sekaligus berani bertransformasi. Kini, di tangan Ali Faosal, arah masa depan itu mulai ditentukan. (Bagus)

