INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Indramayu mengapresiasi terhadap tiga tokoh yang telah berjuang sukseskan Asta Cita program Presiden RI Jendral TNI (Purn) Prabowo Subianto di bidang ketahanan pangan salah satunya komoditas kedelai Garuda Merah Putih di wilayah Kabupaten Indramayu-Jawa Barat.
Bukti kongkrit lahan garapan masyarakat Desa Tegalmulya Kecamatan Tukdana Kabupaten Ibdramayu, pasca panen padi musim rendeng tahun 2026, lahan tersebut kini di tanami perdana komoditas kedelai unggulan yang tingginya bisa mencapai 1,5 meter. Hal itu di inisiasi oleh ketiga tokoh yakni pengusaha sukses asal Indramayu, H Mulyadi, Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, dan Kol Laut (P) Edi Eka Susanto. Dalam acara perdana tanam bibit unggulan komoditas kedelai Garuda Merah Putih di atas lahan 210 hektar, Minggu (26/4/2026).
Dalam kesempatan itu, Ketua PWI Kabupaten Indramayu H Dedy S Musashi didampingi sekreatris PWI Indramayu Cipyadi dan Waka bidang organisasi PWI Kabupaten Indramayu, Abdul Gani memberikan baju seragam PWI kepada H. Mulyadi selaku anggota kehormatan PWI Kabupaten Indramayu. Disampinh itu Dedy juga memberikan kaos PWI kepada Prof. Ali Zum Mashar dan Seskab, Kol Laut (P) Ali Eko Susanto bentuk apresiasi di depan ratusan petani yang akan melakukan aksi tanam perdana kedelai di lahan seluas 210 hektar di desa Sukamulya kecamatan Tukdana.
Sosok H Mulyadi menurut Demush, telah membawa program ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu melalui gerakan menanam jagung dan kedelai di lahan lahan yang selama ini tidak termanfaatkan.
H Mulyadi selama ini, mampu mengajak kelompok tani untuk bangkit dalam mengatasi ketahanan pangan nasional. Demush mengatakan sosok H Mulyadi ini patut di apresiasi karena beliau telah membangkitkan petani khususnya yang berada di sekitar kawasan hutan untuk kembali diberdayakan. Petani tanpa harus memikirkan bibit, pupuk organik, biaya operasional dan penjualan hasil panen yang oleh petani semuanya itu dipertanggung jawabkan.
“Ini yang kami apresiasi. Saat petani kesulitan permodalan ingin menanam, ada sosok H Mulyadi yang memberikan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan petani,” jelas Dedy Musashi.
Sosok lainnya adalah Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, peneliti bioteknologi yang sudah malang melintang melakukan penelitian terhadap tanaman pangan khususnya kedelai di Indonesia.
Menurut Dedy, prof. Ali Zum ini memilih lahan di Kabupaten Indramayu setelah malang melintang melakukan penelitian terhadap kedelai di berbagai daerah di Indonesia.
“Dari mulai Lampung, Menado, Simalungun sudah dilakukan penelitian dengan tujuan agar Indonesia ini kedelai tidak bergantung dari luar negeri,” jelas Dedy.
Akhirnya kata Dedy, Prof Ali Zum melakukan penelitian terhadap unsur hara tanah yang ada di lahan bekas tanaman tebu di kabupaten Indramayu. Lahan ini dinilai sangat cocok dengan bibit kedelai hasil penelitiannya.
“Hasil penelitian Prof. Ali Zum ini akan diterapkan di Indramayu. Dengan ketersediaan lahan yang ada dan sumber daya manusianya yang mumpuni. Insya Allah ketahanan pangan dan ketergantungan import kedelai akan teratasi disini,” jelasnya.
Sosok yang ketiga kata Dedy, Kolonel Laut (P) Edi Eka Susanto, yang merupakan sosok yang telah lama berkecimpung dengan kedelai. Ia merupakan bagian dari Seskab dibawah pimpinan Letkol Teddy yang menterjemahkan gagasan presiden Prabowo Subianto dalam mengurangi ketergantungan import khususnya kedelai.
Dedy mengatakan beliau ini yang menterjemahkan program ketahanan pangan Presiden Prabowo melalui Asta Cita nya sehingga memilih Indramayu sebagai lahan tanam kedelai nasional.
“Sama seperti prof. Ali Zum. Sosok Kolonel Kedelai ini juga sudah keliling Nusantara untuk mencari lahan yang cocok ditanami kedelai. Tujuannya agar Indonesia tidak terus terusan import kedelai dari luar negeri,” kata Demush.
PWI kabupaten Indramayu sangat mengapresiasi ketiga tokoh ini yang mampu membawa program pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional. (Taryam)
Editor: Abdul Gani

