INDRAMAYU, 27 Maret 2026A (lintaspanturaindonesia.com) — Assalamualaikum sahabat embun pagi yang di Rahmati Allah
Bismillah Tawakkaltu’alallah laahawla walla khuwwata illahbillah
‐———————————
SYAWAL
Nama-nama bulan dalam kalender Hijriah bukan sekadar label, melainkan memiliki akar sejarah dan makna kebahasaan yang mendalam yang bisa diambil pelajaran. Salah satunya adalah bulan Syawal.
Mengapa bulan ini dinamakan Syawal (شَوَّال) ?
1️⃣ Meningkat
Secara etimologi, kata Syawwal berasal dari akar kata Syala (شال) yang berarti mengangkat atau meninggi. “Al-Irtifa” (kenaikan/mengangkat.
📚(Lisan al-Arob, Juz 11)
Artinya; Jika romadlon adalah madrasah, sekolah atau pelatihan, maka Syawwal adalah hasil dari pelatihannya yaitu “terangkat”nya derajat ketakwaan kita ke level yang lebih tinggi.
Atau jika Romadlon adalah kawah candradimuka tempat kita menempa jiwa, maka Syawal adalah medan pembuktiannya.
Kemenangan sejati di Idul fitri bukanlah saat kita kembali makan di siang hari, melainkan saat kita berhasil “meningkatkan” kualitas keimanan kita.
Jika setelah Romadlon perilaku baik malah menurun, mungkin puasanya hanya mendapatkan lapar dan dahaganya saja.
Syawal adalah waktu untuk bertanya pada diri sendiri :
- “Apa yang meningkat dalam diriku hari ini ?”
- Apakah kesabaran saya meningkat ?
- Apakah rasa syukur saya meningkat ?
- Apakah kepedulian sosial saya semakin tajam ?
- Apakah sholat malam dan subuh berjamaahnya istiqomah?
- Ataukah hanya kembali ke titik nol tanpa jejak perubahan ?
Mari jadikan bulan ini bukan sekadar bulan “balas dendam” kuliner, tapi bulan untuk merawat benih-benih kebaikan yang sudah kita tanam selama sebulan penuh.
Karena sejatinya, Idul fitri adalah hari raya bagi mereka yang ketaatannya meningkat, bukan sekadar mereka yang busananya serba baru.
2️⃣ Berkurang
Bahwa Syawwal berasal dari kata tashawwala (تشول) yang bermakna “berkurang” atau “menjadi sedikit”.
“Dinamakan Syawwal karena saat itu air susu unta mulai berkurang atau mengering [تشول لبن الإبل] (tasyawwala labanul ibil).”
📚 Ash-Shihah fi Al-Lughah : Imam Al-Jauhari.
Hal ini menjadi pengingat agar setelah Romadlon, semangat ibadah kita tidak ikut “mengering”.
Justru di bulan ini kita ditantang untuk menjaga sisa-sisa semangat Romadlon, agar tetap awet istiqomah sepanjang tahun.
Syawwal adalah momentum pembuktian. Apakah kualitas diri kita “naik” (Irtifa’) sesuai namanya, atau justru kita membiarkan amal kita “mengering berkurang” ?
✎ᝰ.
———-••♛♛♛••———-
☀️Selamat pagi dan beraktifitas di hari Jum’at, 27 Maret 2026
Semangat beraktivitas, jangan lupa senantiasa bersyukur, berprasangka baik, berkata baik & berbuat baik.
Mari kita mulai langkah kita hari ini dengan mengucap syukur atas nikmat hari ini bisa berjumpa kembali dalam keadaan sehat dan bahagia tentunya
selalubersyukur
selalusabar
ikhlas
Aamiin ya robbal Aalamiin🤲
Wassalam🙏
Penulis: H Sulaeman bin Daud/Yatno

