INDRAMAYU — Upaya penanganan banjir rob di Desa Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur Kabupaten Indramayu, mulai ada titik terang. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menyiapkan bantuan dana relokasi sebesar Rp10 juta per kepala keluarga (KK) bagi warga yang selama ini tinggal di bantaran Sungai Eretan.
Langkah relokasi ini menjadi bagian penting dari rencana normalisasi sungai dan pembangunan tanggul untuk mengatasi banjir rob yang sudah puluhan tahun menghantui warga di kawasan tersebut. Kondisi warga desa Eretan kini dinilai semakin mengkhawatirkan karena genangan air tak hanya berasal dari laut, tetapi juga dari sungai yang tak lagi mampu menampung debit air.
“Ini sungai sebentar lagi akan dinormalisasi oleh BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai). Nah, sekarang warganya dikasih uang untuk pindah dulu, nilainya Rp 10 juta,” kata Dedi saat meninjau lokasi di Kantor Kecamatan Kandanghaur, Kamis (18/12/2025).
Menurut Dedi, pembangunan tanggul dan tembok laut tidak bisa dilakukan jika bantaran sungai masih ditempati warga. Karena itu, relokasi sementara menjadi solusi agar proyek pengendalian banjir dapat berjalan tanpa hambatan.
“Untuk bangun tanggul, sungainya harus bersih. Maka warganya memang harus direlokasi lebih dulu,” ujarnya.
Data sementara mencatat sebanyak 207 kepala keluarga akan menerima bantuan senilai Rp10 juta per KK diperuntukkan bagi kebutuhan sewa rumah atau tempat tinggal sementara selama proses pembongkaran dan pembangunan berlangsung.
Tak hanya relokasi sementara, Pemprov Jawa Barat juga menyiapkan rencana jangka panjang. Dedi meminta Pemerintah Kabupaten Indramayu segera menyiapkan lahan untuk pembangunan kampung nelayan sebagai hunian pengganti warga yang terdampak.
“Biar sungainya mengalir, rakyatnya tidak bikin khawatir, hal itu menyedihkan. Nanti kita bangun kampung nelayan yang bersih,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Dedi juga mengingatkan agar bantuan relokasi digunakan sesuai peruntukannya. Ia menekankan dana tersebut bukan untuk konsumsi, melainkan untuk mendukung proses pindah dan persiapan tempat tinggal yang lebih aman.
“Kalau sekarang tinggal di rumah anak atau saudara yang penting tidak kebanjiran, ya uang Rp 10 juta berarti nasibnya bagus, bisa dipakai buat persiapan bangun rumah,” tuturnya
(Taryam)
Editor: Abdul Gani
