Bagian Kesepiluh
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Autopoiesis dan Autoevolusi: Misteri Kehidupan yang Belum Tertiru oleh Sains
1.Pendahuluan
INDRAMAYU — Salah satu ciri paling unik dari makhluk hidup adalah kemampuannya untuk mengatur diri sendiri. Dalam ilmu biologi modern, konsep ini dikenal sebagai autopoiesis — istilah yang pertama kali diperkenalkan oleh Humberto Maturana dan Francisco Varela (1972). Autopoiesis berarti sistem yang dapat mereproduksi dan mempertahankan dirinya secara mandiri, berbeda dari mesin buatan manusia yang sepenuhnya bergantung pada perbaikan eksternal.
Namun, selain autopoiesis, kehidupan juga menunjukkan kemampuan lain yang tak kalah fundamental: berevolusi secara mandiri. Evolusi bukanlah sekadar adaptasi, melainkan perubahan struktural dan fungsional yang berlangsung lintas generasi tanpa campur tangan dari luar. Konsep ini bisa disebut sebagai autoevolusi — sebuah istilah baru untuk menegaskan perbedaan kehidupan dengan sistem buatan manusia.
2.Autopoiesis: Sistem yang Memelihara Diri
Autopoiesis adalah kemampuan sel atau organisme untuk:
Membangun dirinya sendiri dari komponen dasar (misalnya sel membentuk membran, enzim, protein).
Memperbaiki dirinya bila ada kerusakan.
Mengatur metabolisme untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Dengan kata lain, sebuah organisme hidup adalah “pabrik yang membangun pabrik itu sendiri.” Mesin mekanik, sebaliknya, tidak dapat memperbaiki dirinya tanpa agen eksternal.
3.Autoevolusi: Kemampuan Berubah dan Bertahan
Jika autopoiesis menjaga keberlangsungan sistem pada level individu, maka autoevolusi menjaga keberlanjutan sistem pada level spesies.
Autoevolusi mencakup:
Variasi internal (mutasi genetik, rekombinasi).
Seleksi alami yang memungkinkan individu lebih adaptif bertahan.
Transmisi antar generasi (DNA/RNA sebagai pengemban informasi).
Tidak ada mesin buatan manusia yang memiliki kemampuan serupa. Robot atau kecerdasan buatan bisa “ditingkatkan,” tetapi peningkatan itu selalu datang dari intervensi luar, bukan dari mekanisme internal yang otonom.
4.Tantangan Sainstek: Meniru Kehidupan
Bioteknologi dan kecerdasan buatan telah mencapai kemajuan besar, tetapi keduanya belum bisa meniru:
Autopoiesis: menciptakan sel yang sepenuhnya mandiri dari nol.
Autoevolusi: sistem buatan yang bisa beradaptasi lintas generasi tanpa campur tangan luar.
Hal ini menunjukkan adanya dimensi informasi biologis yang lebih dalam daripada sekadar susunan kimia. Kehidupan bukan hanya “materi” tetapi juga “aturan dan dinamika” yang sampai sekarang masih misterius.
5.Perspektif Filsafat Ilmu: Internalime vs Eksternalisme
Fenomena autopoiesis dan autoevolusi juga membuka diskusi dalam filsafat ilmu:
Internalisme (sistem tertutup): kehidupan seolah memiliki hukum internal yang otonom, cukup dengan dirinya sendiri tanpa campur tangan luar. Dari perspektif ini, organisme hidup adalah sistem yang menutup dirinya terhadap gangguan eksternal.
Eksternalisme (sistem terbuka): kehidupan selalu berhubungan dengan lingkungan, menerima input energi, materi, dan informasi dari luar. Dari perspektif ini, autopoiesis dan autoevolusi hanya mungkin terjadi karena adanya interaksi dengan kosmos.
Ketidakmampuan manusia meniru autopoiesis dan autoevolusi menandakan bahwa realitas kehidupan mungkin melampaui reduksi mekanistik. Kehidupan bisa dipandang sebagai jembatan antara sistem tertutup (aturan internal) dan sistem terbuka (relasi eksternal).
6.Penutup
Autopoiesis dan autoevolusi menyingkapkan kedalaman misteri kehidupan. Sains mampu menjelaskan banyak hal, tetapi masih belum dapat meniru “pabrik hidup” yang bisa memelihara dan mengembangkan dirinya secara mandiri.
Diskusi ini tidak hanya relevan dalam biologi, tetapi juga menyentuh filsafat ilmu, teologi, dan bahkan etika teknologi: apakah kehidupan sepenuhnya dapat dijelaskan secara material, ataukah ada lapisan realitas lain yang menjadikan kehidupan begitu unik?
BERSAMBUNG

