Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Sejak dahulu kala, manusia selalu bertanya: Apakah ruang dan waktu itu abadi? Apakah keduanya telah ada sejak awal, ataukah keduanya muncul dari sesuatu yang lebih mendasar? Pertanyaan ini tidak hanya menjadi perdebatan filsafat dan sains, tetapi juga memiliki resonansi kuat dalam teologi.
Sains modern melalui fisika kuantum dan kosmologi mengajarkan bahwa ruang-waktu bukanlah sesuatu yang absolut. Ia bisa muncul, berubah, bahkan mungkin tidak selalu “nyata” seperti yang kita rasakan dalam pengalaman sehari-hari. Sebaliknya, dalam tradisi agama-agama samawi, Tuhan dipandang sebagai entitas yang melampaui ruang dan waktu. Jika sains menyebut adanya laten (potensi yang belum teraktualkan) dalam ruang-waktu, maka teologi menyebut bahwa ruang-waktu adalah ciptaan Tuhan, bukan bagian dari diri-Nya.
Artikel ini mencoba mengurai keterkaitan antara ruang-waktu yang laten dalam kosmologi modern dan pandangan teologis mengenai transendensi Tuhan, dengan gaya ilmiah populer agar bisa dipahami oleh pembaca luas.
Ruang-Waktu dalam Kosmologi Modern
1.Waktu Planck: Batas Pengetahuan Fisika
Dalam fisika modern, ada skala terkecil yang disebut waktu Planck, sekitar 10⁻⁴³ detik. Pada rentang ini, hukum-hukum fisika yang kita kenal—termasuk relativitas Einstein—tidak lagi berlaku. Segala sesuatu berada dalam kondisi ekstrem, di mana gravitasi kuantum berperan dominan.
Stephen Hawking dan James Hartle pada 1983 mengajukan no-boundary proposal, yaitu gagasan bahwa alam semesta tidak memiliki “awal” dalam pengertian klasik, melainkan muncul dari kondisi kuantum yang “tanpa batas.” Dalam model ini, sebelum “Big Bang,” tidak ada waktu sebagaimana yang kita kenal, melainkan keadaan kuantum laten yang kemudian “bertransisi” menjadi ruang-waktu aktual (Hartle & Hawking, 1983).
2.Quantum Foam: Kabut Ketidakpastian
Fisika kuantum juga mengenalkan istilah quantum foam, diperkenalkan oleh John Wheeler pada 1955. Ia menggambarkan ruang-waktu di skala Planck sebagai lautan fluktuasi yang tidak stabil, mirip busa yang terus berubah. Ruang dan waktu bukanlah wadah statis, melainkan entitas yang bisa muncul dan lenyap secara probabilistik.
Dalam bahasa sederhana, sebelum ruang-waktu yang kita alami terbentuk, mungkin ada fase “kabut kuantum” di mana konsep posisi, jarak, bahkan urutan waktu belum berlaku dengan cara yang familiar.
3.Evolusi dari Laten ke Aktual
Jika kita terima gambaran ini, maka ruang-waktu tidaklah given (diberikan begitu saja), melainkan berproses dari “laten” menuju aktual. Inilah titik pertemuan dengan filsafat: sesuatu yang laten menuntut adanya sebab atau “pemicu” agar menjadi nyata.
Pandangan Teologi tentang Transendensi Tuhan
1.Islam
Dalam Islam, Tuhan dipahami sebagai qadīm (tanpa awal) dan baqā’ (tanpa akhir). Al-Qur’an menegaskan:
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Batin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. al-Ḥadīd [57]:3).
Al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa Allah tidak bergantung pada ruang maupun waktu. Justru sebaliknya, ruang dan waktu adalah ciptaan-Nya, sarana bagi makhluk, bukan bagi Sang Khalik.
2.Kristen
Dalam filsafat teologi Kristen, Thomas Aquinas menyebut Allah sebagai actus purus—aktus murni yang tidak terbatas. Waktu hanya berlaku pada ciptaan, sedangkan Allah berada dalam keadaan sempiternitas, yaitu keberadaan abadi yang tidak berubah.
3.Yahudi
Tradisi mistik Yahudi, Kabbalah, mengenalkan istilah Ein Sof (tanpa batas). Tuhan adalah realitas tak terbatas yang berada “di luar” ruang dan waktu, sekaligus menjadi sumber bagi keduanya.
4.Kesamaan Lintas Tradisi
Ketiga tradisi Abrahamik ini sepakat: Tuhan tidak terikat ruang dan waktu. Oleh karena itu, ketika sains berbicara tentang ruang-waktu yang mungkin pernah berada dalam keadaan “laten,” teologi dapat memaknainya sebagai bagian dari ciptaan yang masih berada di bawah kendali Tuhan.
Titik Temu Kosmologi dan Teologi
Pertanyaan menarik kemudian muncul: Bagaimana menghubungkan ruang-waktu laten dengan transendensi Tuhan?
1.Dari sisi sains, ruang-waktu mungkin tidak selalu aktual, melainkan lahir dari kondisi probabilistik.
2.Dari sisi teologi, ruang dan waktu adalah ciptaan, bukan sesuatu yang mutlak. Tuhan tidak membutuhkannya untuk ada.
3.Dari sisi filsafat, jika ruang-waktu bisa “bertransisi,” maka ada penyebab yang memungkinkan transisi itu. Dalam kerangka teologis, penyebab itu adalah Tuhan, yang disebut wājib al-wujūd (niscaya ada).
Dengan kata lain, “laten” dalam bahasa sains dapat disejajarkan dengan “ciptaan potensial” dalam bahasa teologi, dan “transendensi Tuhan” menjadi dasar yang memungkinkan laten itu berubah menjadi aktual.
Implikasi Filsafat dan Spiritualitas
1.Sains memiliki batas
Prinsip ketidakpastian Heisenberg menunjukkan bahwa ada batas pengetahuan manusia tentang realitas kuantum. Demikian pula, skala Planck menjadi “tembok” epistemologis.
2.Teologi melengkapi keterbatasan itu
Ketika sains tidak bisa menjawab “mengapa ada sesuatu ketimbang tidak ada,” teologi menawarkan jawaban: karena ada Sang Pencipta yang transenden.
3.Spiritualitas dan sains bisa berdialog
Dialog antara kosmologi dan teologi bukan untuk meniadakan sains, melainkan memperkaya cara kita memahami eksistensi. Ruang-waktu laten bisa menjadi pintu refleksi spiritual tentang keterbatasan manusia dan kebesaran Tuhan.
Kesimpulan
Sains modern mengajarkan bahwa ruang dan waktu tidak mutlak. Pada skala kuantum, keduanya mungkin berada dalam kondisi laten sebelum aktualisasi. Teologi di sisi lain menegaskan bahwa Tuhan berada di luar ruang dan waktu, dan justru menjadi penyebab adanya ruang-waktu.
Dengan memadukan dua perspektif ini, kita memperoleh pemahaman yang lebih utuh: sains menjelaskan “bagaimana” ruang-waktu muncul, sementara teologi menjelaskan “mengapa” ia bisa ada. Perpaduan ini membuka jalan menuju pandangan interdisipliner yang tidak hanya memperluas wawasan ilmiah, tetapi juga memperdalam kesadaran spiritual.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب
