Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Manusia adalah makhluk yang unik. Dibandingkan dengan spesies lain, manusia tidak hanya mampu bertahan hidup, tetapi juga mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang melampaui kebutuhan praktis. Kita tidak berhenti pada “bagaimana mendapatkan makanan?”, melainkan terus bergerak pada pertanyaan lebih jauh: “apa makna hidup?”, “dari mana semesta berasal?”, hingga “adakah kehidupan setelah kematian?”.
Fenomena daya bertanya yang tak terbatas ini menjadi salah satu tanda istimewa kesadaran manusia. Namun pertanyaan penting muncul: dari mana daya ini berasal? Apakah hanya hasil mekanisme otak biologis, ataukah ada dimensi lain yang melampauinya?
Otak: Wadah yang Terbatas
Neurosains menunjukkan bahwa otak manusia memiliki struktur yang luar biasa kompleks. Dengan sekitar 86 miliar neuron yang saling terhubung, otak memang menjadi pusat kendali bagi persepsi, memori, emosi, dan bahasa.
Akan tetapi, jika ditinjau secara biologis, otak tetaplah wadah yang terbatas. Kapasitas memori, kecepatan transmisi sinyal, hingga kerentanan terhadap kerusakan menunjukkan keterbatasan itu. Meski demikian, manusia mampu melahirkan pertanyaan yang seolah melampaui batas wadah biologisnya. Inilah yang kemudian mendorong perdebatan panjang antara pandangan materialis dengan pandangan yang mengakui aspek non-material dari kesadaran.
Emergent Property: Penjelasan Sains Kognitif
Dalam ilmu kognitif modern, fenomena daya bertanya sering dijelaskan dengan istilah emergent property. Konsep ini merujuk pada sifat atau kemampuan baru yang muncul dari sistem kompleks, yang tidak bisa dijelaskan hanya dari bagian-bagiannya.
Contoh sederhana: sifat “basah” tidak dapat ditemukan pada atom hidrogen atau oksigen secara terpisah. Namun saat keduanya bersatu menjadi air, muncullah sifat baru yang disebut “basah”. Begitu juga dengan otak. Setiap neuron memang tidak memiliki kemampuan bertanya, tetapi saat miliaran neuron berinteraksi dalam jaringan kompleks, muncul kesadaran, imajinasi, dan kemampuan bertanya tanpa batas.
Dengan demikian, dari kacamata sains, daya bertanya manusia adalah hasil kemunculan alami dari kompleksitas otak, bukan sekadar produk mekanis dari neuron.
Fitrah Ruhaniah: Perspektif Teologis
Sementara itu, dari perspektif agama, khususnya Islam, daya bertanya dipahami sebagai bagian dari fitrah ruhaniah. Fitrah adalah kecenderungan dasar yang Allah tanamkan dalam diri manusia, berupa dorongan untuk mengenal kebenaran, mencari makna, dan bertanya tentang asal-usul keberadaan.
Al-Qur’an menegaskan:
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rūm:30).
Ayat ini memberi gambaran bahwa daya mencari kebenaran—yang salah satu wujudnya adalah daya bertanya—adalah bagian esensial dari ciptaan manusia, bukan sekadar fenomena biologis. Bahkan, Nabi Muhammad ﷺ sering menghadapi umatnya dengan jawaban atas berbagai pertanyaan eksistensial, sebagaimana formula Al-Qur’an yang berulang: “yas’alūnaka” (mereka bertanya kepadamu).
Persamaan dan Perbedaan Perspektif
Jika dibandingkan, terdapat persamaan esensial dan perbedaan perspektif antara konsep emergent property dan fitrah ruhaniah:
Persamaan: keduanya mengakui bahwa daya bertanya tidak bisa direduksi hanya pada mekanisme biologis otak. Ada “tingkatan baru” yang muncul dalam diri manusia.
Perbedaan:
Emergent property menggunakan bahasa sains yang netral, melihat daya bertanya sebagai hasil kompleksitas sistem.
Fitrah ruhaniah menggunakan bahasa teologi, menisbatkan daya bertanya sebagai anugerah Ilahi yang melekat dalam ruh manusia.
Dengan demikian, emergent property dan fitrah ruhaniah dapat dipahami sebagai dua lensa berbeda untuk melihat kenyataan yang sama. Yang satu berbicara dengan istilah ilmiah, yang lain dengan bahasa teologis.
Penutup
Daya bertanya manusia adalah jembatan antara otak yang terbatas dan kesadaran yang tak terbatas. Dalam sains, ia dipahami sebagai fenomena emergensi dari kompleksitas otak. Dalam agama, ia dipahami sebagai fitrah ruhaniah yang Allah karuniakan.
Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru, keduanya saling melengkapi: sains memberi penjelasan mekanisme, sementara agama memberi makna asal-usul dan tujuan. Bersama-sama, keduanya menyingkap kenyataan bahwa manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk pencari makna yang tidak pernah puas untuk terus bertanya.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

