Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Pendahuluan
INDRAMAYU — Al-Qur’an mengandung banyak ayat yang menggugah perenungan manusia terhadap fenomena alam. Salah satunya adalah firman Allah:
“Dialah yang menjadikan untuk kamu api dari pohon yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari pohon itu.” (QS. Yāsīn [36]: 80).
Ayat ini menarik untuk dikaji karena secara lahiriah pohon hijau yang basah atau segar sulit diasosiasikan dengan api. Namun, melalui lensa sains modern, ayat ini dapat ditafsirkan dengan lebih dalam sebagai tanda hubungan antara energi, kehidupan, dan daya cipta Allah.
Pohon Hijau dan Fotosintesis
Istilah asy-syajar al-akhḍar (الشجر الأخضر) atau “pohon yang hijau” dalam ayat di atas tidak sekadar merujuk pada warna hijau secara literal, melainkan pada keadaan pohon yang masih hidup, basah, dan segar. Dalam ilmu tumbuhan, “kehijauan” erat kaitannya dengan klorofil, pigmen fotosintetik yang memungkinkan tumbuhan menyerap energi cahaya matahari dan mengubahnya menjadi energi kimia melalui fotosintesis.
Fotosintesis menghasilkan glukosa yang menjadi sumber energi utama bagi tumbuhan, sekaligus dasar bagi rantai makanan. Energi yang tersimpan dalam jaringan tumbuhan ini pada hakikatnya adalah energi cahaya matahari yang “diikat” dan dapat dilepaskan kembali, termasuk dalam bentuk panas dan api. Dengan demikian, hubungan antara “pohon hijau” dan “api” dapat dipahami melalui mekanisme fotosintesis sebagai cara Allah menyimpan energi dalam materi organik.^1
Mineral Tanah, Buah, dan Rasa
Selain energi dari fotosintesis, pohon juga menyerap air dan mineral dari tanah melalui akar. Mineral ini berperan penting dalam pembentukan buah, termasuk rasa, aroma, dan kualitas nutrisinya. Misalnya:
Kalium (K): meningkatkan rasa manis buah.
Magnesium (Mg): memengaruhi pembentukan klorofil dan enzim terkait metabolisme.
Kalsium (Ca): menjaga tekstur dan ketahanan buah.
Nitrogen (N): penting bagi pertumbuhan daun, yang berimbas pada suplai energi fotosintesis untuk pembentukan buah.
Perpaduan air, mineral, dan hasil fotosintesis menghasilkan aneka rasa buah yang beragam meskipun berasal dari tanah yang sama. Fenomena ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
“Dan di bumi terdapat bagian-bagian yang berdampingan, kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, pohon kurma yang bercabang dan tidak bercabang; disirami dengan air yang sama, tetapi Kami melebihkan sebagian atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berakal.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 4).
Ayat ini menggarisbawahi keajaiban ciptaan Allah, bahwa dari sumber air dan tanah yang sama dapat lahir buah-buahan dengan rasa dan karakteristik yang berbeda. Secara ilmiah, hal ini sesuai dengan peran genetik, enzimatik, serta komposisi mineral tanah yang menyusun metabolit sekunder dalam buah.
Energi, Kehidupan, dan Tanda-Tanda
Dengan demikian, “pohon hijau” dalam ayat QS. Yāsīn: 80 tidak hanya menunjuk pada segarnya pohon secara fisik, melainkan juga pada potensi kehidupan yang terkandung di dalamnya. Fotosintesis mengikat energi, mineral tanah membentuk kualitas buah, dan dari keduanya lahirlah keanekaragaman rasa dan gizi. Semua ini pada akhirnya dapat kembali menjadi sumber energi panas, bahkan api, yang menunjukkan adanya siklus energi ciptaan Allah.
Al-Qur’an tidak hanya mengajak manusia untuk mengagumi keindahan alam, tetapi juga untuk memahami bahwa di balik setiap fenomena terdapat tanda (āyah) yang mengarah pada Sang Pencipta. Dari energi yang tersimpan dalam daun hijau hingga keragaman rasa buah, semuanya adalah isyarat tentang keteraturan, kebijaksanaan, dan kekuasaan Allah.
Kesimpulan
Integrasi tafsir Al-Qur’an dengan sains menunjukkan bahwa konsep “api dari pohon hijau” dapat dipahami melalui mekanisme fotosintesis yang menyimpan energi matahari ke dalam jaringan tumbuhan. Energi ini tidak hanya menopang kehidupan tetapi juga berpotensi menjadi api. Selain itu, interaksi antara fotosintesis, mineral tanah, dan faktor genetik menghasilkan keragaman rasa buah yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, kajian ini menunjukkan harmonisasi antara wahyu dan ilmu pengetahuan, serta memperkuat pandangan bahwa alam semesta adalah kitab terbuka yang menyingkap tanda-tanda kebesaran Allah.
Catatan Kaki
1.Peter H. Raven, George B. Johnson, et al., Biology, 10th ed. (New York: McGraw-Hill, 2014), hlm. 178–182.
2.Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, tafsir QS. Yāsīn: 80.
3.Al-Qur’an, QS. ar-Ra‘d [13]: 4.
4.Taofik Hidayat, “Peran Unsur Hara dalam Pembentukan Rasa Buah,” Jurnal Hortikultura Indonesia 12, no. 2 (2018): 45–56.
Akhir kalam, والله اعلم بالصواب

