INDRAMAYU — PERTANYAAN
Belakangan ini, masyarakat dihebohkan dengan berita HGB laut Surabaya, HGB laut Tangerang, dan HGB laut Sidoarjo. Menurut berita yang beredar, fakta tentang HGB laut ini ditemukan dari aplikasi Bhumi milik Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Adapun sebagian sertifikat HGB terbit kisaran tahun 2022-2023.
Terkait temuan-temuan HGB laut tersebut, saya mempunyai pertanyaan, apakah HGB bisa diterbitkan di atas laut atau perairan? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih..
Jojo – Jambak City
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
ᴴᵃᵏ ᴳᵘⁿᵃ ᴮᵃⁿᵍᵘⁿᵃⁿ (“ᴴᴳᴮ”) ᵃᵈᵃˡᵃʰ ʰᵃᵏ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉⁿᵈⁱʳⁱᵏᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵐᵉᵐᵖᵘⁿʸᵃⁱ ᵇᵃⁿᵍᵘⁿᵃⁿ-ᵇᵃⁿᵍᵘⁿᵃⁿ ᵃᵗᵃˢ ᵗᵃⁿᵃʰ ʸᵃⁿᵍ ᵇᵘᵏᵃⁿ ᵐⁱˡⁱᵏⁿʸᵃ ˢᵉⁿᵈⁱʳⁱ, ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ʲᵃⁿᵍᵏᵃ ʷᵃᵏᵗᵘ ᵖᵃˡⁱⁿᵍ ˡᵃᵐᵃ ³⁰ ᵗᵃʰᵘⁿ. ᵀᵃⁿᵃʰ ʸᵃⁿᵍ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵇᵉʳⁱᵏᵃⁿ ᴴᴳᴮ ᵐᵉˡⁱᵖᵘᵗⁱ ᵗᵃⁿᵃʰ ⁿᵉᵍᵃʳᵃ, ᵗᵃⁿᵃʰ ʰᵃᵏ ᵖᵉⁿᵍᵉˡᵒˡᵃᵃⁿ, ᵈᵃⁿ ᵗᵃⁿᵃʰ ʰᵃᵏ ᵐⁱˡⁱᵏ.
ᴬᵈᵃᵖᵘⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵈⁱᵐᵃᵏˢᵘᵈ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵗᵃⁿᵃʰ ᵃᵈᵃˡᵃʰ ᵖᵉʳᵐᵘᵏᵃᵃⁿ ᵇᵘᵐⁱ ᵇᵃⁱᵏ ᵇᵉʳᵘᵖᵃ ᵈᵃʳᵃᵗᵃⁿ ᵐᵃᵘᵖᵘⁿ ʸᵃⁿᵍ ᵗᵉʳᵗᵘᵗᵘᵖ ᵃⁱʳ, ᵗᵉʳᵐᵃˢᵘᵏ ʳᵘᵃⁿᵍ ᵈⁱ ᵃᵗᵃˢ ᵈᵃⁿ ᵈⁱ ᵈᵃˡᵃᵐ ᵗᵘᵇᵘʰ ᵇᵘᵐⁱ, ᵈᵃˡᵃᵐ ᵇᵃᵗᵃˢ ᵗᵉʳᵗᵉⁿᵗᵘ ʸᵃⁿᵍ ᵖᵉⁿᵍᵍᵘⁿᵃᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵖᵉᵐᵃⁿᶠᵃᵃᵗᵃⁿⁿʸᵃ ᵗᵉʳᵏᵃⁱᵗ ˡᵃⁿᵍˢᵘⁿᵍ ᵐᵃᵘᵖᵘⁿ ᵗⁱᵈᵃᵏ ˡᵃⁿᵍˢᵘⁿᵍ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵖᵉⁿᵍᵍᵘⁿᵃᵃⁿ ᵈᵃⁿ ᵖᵉᵐᵃⁿᶠᵃᵃᵗᵃⁿ ᵖᵉʳᵐᵘᵏᵃᵃⁿ ᵇᵘᵐⁱ.
ᴰᵉⁿᵍᵃⁿ ᵈᵉᵐⁱᵏⁱᵃⁿ, ᵏᵃʳᵉⁿᵃ ˡᵃᵘᵗ ᵇᵘᵏᵃⁿ ᵐᵉʳᵘᵖᵃᵏᵃⁿ ᵒᵇʲᵉᵏ ʸᵃⁿᵍ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵇᵉᵇᵃⁿⁱ ᴴᴳᴮ, ᵐᵃᵏᵃ ᴴᴳᴮ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵗᵉʳᵇⁱᵗᵏᵃⁿ ᵈⁱ ᵃᵗᵃˢ ˡᵃᵘᵗ ᵐᵃᵘᵖᵘⁿ ᵖᵉʳᵃⁱʳᵃⁿ, ᵃᵖᵃᵏᵃʰ ᴴᴳᴮ ˡᵃᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵇᵃᵗᵃˡᵏᵃⁿ?
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Apa Itu Hak Guna Bangunan?
Sebelum menjawab pertanyaan Anda, sebaiknya kita pahami dulu apa yang dimaksud Hak Guna Bangunan (“HGB”).
Pada dasarnya, HGB merupakan salah satu hak-hak atas tanah yang diatur dalam UU PA. Pasal 16 ayat (1) UU PA menguraikan bahwa hak-hak atas tanah, antara lain:
a. hak milik;
b. Hak Guna Usaha
(“HGU”);
c. HGB;
d. hak pakai;
e. hak sewa;
f. hak membuka tanah;
g. hak memungut hasil
hutan;
h. hak-hak lain yang
tidak termasuk
dalam hak-hak
tersebut di atas yang
ditetapkan dengan
undang-undang
serta hak-hak yang
sifatnya sementara
sebagaimana
disebutkan dalam
Pasal 53 UU PA.
Menurut Boedi Harsono dalam bukunya Hukum Agraria Indonesia: Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya (hal. 287), HGB adalah hak atas tanah yang memberi kewenangan untuk membangun sesuatu di atasnya.
Adapun secara yuridis, dalam UU PA yang dimaksud dengan H͟G͟B͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟-b͟a͟n͟g͟u͟n͟a͟n͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟i͟l͟i͟k͟n͟y͟a͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, d͟e͟n͟g͟a͟n͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ p͟a͟l͟i͟n͟g͟ l͟a͟m͟a͟ 30 t͟͟a͟͟h͟͟u͟͟n͟͟.[¹]
Berkaitan dengan subjeknya, HGB diberikan kepada Warga Negara Indonesia dan badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di Indonesia.[²]
Sedangkan, untuk tanah yang dapat diberikan dengan HGB meliputi:[³]
a. tanah negara;
b. tanah hak
pengelolaan; dan
c. tanah hak milik.
Lantas, jangka waktu HGB berapa tahun? Terkait jangka waktu HGB sebagaimana disebutkan definisinya di atas, dapat diberikan paling lama 30 tahun.
Untuk HGB di atas tanah negara dan tanah hak pengelolaan dapat diperpanjang untuk jangka waktu maksimal 20 tahun dan dapat diperbarui untuk jangka waktu maksimal 30 tahun.[⁴] Sedangkan, untuk HGB di atas tanah hak milik dapat diperbarui dengan akta pemberian HGB di atas hak milik.[⁵]
Lalu muncul pertanyaan, setelah masa HGB habis, tanah milik siapa? Setelah jangka waktu pemberian, perpanjangan, dan pembaruan tanah berakhir, tanah hak guna bangunan kembali menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah hak pengelolaan.[⁶]
Terjadinya Hak Guna Bangunan
Masih berkaitan dengan HGB, penting untuk mengetahui terjadinya hak guna bangunan. Pasal 38 ayat (1) s.d. (3) PP 18/2021 menerangkan bahwa terjadinya HGB dibedakan berdasarkan tanah yang diberikan HGB, yaitu:
- HGB di atas tanah negara diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional[⁷] (“Menteri ATR/BPN” atau “Menteri”).
- HGB di atas tanah hak pengelolaan diberikan dengan keputusan pemberian hak oleh Menteri berdasarkan persetujuan pemegang hak pengelola.
- HGB di atas tanah hak milik terjadi melalui pemberian hak oleh pemegang hak milik dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (“PPAT”).
Baik keputusan pemberian hak oleh Menteri dan akta yang dibuat oleh PPAT dapat dibuat secara elektronik.[⁸]
Kemudian, pemberian HGB sebagaimana disebutkan di atas wajib didaftarkan pada kantor pertanahan.[⁹] Pendaftaran ke kantor pertanahan ini menandakan bahwa pemberian HGB telah terjadi.[¹⁰] Lalu, pada HGB khususnya di atas tanah hak milik akan mengikat pihak ketiga sejak didaftar oleh kantor pertanahan [¹¹]
Pada akhirnya, pemegang HGB diberikan sertifikat hak atas tanah sebagai tanda bukti hak.[¹²]
Lalu, dapatkah HGB diterbitkan di atas laut atau perairan?
Apakah HGB Bisa diterbitkan di Atas Laut atau Perairan?
Menjawab pertanyaan Anda, merujuk pada penjelasan di atas, HGB diberikan kepada tanah baik itu tanah negara, tanah hak pengelolaan, dan tanah hak milik. Adapun yang dimaksud dengan tanah a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟r͟m͟u͟k͟a͟a͟n͟ b͟u͟m͟i͟ b͟a͟i͟k͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟u͟t͟u͟p͟ a͟͟i͟͟r͟͟, t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ r͟u͟a͟n͟g͟ d͟i͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟n͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ t͟u͟b͟u͟h͟ b͟͟u͟͟m͟͟i͟͟, d͟a͟l͟a͟m͟ b͟a͟t͟a͟s͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ y͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟m͟a͟n͟f͟a͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟r͟m͟u͟k͟a͟a͟n͟ b͟͟u͟͟m͟͟i͟͟.[¹³]
Sedangkan, definisi dari laut dapat ditemukan dalam Pasal 1 angka 1 PP 32/2019, yang menyatakan bahwa laut a͟d͟a͟l͟a͟h͟ r͟u͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟a͟i͟r͟a͟n͟ d͟i͟ m͟u͟k͟a͟ b͟u͟m͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟h͟u͟b͟u͟n͟g͟k͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ d͟͟a͟͟n͟͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ a͟l͟a͟m͟i͟a͟h͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟s͟a͟t͟u͟a͟n͟ g͟e͟o͟g͟r͟a͟f͟i͟s͟ d͟a͟n͟ e͟k͟o͟l͟o͟g͟i͟s͟ b͟e͟s͟e͟r͟t͟a͟ s͟e͟g͟e͟n͟a͟p͟ u͟n͟s͟u͟r͟ t͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟i͟͟t͟͟, d͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟a͟t͟a͟s͟ d͟a͟n͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟n͟y͟a͟ d͟i͟t͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ i͟͟n͟͟t͟͟e͟͟r͟͟n͟͟a͟͟s͟͟i͟͟o͟͟n͟͟a͟͟l͟͟.
Berdasarkan kedua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa, tanah merupakan daratan maupun y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟u͟t͟u͟p͟ a͟͟͟͟i͟͟͟͟r͟͟͟͟, dalam arti lain d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟t͟u͟t͟u͟p͟ a͟i͟r͟ m͟a͟s͟i͟h͟ t͟e͟r͟g͟o͟l͟o͟n͟g͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟͟a͟͟n͟͟a͟͟h͟͟. Akan tetapi, t͟a͟n͟a͟h͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ r͟u͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟a͟i͟r͟a͟n͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ l͟a͟u͟t͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟h͟u͟b͟u͟n͟g͟k͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ B͟e͟n͟t͟u͟k͟-b͟e͟n͟t͟u͟k͟ a͟l͟a͟m͟i͟a͟h͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Dengan demikian, karena laut bukan merupakan objek yang dapat dibebani HGB menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, maka H͟G͟B͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟͟i͟͟t͟͟e͟͟r͟͟b͟͟i͟͟t͟͟k͟͟a͟͟n͟͟ d͟i͟ a͟t͟a͟s͟ l͟a͟u͟t͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟i͟͟r͟͟a͟͟n͟͟.
Selain itu, dilansir dari Instagram hukumonlinenewsroom, menurut Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti, Wahyu Trenggono, d͟i͟ d͟a͟s͟a͟r͟ l͟a͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟o͟l͟e͟h͟ a͟d͟a͟ k͟e͟p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ s͟e͟r͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟t͟ Oleh karena itu, H͟G͟B͟ l͟a͟u͟t͟ j͟e͟l͟a͟s͟ i͟͟l͟͟e͟͟g͟͟a͟͟l͟͟.
Hapusnya Hak Guna Bangunan
Sebagai informasi, perlu juga diketahui mengenai hapusnya HGB yang diatur dalam Pasal 46 PP 18/2021, yaitu karena:
a. berakhirnya jangka
waktu sebagaimana
ditetapkan dalam
keputusan
pemberian,
perpanjangan, atau
pembaruan haknya;
b. dibatalkan haknya
oleh Menteri
sebelum jangka
waktunya berakhir
karena:
- tidak terpenuhinya ketentuan kewajiban dan/atau larangan HGB;
- tidak terpenuhinya syarat atau kewajiban yang tertuang dalam perjanjian pemberian HGB antara pemegang HGB dan pemegang hak milik atau perjanjian pemanfaatan tanah hak pengelolaan;
- cacat administrasi; atau
- putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap;
c. diubah haknya
menjadi hak atas
tanah lain;
d. dilepaskan secara
sukarela oleh
pemegang haknya
sebelum jangka
waktu berakhir;
e. dilepaskan untuk
kepentingan umum;
f. dicabut berdasarkan
undang-undang;
g. ditetapkan sebagai
tanah terlantar;
h. ditetapkan sebagai
tanah musnah;
i. berakhirnya
perjanjian pemberian
hak atau perjanjian
pemanfaatan tanah
untuk HGB di atas
hak milik atau hak
pengelolaan; dan
atau
j. pemegang hak sudah
tidak memenuhi
syarat sebagai
subjek hak.
Merujuk pada ketentuan di atas, HGB laut dapat dihapus melalui pembatalan oleh Menteri sebelum jangka waktunya berakhir, karena pada dasarnya HGB laut cacat administrasi. Adapun yang dimaksud dengan cacat administrasi adalah cacat substansi, cacat yuridis, c͟a͟c͟a͟t͟ p͟͟r͟͟o͟͟s͟͟e͟͟d͟͟u͟͟r͟͟, dan/atau cacat kewenangan.[¹⁴]
Hal tersebut sebagaimana disebutkan oleh Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid, dalam Press Conference Pembongkaran Pagar Laut yang dilansir dari laman YouTube Kompas TV, yakni s͟e͟r͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟t͟ H͟G͟B͟ l͟a͟u͟t͟ T͟a͟n͟g͟e͟r͟a͟n͟g͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ c͟a͟c͟a͟t͟ p͟r͟o͟s͟e͟d͟u͟r͟ d͟a͟n͟ c͟a͟c͟a͟t͟ m͟͟a͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟i͟͟l͟͟. Sehingga, Kementerian ATR/BPN memiliki kewenangan untuk mencabut sertifikat HGB tersebut.
Terkait jangka waktu pembatalan HGB karena cacat administrasi menurut Pasal 64 ayat (1) PP 18/2021, yaitu:
a. sebelum jangka
waktu 5 tahun
sejak diterbitkannya
sertifikat HGB,
untuk:
- hak atas tanah yang diterbitkan pertama kali dan belum dialihkan; atau
- hak atas tanah yang telah dialihkan namun para pihak tidak beriktikad baik atas peralihan hak tersebut sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; atau
b. karena adanya
tumpang tindih hak
atas tanah.
Jika melebihi jangka waktu 5 tahun sebagaimana disebutkan di atas, maka pembatalan dilakukan melalui mekanisme peradilan.[¹⁵]
Kesimpulannya, berdasarkan PP 18/2021, pencabutan sertifikat hak atas tanah (dalam kasus ini HGB) dapat dilakukan oleh Menteri ATR/BPN tanpa perintah pengadilan jika terjadi cacat administrasi dan belum mencapai usia 5 tahun sejak diterbitkannya sertifikat. Sesuai pertanyaan Anda, karena sebagian besar sertifikat ini terbit pada tahun 2022–2023, maka syarat untuk pembatalan terpenuhi.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terkhusus untuk penanya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria;
- Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Laut;
- Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah.
Artikel ini dibuat oleh Muhammad Raihan Nugraha. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Bolehkah HGB di Atas Laut? pada tanggal 23 Januari 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 03 Juli 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

