Bagian Kesatu.
Oleh: Suhaeli Nawawi.
Kata Pengantar.
INDRAMAYU — Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang bersifat Qidam dan Baqa, yang tidak berawal dan tidak berakhir. Shalawat dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad saw. , penutup para nabi, pembawa risalah yang menghubungkan langit dan bumi, antara akal dan wahyu, antara pencarian ilmiah dan keyakinan spiritual. Karya ini hadir sebagai bentuk refleksi intelektual terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern yang kian dinamis, khususnya dalam bidang kosmologi, sekaligus sebagai upaya meneguhkan keunggulan konsep teologis Islam dalam menghadirkan makna eksistensi yang kokoh.
Tulisan ini merupakan hasil kolaborasi pemikiran antara Suhaeli Nawawi dan Sukti Sukri dalam diskusi mengenai sifat Qidam dan Baqa Allah jika dibandingkan dengan teori-teori sains modern seperti teori siklus kosmos (Conformal Cyclic Cosmology) yang diajukan oleh Roger Penrose. Keduanya menyadari pentingnya dialog antara agama dan sains sebagai ruang yang subur untuk tumbuhnya kesadaran akan kebesaran Tuhan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu.
Semoga tulisan ini tidak hanya menjadi kontribusi kecil dalam wacana ilmiah, tetapi juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada pemahaman yang lebih dalam tentang hakikat keberadaan. Penulis menyadari bahwa karya ini jauh dari kesempurnaan, karenanya segala kritik dan masukan sangat diharapkan demi perbaikan di masa mendatang.
Qidam-Baqa Allah dalam Perspektif Kosmologi Modern: Kajian Interdisipliner Teologi dan Sains
Abstrak
Artikel ini membahas konsep keabadian Allah (Qidam dan Baqa) dalam teologi Islam serta relevansinya atau perbedaannya dengan teori-teori kosmologi modern, seperti teori siklus Roger Penrose dan konsep multiverse. Tujuan dari kajian ini adalah untuk menegaskan keunikan sifat keabadian Tuhan menurut Islam dibandingkan dengan keabadian alam semesta dalam sains modern yang bersifat relatif, temporal, dan bersandar pada ruang-waktu. Kajian ini menggunakan pendekatan integratif antara tafsir teologis dan analisis teoritis ilmiah. Hasil kajian menunjukkan bahwa meskipun sains mencoba merumuskan konsep keberlanjutan atau “keabadian” alam semesta, ia tetap berada dalam domain kontingen, berubah, dan temporal, tidak menyentuh dimensi keabadian mutlak sebagaimana ditunjukkan oleh konsep Qidam dan Baqa Allah dalam Islam.
Pendahuluan
Perkembangan kosmologi modern telah merumuskan berbagai teori mengenai asal-usul dan nasib alam semesta. Di antara teori tersebut adalah Conformal Cyclic Cosmology (CCC) yang digagas Roger Penrose. Teori ini berbicara tentang alam semesta yang mengalami siklus tanpa henti antara ekspansi dan kontraksi. Sementara itu, dalam teologi Islam, keabadian hanya disandarkan pada Allah yang bersifat Qidam (tidak berawal) dan Baqa (tidak berakhir). Hal ini menimbulkan pertanyaan filosofis dan teologis: apakah keabadian alam semesta dalam kosmologi dapat disamakan dengan keabadian Tuhan dalam teologi?
BERSAMBUNG

