INDRAMAYU — Asbabul-Wurud (Pengantar Jurnal)
Oleh: Suhaeli Nawawi
Di tengah pusaran informasi dan perdebatan dunia maya yang tak pernah henti, saya menjumpai sebuah pertanyaan pendek yang menggugah:
“Apakah agama tanpa Tuhan itu penganutnya tetap disebut ateis?”
Pertanyaan ini sekilas tampak ringan. Tapi seperti pintu kecil yang mengarah ke gua luas, ia membuka cakrawala berpikir yang mendalam. Pertanyaan ini bukan soal semantik belaka, tapi menyentuh jantung eksistensi manusia: apakah kita beragama karena Tuhan, ataukah karena makna yang kita cari dalam hidup?
Dari satu status itu, diskusi mengalir ke berbagai arah—ada yang menyodorkan contoh Buddhisme dan Jainisme, yang sering disebut sebagai agama non-teistik. Ada pula yang menyebut panteisme, deisme, bahkan humanisme spiritual. Tapi ada satu tanggapan yang mencuri perhatian saya: gagasan tentang pergeseran dari spiritualitas Dzat ke spiritualitas Zat.
Apa maksudnya?
Dalam bahasa teologi klasik, Dzat (dengan “D” besar) merujuk pada Tuhan sebagai entitas personal, transenden, dan tak tergantung pada apapun—sumber segala eksistensi. Sedangkan Zat (dengan “Z” besar) dalam wacana kontemporer bisa diasosiasikan dengan hukum alam, energi semesta, atau prinsip ketertiban kosmos yang diyakini otonom, adaptif, dan “berkesadaran” dalam cara yang tidak personal.
Maka lahirlah sebuah gagasan menarik: manusia modern yang kecewa pada Tuhan personal (karena trauma sejarah, dogma, atau kekakuan institusi agama), tetap mencari makna dalam hukum alam. Mereka menanggalkan Tuhan, tapi tidak spiritualitas. Mereka menolak iman dogmatis, tapi tetap haus akan makna kosmis. Di sinilah lahir spiritualitas Zat, sebuah cara baru memaknai semesta sebagai sesuatu yang sakral meski tanpa nama Tuhan.
Lalu di mana sains berada?
Sains yang murni, jujur, dan terbuka—bukan sains yang menyombongkan diri sebagai satu-satunya jalan kebenaran (scientisme)—ternyata tak menutup pintu bagi pertanyaan spiritual. Terutama dalam ranah fisika kuantum, batas antara realitas objektif dan kesadaran pengamat menjadi kabur. Partikel tidak “menjadi” sebelum diamati, dan hukum kausalitas klasik runtuh di level mikroskopik. Maka muncul kembali pertanyaan lama dengan wajah baru: adakah semesta ini diatur oleh prinsip yang melampaui materi?
Tulisan ilmiah yang lahir dari renungan ini bukan sekadar jurnal kaku. Ia adalah jembatan: antara spiritualitas dan sains, antara kepercayaan dan keingintahuan. Jurnal ini mencoba menunjukkan bahwa bukan hanya iman yang bisa mengundang kekaguman, tetapi juga sains yang jujur bisa menuntun pada keinsafan.
Di sinilah kita berdiri: di antara puing-puing absolutisme lama dan harapan akan integrasi baru. Agama tanpa Tuhan? Mungkin. Tapi lebih penting lagi: makna tanpa dogma, dan kebenaran yang melampaui nama.
BERSAMBUNG ke materi jurnal

