Oleh: Suhaeli Nawawi
Khutbah Pertama
Mukaddimah
Segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Hidup dan tidak akan pernah mati, Dzat Yang menciptakan waktu dan mengaturnya menurut kehendak-Nya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Akidah tentang Usia Tetap di Surga dan Pelajaran dari Makhluk Dunia
Hadirin, Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar takwa. Ketahuilah bahwa akidah adalah fondasi utama agama, dan termasuk pilar akidah adalah iman kepada Allah dan hari akhir, yakni meyakini sepenuh hati bahwa kehidupan setelah kematian adalah kehidupan yang kekal.
Dalam rukun iman, kita diajarkan untuk percaya kepada informasi gaib atau teistik—yaitu berita dari Allah dan Rasul-Nya tentang hal-hal yang tidak dapat dijangkau sepenuhnya oleh akal maupun sains. Sayangnya, di zaman ini, ada sebagian kelompok yang menyikapi ayat-ayat mutasyabihat—ayat-ayat yang samar atau pelik—dengan hawa nafsu atau akal belaka, lalu menuduh bahwa ayat-ayat tersebut hanyalah dongeng. Na’udzubillah min dzalik.
Allah berfirman:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang telah beriman,’ mereka menjawab: ‘Apakah kami akan beriman seperti orang-orang bodoh itu?’ Ketahuilah, mereka itulah orang-orang yang benar-benar bodoh, namun mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 13)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Di antara kabar gembira yang Allah dan Rasul-Nya sampaikan kepada kita adalah bahwa kelak para penghuni surga akan berusia tetap, tidak menua, tidak sakit, dan tidak mati. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Penghuni surga masuk surga dalam keadaan berusia 33 tahun, tidak bertambah dan tidak berkurang.” (HR. At-Tirmidzi dan Ath-Thabrani)
Allah Ta’ala juga berfirman:
“…dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)
Artinya, kehidupan surga adalah kehidupan abadi dan sempurna. Tidak ada penuaan, tidak ada kerusakan, dan tidak ada kematian. Mungkin sebagian dari kita bertanya dalam hati: “Bagaimana mungkin usia manusia bisa tetap? Bukankah semua yang hidup pasti menua dan mati?”
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mari kita renungkan bahwa Allah telah memberikan isyarat dan contoh-contoh di dunia untuk membenarkan janji-Nya di akhirat. Misalnya, para ilmuwan telah menemukan beberapa makhluk hidup yang tidak menunjukkan gejala penuaan. Di antaranya:
- Ubur-ubur Turritopsis dohrnii, yang mampu kembali ke bentuk awal kehidupannya setelah dewasa, seolah-olah “mengulang umur”-nya. Ia disebut ubur-ubur abadi.
- Hydra, makhluk air tawar kecil yang memiliki kemampuan regenerasi luar biasa. Sel-selnya terus diperbarui, sehingga tidak menua.
- Planaria, sejenis cacing pipih, yang dapat membelah tubuhnya dan menciptakan diri baru dari potongan kecilnya, bahkan tanpa tanda penuaan.
Namun semua itu tetap tunduk pada hukum duniawi. Mereka bisa mati karena penyakit, predator, atau kerusakan lingkungan. Tapi keistimewaan ini menjadi isyarat ilmiah bahwa usia yang tetap dan tidak menua bukanlah hal mustahil bagi Allah.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mari kita renungkan pula bagaimana sains modern justru menguatkan kemungkinan usia tetap melalui apa yang disebut sebagai dilatasi waktu. Teori Relativitas Khusus yang dikembangkan oleh Albert Einstein menyatakan bahwa waktu dapat melambat bagi seseorang yang bergerak sangat cepat mendekati kecepatan cahaya. Fenomena ini bukan sekadar teori, tapi telah dibuktikan secara ilmiah melalui pengamatan terhadap satelit dan eksperimen menggunakan jam atom yang sangat presisi.
Bayangkan seorang astronot yang melakukan perjalanan luar angkasa dengan pesawat super cepat—katakanlah mendekati 90% kecepatan cahaya. Berdasarkan perhitungan ilmiah, ketika dia kembali ke bumi setelah merasakan perjalanan selama hanya 10 tahun, bumi bisa saja sudah mengalami perjalanan waktu selama 20 tahun atau lebih. Artinya, tubuh astronot tersebut mengalami waktu yang jauh lebih lambat dibandingkan waktu yang berlalu di bumi.
Ini bukan fiksi ilmiah, tapi realitas fisika relativitas. Dalam istilah ilmiahnya, ini disebut faktor gamma, yaitu bilangan yang menggambarkan seberapa melambat waktu akibat kecepatan tinggi. Semakin mendekati kecepatan cahaya, waktu akan terasa semakin melambat. Jika kecepatan mencapai 99,999% kecepatan cahaya, waktu bisa melambat hingga ribuan kali lipat.
Dengan demikian, jika Allah berkehendak menjadikan waktu di akhirat tidak bergerak seperti waktu dunia, atau bahkan menjadikan tubuh penghuni surga tidak menua karena waktu tidak berproses bagi mereka, maka itu sangat mungkin dan dapat diterima bahkan oleh akal sains yang jujur dan terbuka.
Kalau di dunia saja Allah menciptakan sebagian makhluk dengan sifat tidak menua, dan manusia telah memahami waktu yang bisa melambat, maka janji Allah tentang usia tetap di surga adalah lebih layak untuk kita yakini. Surga adalah negeri kesempurnaan, dan penghuninya akan diberi tubuh yang sempurna, usia yang sempurna, dan hidup yang kekal.
Maka mari kita pelihara keimanan kita, jangan goyah hanya karena keterbatasan pengetahuan. Jangan sampai kita lebih percaya kepada teori buatan manusia daripada wahyu dari Tuhan Pencipta semesta.
Allah berfirman:
“Apakah Allah yang menciptakan itu tidak tahu (segala sesuatu)?” (QS. Al-Mulk: 14)
Marilah kita jaga akidah kita, teguhkan keyakinan terhadap akhirat, dan persiapkan bekal amal salih untuk menjadi penghuni surga yang diberi usia tetap, tanpa penuaan, tanpa penderitaan.
**بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيْاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُولُ قَوْلَي هَذَا فَأَس\u065ْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنٞهُ ه

