
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN, Saya ingin bertanya, berdasarkan hukum barat dan hukum Islam, apakah barang yang telah dihibahkan oleh pewaris dapat ditarik kembali untuk membayar utang? Jika bisa, adakah jangka waktunya? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers dan Paralegalnya semoga diberikan keselamatan dunia-akhirat. Aamiin..
Wassalam,
Hartono – Boss Komben
•••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔎𝔢𝔩𝔲𝔞𝔯𝔤𝔞】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔥𝔦𝔟𝔞𝔥 𝔡𝔦𝔞𝔱𝔲𝔯 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔨𝔥𝔲𝔰𝔲𝔰 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔭𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞 (𝔎𝔘ℌ 𝔓𝔢𝔯𝔡𝔞𝔱𝔞) 𝔪𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 ℑ𝔰𝔩𝔞𝔪 (𝔎ℌℑ). 𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔥𝔦𝔟𝔞𝔥 𝔨𝔢𝔱𝔦𝔨𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔦𝔫𝔤𝔤𝔲𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔴𝔞𝔯𝔦𝔰𝔞𝔫? 𝔄𝔭𝔞𝔨𝔞𝔥 𝔥𝔦𝔟𝔞𝔥 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔱𝔞𝔯𝔦𝔨 𝔨𝔢𝔪𝔟𝔞𝔩𝔦 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔱𝔦𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔴𝔞𝔯𝔦𝔰?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
Berdasarkan pertanyaan Anda, kami berasumsi bahwa hibah tersebut adalah hibah semasa hidup, dan bukan hibah wasiat. Selanjutnya, karena Anda menanyakan hibah berdasarkan ketentuan hukum perdata dan hukum Islam, kami akan menjelaskan berdasarkan hukum barat yang diatur dalam KUH Perdata dan menurut hukum Islam yang diatur dalam KHI.
Hibah dalam Hukum Perdata
Apa itu hibah? Menurut Pasal 1666 KUH Perdata, pengertian hibah didefinisikan sebagai berikut:
- Penghibahan adalah s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟n͟a͟ s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟b͟a͟h͟ m͟e͟n͟y͟e͟r͟a͟h͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ c͟͟u͟͟m͟͟a͟͟-c͟͟u͟͟m͟͟a͟͟, t͟a͟n͟p͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟a͟r͟i͟k͟n͟y͟a͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟, u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ i͟͟t͟͟u͟͟. U͟n͟d͟a͟n͟g͟-U͟n͟d͟a͟n͟g͟ h͟a͟n͟y͟a͟ m͟e͟n͟g͟a͟k͟u͟i͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟b͟a͟h͟a͟n͟-p͟e͟n͟g͟h͟i͟b͟a͟h͟a͟n͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟-o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟s͟i͟h͟ h͟͟i͟͟d͟͟u͟͟p͟͟.
Selanjutnya, p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ h͟i͟b͟a͟h͟ h͟a͟r͟u͟s͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ a͟k͟t͟a͟ n͟o͟t͟a͟r͟i͟s͟ d͟a͟n͟ b͟i͟l͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ d͟͟e͟͟m͟͟i͟͟k͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, m͟a͟k͟a͟ p͟e͟n͟g͟h͟i͟b͟a͟h͟a͟n͟ i͟t͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ s͟͟a͟͟h͟͟.[¹]
Berdasarkan ketentuan tersebut, pada prinsipnya b͟e͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟u͟d͟a͟h͟ d͟i͟h͟i͟b͟a͟h͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟a͟r͟i͟k͟ k͟e͟m͟b͟a͟l͟i͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ h͟a͟k͟ m͟i͟l͟i͟k͟ p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟ h͟͟i͟͟b͟͟a͟͟h͟͟. Akan tetapi, khusus untuk kepentingan kewarisan, benda yang telah dihibahkan dapat “diperhitungkan kembali” nilainya ke dalam total harta peninggalan seolah-olah belum dihibahkan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 916a KUH Perdata hingga Pasal 929 KUH Perdata. Adanya ketentuan ini bermaksud agar hibah yang dahulu pernah diberikan oleh pewaris jangan sampai mengurangi bagian mutlak yang seharusnya dimiliki oleh ahli waris (legitime portie).
Sebagai informasi, legitime portie merupakan bagian mutlak para ahli waris yang tidak dapat dilanggar sama sekali dengan suatu penetapan yang dimuat dalam wasiat. Pengaturan ini dimaksudkan untuk melakukan pembatasan kemerdekaan seseorang dalam membuat wasiat sesuai kehendaknya sendiri.[²]
Selanjutnya, legitime portie dapat dihitung dengan cara berikut menurut menurut Pasal 921 KUH Perdata:[³]
- Menghitung semua hibah yang telah diberikan pewaris semasa hidupnya, termasuk hibah yang diberikan kepada ahli waris;
- Jumlah hibah tersebut kemudian ditambah dengan harta peninggalan pewaris;
- Selanjutnya dikurangi utang-utang pewaris;
- Hasil dari penjumlahan dan pengurangan tersebut kemudian dihitung besarnya bagian mutlak dari ahli waris mutlak yang menuntut bagiannya. Adapun besarnya bagian mutlak yang didapat adalah jumlah yang benar-benar diterima oleh ahli waris mutlak.
Sehingga apabila bagian harta yang diambil juga masih belum cukup untuk melunasi utang, maka selanjutnya dapat diambil dengan cara mengurangkan besarnya wasiat (jika ada). Adapun jalan terakhir yang dapat dilakukan adalah mengurangkan bagian hibah yang pernah diberikan pewaris sebelum meninggal. Hibah tersebut diperhitungkan kembali kemudian dikurangkan. Adapun urutan hibah yang diperhitungkan kemudian dikurangkan tersebut dihitung dari hibah terdekat dari kematian pewaris. Hal ini diatur dalam Pasal 924 KUH Perdata sebagai berikut:
- Hibah-hibah semasa hidup sekali-kali tidak boleh dikurangi, kecuali bila ternyata bahwa semua harta benda yang telah diwasiatkan tidak cukup untuk menjamin legitieme portie. Bila hibah-hibah semasa hidup pewaris harus dikurangi, maka pengurangan harus dimulai dan hibah yang diberikan paling akhir, ke hibah-hibah yang dulu-dulu.
Oleh karena itu perlu diketahui bahwa benda yang telah dihibahkan tidak dapat ditarik kembali oleh pemberi hibah. Namun untuk urusan kewarisan, hibah yang pernah diberikan pewaris dapat diperhitungkan kembali ke dalam harta pewaris.
Selanjutnya, menurut hukum perdata, ahli waris dapat melakukan penolakan sebagai ahli waris. Namun, meninjau ketentuan Pasal 833 ayat (1) KUH Perdata diatur bahwa:
- Para ahli waris, dengan sendirinya karena hukum, mendapat hak milik atas semua barang, semua hak dan semua piutang orang yang meninggal.
Meskipun demikian, ketentuan Pasal 1045 KUH Perdata mengatur tiada seorang pun diwajibkan untuk menerima warisan yang jatuh ke tangannya.
Sehingga, berdasarkan ketentuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟a͟u͟ m͟e͟n͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ u͟t͟a͟n͟g͟ m͟i͟l͟i͟k͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟, d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟o͟l͟a͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ a͟h͟l͟i͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟. Penolakan sebagai ahli waris ini harus dilakukan dengan tegas melalui suatu pernyataan yang dibuat di panitera pengadilan negeri di daerah hukum tempat terbukanya warisan.[⁴]
Ketentuan Hibah dalam Hukum Islam
Lantas bagaimana ketentuan hibah menurut hukum islam? Menurut KHI, hibah adalah p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟d͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟u͟k͟a͟r͟e͟l͟a͟ d͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ i͟m͟b͟a͟l͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ o͟r͟a͟n͟g͟ l͟a͟i͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟a͟s͟i͟h͟ h͟i͟d͟u͟p͟ u͟n͟t͟u͟k͟ d͟͟i͟͟m͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟i͟͟. Pada dasarnya, p͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟a͟n͟ h͟i͟b͟a͟h͟ d͟a͟l͟a͟m͟ h͟u͟k͟u͟m͟ I͟s͟l͟a͟m͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟a͟r͟i͟k͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟, k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟ h͟i͟b͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ a͟͟͟n͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟n͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟.[⁵] Pasal 211 KHI menyebutkan h͟i͟b͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ t͟u͟a͟ k͟e͟p͟a͟d͟a͟ a͟n͟a͟k͟n͟y͟a͟ j͟u͟g͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟e͟r͟h͟i͟t͟u͟n͟g͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ d͟a͟r͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ I͟͟s͟͟l͟͟a͟͟m͟͟.
Menurut hukum Islam, kewajiban ahli waris membayar utang pewaris diatur dalam Pasal 175 KHI yang menyebutkan bahwa m͟e͟n͟y͟e͟l͟e͟s͟a͟i͟k͟a͟n͟ u͟t͟a͟n͟g͟-u͟t͟a͟n͟g͟ p͟e͟w͟a͟r͟i͟s͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟, t͟e͟t͟a͟p͟i͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ w͟a͟r͟i͟s͟ h͟a͟n͟y͟a͟ t͟e͟r͟b͟a͟t͟a͟s͟ p͟a͟d͟a͟ h͟a͟r͟t͟a͟ p͟e͟n͟i͟n͟g͟g͟a͟l͟a͟n͟ p͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟. Dengan kata lain, ahli waris tidak wajib membayarkan utang-utang pewaris dengan harta pribadinya apabila seluruh harta pewaris telah habis untuk membayar utang.
Lalu timbul pertanyaan, adakah jangka waktu untuk menarik kembali hibah pewaris? Mengenai jangka waktu penarikan hibah untuk pembayaran utang, berdasarkan ketentuan KUH Perdata, t͟i͟d͟a͟k͟ a͟d͟a͟ j͟a͟n͟g͟k͟a͟ w͟a͟k͟t͟u͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟p͟e͟s͟i͟f͟i͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ h͟a͟l͟ i͟n͟i͟ d͟a͟n͟ b͟e͟n͟d͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟h͟i͟b͟a͟h͟k͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ b͟i͟s͟a͟ d͟i͟t͟a͟r͟i͟k͟ k͟͟e͟͟m͟͟b͟͟a͟͟l͟͟i͟͟. Sedangkan menurut hukum Islam, hanya hibah orang tua kepada anak yang dapat ditarik kembali dan hal tersebut juga tidak disebutkan sampai kapan jangka waktunya.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
- Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991 tentang Penyebarluasan Kompilasi Hukum Islam.
R͟e͟f͟e͟r͟e͟n͟s͟i͟:
- Helena Benedicta Tambajong dkk. Akibat Hukum Pelaksanaan Wasiat yang Tidak Memenuhi Bagian Mutlak Ahli Waris. Jurnal Unes Law Review. Vol. 6, No. 2, 2023;
- Shinta Andriyani, Wiwiek Wahyuningsih, dan Mohammad Irfan. Konsep Pengaturan Ligitime Portie dalam Pewarisan Menurut Kompilasi Hukum Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jurnal Jatiswara. Vol. 36, No. 1, 2021.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Apakah Hibah Dapat Ditarik Kembali untuk Membayar Utang Pewaris? yang dibuat oleh Ilman Hadi, S.H dan dipublikasikan pertama kali pada 29 Agustus 2012. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Dapatkah Hibah Ditarik Kembali untuk Membayar Utang Pewaris? Pada tanggal 21 November 2014. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 14 Oktober 2026M/03 Jumadil Awal 1448H.
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

