
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia com) — Pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren (Ponpes) Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026. Hasil akhir penentuan pemilihan Rais Am dan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031 disorot publik.
Hal itu disampaikan oleh Ustadz. Bachrul Ulum Elza, S.Sos, sebagai aktivis MWC NU Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu-Jawa Barat.
Menurutnya, proses pemilihan Rais Am dan Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031 pada Muktamar NU ke-35 tahun 2026 hasilnya dipersimpangan jalan, ucapnya pada Jumat (4/9/2026)
Dikatakannya, NU berdiri menatap jalan, di satu arah-khittah yang diwariskan para ulama, di arah lain-gemerlap dunia menawarkan kekuasaan.
Wahai Nahdlatul Ulama, engkau lahir dari doa dan air mata, dari pesantren yang sederhana, dari tangan-tangan santri yang menggenggam tasbih dan kitab, menjaga agama, menjaga bangsa. Kini jalan semakin ramai, suara kepentingan bersilang di udara, politik datang mengetuk pintu,
jabatan mengulurkan tangan,
popularitas menebar pesona.
Namun tanyakan kepada hati:
untuk apa engkau berjalan?
Apakah demi umat atau demi kursi kekuasaan? Apakah demi maslahat atau demi nama dan kepentingan?
Jangan sampai jalan panjang perjuangan berubah menjadi jalan perebutan.
Jangan sampai
khittah hanya menjadi kata
yang indah diucapkan,
namun sunyi dalam perbuatan.
Di simpang jalan ini, NU tak hanya membutuhkan suara, tetapi kejernihan jiwa. Tak hanya membutuhkan pemimpin, tetapi keteladanan. Tak hanya membutuhkan strategi,
tetapi keberanian untuk kembali kepada amanah para muassis. Kyai dan santri,
ulama dan umat, mari membaca kembali jejak yang pernah ditorehkan:
Ahlussunnah wal Jamaah,
tawassuth, tawazun, tasamuh, dan cinta kepada Indonesia. Jika jalan terasa bercabang,
kembalilah kepada hikmah.
Jika arah terasa samar, tanyakan kepada nurani. Jika dunia terlalu mempesona,
ingatlah bahwa perjuangan
bukanlah tentang siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama. NU di simpang jalan – bukan berarti kehilangan arah, kata Ulum.
Sebab selama ulama menjadi cahaya, santri menjaga amanah, dan umat merawat persaudaraan, jalan pulang akan selalu ada.
Melangkahlah, wahai NU, dengan kepala tegak, hati yang tawadhu, dan langkah yang istiqamah.
Disamping itu, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berada di persimpangan, tetapi siapa yang berani memilih jalan demi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
Penulis: Ustadz Bachrul Ulum Elza, S.Sos, Aktivis MWC NU Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu-Jawa Barat.
Reforter: Taryam
Editor: Abdul Gani

