
INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN Data pribadi KTP seorang wartawan disebarluaskan oleh menteri. Apa hukumnya? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk UBK Lawyers dan Paralegalnya semoga dimudahkan segala permasalahannya. Aamiin..
Cemera Sanusi – Jambak 1
••••••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔇𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔞𝔯𝔱𝔲 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔲𝔡𝔲𝔨 (“𝔎𝔗𝔓”) 𝔱𝔢𝔯𝔠𝔞𝔫𝔱𝔲𝔪 𝔤𝔞𝔪𝔟𝔞𝔯 𝔩𝔞𝔪𝔟𝔞𝔫𝔤 𝔤𝔞𝔯𝔲𝔡𝔞 𝔭𝔞𝔫𝔠𝔞𝔰𝔦𝔩𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔱𝔞 𝔴𝔦𝔩𝔞𝔶𝔞𝔥 𝔑𝔢𝔤𝔞𝔯𝔞 𝔎𝔢𝔰𝔞𝔱𝔲𝔞𝔫 ℜ𝔢𝔭𝔲𝔟𝔩𝔦𝔨 ℑ𝔫𝔡𝔬𝔫𝔢𝔰𝔦𝔞, 𝔪𝔢𝔪𝔲𝔞𝔱 𝔢𝔩𝔢𝔪𝔢𝔫 𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔭𝔢𝔫𝔡𝔲𝔡𝔲𝔨, 𝔶𝔞𝔦𝔱𝔲 𝔫𝔬𝔪𝔬𝔯 𝔦𝔫𝔡𝔲𝔨 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔫𝔡𝔲𝔡𝔲𝔨𝔞𝔫 (“𝔑ℑ𝔎”), 𝔫𝔞𝔪𝔞, 𝔱𝔢𝔪𝔭𝔞𝔱 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔞𝔩 𝔩𝔞𝔥𝔦𝔯, 𝔩𝔞𝔨𝔦-𝔩𝔞𝔨𝔦 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔢𝔪𝔭𝔲𝔞𝔫, 𝔞𝔤𝔞𝔪𝔞/𝔨𝔢𝔭𝔢𝔯𝔠𝔞𝔶𝔞𝔞𝔫, 𝔰𝔱𝔞𝔱𝔲𝔰 𝔭𝔢𝔯𝔨𝔞𝔴𝔦𝔫𝔞𝔫, 𝔤𝔬𝔩𝔬𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔯𝔞𝔥, 𝔞𝔩𝔞𝔪𝔞𝔱, 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫, 𝔨𝔢𝔴𝔞𝔯𝔤𝔞𝔫𝔢𝔤𝔞𝔯𝔞𝔞𝔫, 𝔭𝔞𝔰 𝔣𝔬𝔱𝔬, 𝔪𝔞𝔰𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔞𝔨𝔲, 𝔱𝔢𝔪𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔤𝔞𝔩 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔩𝔲𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔎𝔗𝔓, 𝔡𝔞𝔫 𝔱𝔞𝔫𝔡𝔞 𝔱𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨 𝔎𝔗𝔓.
ℑ𝔫𝔣𝔬𝔯𝔪𝔞𝔰𝔦-𝔦𝔫𝔣𝔬𝔯𝔪𝔞𝔰𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔠𝔞𝔫𝔱𝔲𝔪 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔎𝔗𝔓 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔞𝔱𝔢𝔤𝔬𝔯𝔦 𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔰𝔦𝔣𝔞𝔱 𝔲𝔪𝔲𝔪. 𝔒𝔩𝔢𝔥 𝔨𝔞𝔯𝔢𝔫𝔞 𝔦𝔱𝔲, 𝔎𝔗𝔓 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔩𝔦𝔫𝔡𝔲𝔫𝔤𝔦 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤-𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫. 𝔍𝔦𝔨𝔞 𝔎𝔗𝔓 𝔦𝔫𝔤𝔦𝔫 𝔡𝔦𝔰𝔢𝔟𝔞𝔯𝔩𝔲𝔞𝔰𝔨𝔞𝔫, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔥𝔞𝔯𝔲𝔰 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔭𝔢𝔪𝔯𝔬𝔰𝔢𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦. 𝔍𝔦𝔨𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔱𝔢𝔯𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯 𝔭𝔢𝔪𝔯𝔬𝔰𝔢𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔱𝔞 𝔭𝔯𝔦𝔟𝔞𝔡𝔦, 𝔞𝔭𝔞 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔟𝔞𝔤𝔦 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔪𝔢𝔫𝔶𝔢𝔟𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terima kasih atas pertanyaan Anda.
KTP sebagai Data Pribadi yang Dilindungi
Menurut Pasal 1 angka 14 UU 24/2013, kartu tanda penduduk elektronik atau biasa disebut KTP adalah k͟a͟r͟t͟u͟ t͟a͟n͟d͟a͟ p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟e͟n͟g͟k͟a͟p͟i͟ c͟i͟p͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ i͟d͟e͟n͟t͟i͟t͟a͟s͟ r͟e͟s͟m͟i͟ p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟i͟r͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟e͟r͟b͟i͟t͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ i͟n͟s͟t͟a͟n͟s͟i͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Dalam KTP tercantum gambar lambaga Garuda Pancasila dan peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, memuat elemen data penduduk, yaitu n͟o͟m͟o͟r͟ i͟n͟d͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ (N͟I͟K͟), n͟͟a͟͟m͟͟a͟͟, t͟e͟m͟p͟a͟t͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟l͟ l͟͟a͟͟h͟͟i͟͟r͟͟, l͟a͟k͟i͟-l͟a͟k͟i͟ a͟t͟a͟u͟ p͟͟e͟͟r͟͟e͟͟m͟͟p͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, a͟g͟a͟m͟a͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ k͟͟e͟͟p͟͟e͟͟r͟͟c͟͟a͟͟y͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, s͟t͟a͟t͟u͟s͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟w͟͟i͟͟n͟͟a͟͟n͟͟, g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ d͟͟a͟͟r͟͟a͟͟h͟͟, a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟a͟͟t͟͟, p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, k͟͟e͟͟w͟͟a͟͟r͟͟g͟͟a͟͟n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟a͟͟n͟͟, p͟a͟s͟ f͟͟o͟͟t͟͟o͟͟, m͟a͟s͟a͟ b͟͟e͟͟r͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, t͟e͟m͟p͟a͟t͟ d͟a͟n͟ t͟a͟n͟g͟g͟a͟l͟ d͟i͟k͟e͟l͟u͟a͟r͟k͟a͟n͟ K͟͟T͟͟P͟͟, d͟a͟n͟ t͟a͟n͟d͟a͟ t͟a͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ K͟͟T͟͟P͟͟.[¹]
Apakah KTP merupakan data pribadi? Untuk menjawab hal ini, maka perlu diketahui terlebih dahulu mengenai definisi data pribadi. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 UU PDP, data pribadi adalah d͟a͟t͟a͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ o͟r͟a͟n͟g͟ p͟e͟r͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟i͟d͟e͟n͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟ a͟t͟a͟u͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟i͟d͟e͟n͟t͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ a͟t͟a͟u͟ k͟o͟m͟b͟i͟n͟a͟s͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ b͟a͟i͟k͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟ e͟l͟e͟k͟t͟r͟o͟n͟i͟k͟ a͟t͟a͟u͟ n͟͟o͟͟n͟͟e͟͟l͟͟e͟͟k͟͟t͟͟r͟͟o͟͟n͟͟i͟͟k͟͟.
Data pribadi terbagi menjadi dua jenis, yaitu data pribadi yang bersifat spesifik dan data pribadi yang bersifat umum.[²] Adapun data pribadi yang bersifat umum meliputi:[³]
- nama lengkap;
- jenis kelamin;
- kewarganegaraan;
- agama;
- status perkawinan; dan/atau
- data pribadi yang dikombinasikan untuk mengidentifikasi seseorang.
Melihat dari definisi dan jenisnya, d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟p͟a͟s͟t͟i͟k͟a͟n͟ b͟a͟h͟w͟a͟ K͟T͟P͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ d͟a͟t͟a͟ p͟͟r͟͟i͟͟b͟͟a͟͟d͟͟i͟͟. Hal ini k͟a͟r͟e͟n͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟T͟P͟ t͟e͟r͟c͟a͟n͟t͟u͟m͟ b͟e͟r͟b͟a͟g͟a͟i͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ p͟a͟d͟a͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟ dan dilindungi oleh negara.
Perlindungan Data Pribadi Menurut UU PDP
Pelindungan data pribadi selengkapnya diatur dalam UU PDP dan peraturan pelaksananya yaitu PP 33/2026. T͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟r͟l͟u͟a͟s͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ K͟T͟P͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟m͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ p͟a͟d͟a͟ k͟a͟s͟u͟s͟ A͟͟n͟͟d͟͟a͟͟, d͟a͟l͟a͟m͟ U͟U͟ P͟D͟P͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟r͟o͟s͟e͟s͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟͟r͟͟i͟͟b͟͟a͟͟d͟͟i͟͟.[⁴]
Pengendali data pribadi (dalam kasus Anda adalah kementerian) sebelum melakukan pemrosesan data pribadi wajib memiliki dasar pemrosesan data pribadi terlebih dahulu.[⁵] Adapun dasar pemrosesan data pribadi terdiri atas beberapa bentuk, salah satunya adalah persetujuan yang sah secara eksplisit dari subjek data pribadi (pemilik KTP),[⁶] yang dilakukan secara tertulis atau terekam dan disampaikan baik secara elektronik atau nonelektronik.[⁷]
Selain itu, persetujuan yang sah secara eksplisit harus didapatkan dari subjek data pribadi secara bebas, sadar, spesifik, dan tidak ambigu.[⁸]
Jadi, s͟u͟d͟a͟h͟ j͟e͟l͟a͟s͟ b͟a͟h͟w͟a͟ p͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟r͟l͟u͟a͟s͟a͟n͟ K͟T͟P͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ a͟d͟a͟n͟y͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟ p͟e͟m͟r͟o͟s͟e͟s͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟͟r͟͟i͟͟b͟͟a͟͟d͟͟i͟͟, s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ p͟e͟r͟s͟e͟t͟u͟j͟u͟a͟n͟ p͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟ K͟͟T͟͟P͟͟, m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.
Terlebih, ditegaskan dalam Pasal 36 UU PDP bahwa dalam melakukan pemrosesan data pribadi, pengendali data pribadi wajib menjaga kerahasiaan data pribadi. Kemudian, terdapat juga Pasal 47 UU PDP yang menyatakan bahwa p͟e͟n͟g͟e͟n͟d͟a͟l͟i͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ w͟a͟j͟i͟b͟ b͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟m͟r͟o͟s͟e͟s͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟u͟n͟j͟u͟k͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟j͟a͟w͟a͟b͟a͟n d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟e͟n͟u͟h͟a͟n͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟a͟n͟ p͟r͟i͟n͟s͟i͟p͟ p͟e͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟͟r͟͟i͟͟b͟͟a͟͟d͟͟i͟͟.
Akan tetapi, kewajiban pengendali data pribadi menjaga kerahasiaan data pribadi sebagaimana disebut dalam Pasal 36 UU PDP, dalam rangka pelaksanaan ketentuan undang-undang d͟i͟k͟e͟c͟u͟a͟l͟i͟k͟a͟n͟ untuk:[⁹]
- kepentingan pertahanan dan keamanan nasional;
- kepentingan proses penegakan hukum;
- kepentingan umum dalam rangka penyelenggaraan negara; atau
- kepentingan pengawasan sektor jasa keuangan, moneter, sistem pembayaran, dan stabilitas sistem keuangan yang dilakukan dalam rangka penyelenggaraan negara.
Tanggung Jawab Menteri Dalam Negeri
Sebagaimana telah diketahui, KTP merupakan dokumen kependudukan, sehingga Menteri Dalam Negeri adalah penanggung jawab memberikan hak akses data kependudukan dan data pribadi kepada petugas provinsi dan petugas instansi pelaksana serta pengguna,[¹⁰] antara lain lembaga negara, kementerian/lembaga pemerintah nonkementerian, dan/atau badan hukum Indonesia.[¹¹]
Adapun baik petugas dan pengguna dilarang menyebarluaskan data kependudukan yang tidak sesuai dengan kewenangannya, ketentuan ini secara tegas tertulis dalam Pasal 79 ayat (3) UU 24/2013.
Sanksi Pelaku yang Menyebarluaskan KTP Tanpa Hak
Kami asumsikan bahwa perbuatan menyebarluaskan KTP yang dilakukan oleh menteri tersebut telah melanggar kewenangannya. Selain itu, tidak juga terdapat alasan untuk mengecualikan kewajiban menjaga rahasia data pribadi.
Jika kasusnya demikian, maka perbuatan tersebut dapat dijerat dan diberikan sanksi berdasarkan beberapa pasal yang tercantum dalam UU PDP dan UU Adminduk serta perubahannya.
Terhadap perbuatan m͟e͟n͟g͟a͟k͟s͟e͟s͟ d͟a͟t͟a͟b͟a͟s͟e͟ k͟e͟p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ (K͟͟T͟͟P͟͟) t͟a͟n͟p͟a͟ h͟͟a͟͟k͟͟, maka dapat dijerat berdasarkan Pasal 95 UU Adminduk jo. Pasal II ayat (5) huruf c UU 1/2026 dengan sanksi pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak kategori III, yaitu sebesar Rp50 juta.[¹²]
Masih berdasarkan UU Adminduk, bagi setiap orang yang t͟a͟n͟p͟a͟ h͟a͟k͟ m͟e͟n͟y͟e͟b͟a͟r͟l͟u͟a͟s͟k͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ k͟e͟p͟e͟n͟d͟u͟d͟u͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟͟r͟͟i͟͟b͟͟a͟͟d͟͟i͟͟ termasuk dalam hal ini KTP dipidana berdasarkan Pasal 95A UU 24/2013 jo. Pasal II ayat (5) huruf c UU 1/2026 dengan sanksi pidana penjara paling lama 2 tahun dan/atau denda paling banyak kategori III, yaitu sebesar Rp50 juta.[¹³]
Selanjutnya dalam UU PDP, terhadap setiap orang yang d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ m͟e͟n͟g͟u͟n͟g͟k͟a͟p͟k͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟͟i͟͟l͟͟i͟͟k͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, maka telah melanggar ketentuan Pasal 65 ayat (2) UU PDP. Pelanggaran terhadap pasal tersebut dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau pidana denda paling kategori IV,[¹⁴] yaitu sebesar Rp200 juta.[¹⁵]
Selain sanksi pidana, terdapat juga sanksi administratif yang dapat dikenakan menurut UU PDP. Adapun sanksi administratif tersebut berupa:[¹⁶]
- peringatan tertulis;
- penghentian sementara kegiatan pemrosesan data pribadi;
- penghapusan atau pemusnahan data pribadi; dan/atau
- denda administratif.
Pada p͟i͟h͟a͟k͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ K͟T͟P͟-n͟y͟a͟ d͟i͟s͟e͟b͟a͟r͟l͟u͟a͟s͟k͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟g͟a͟t͟ d͟a͟n͟ m͟e͟n͟e͟r͟i͟m͟a͟ g͟a͟n͟t͟i͟ r͟u͟g͟i͟ a͟t͟a͟s͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ p͟e͟m͟r͟o͟s͟e͟s͟a͟n͟ d͟a͟t͟a͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ d͟i͟r͟i͟n͟y͟a͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟-u͟͟n͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n.[¹⁷]
Mengingat kementerian merupakan badan publik,[¹⁸] maka pengajuan permintaan ganti rugi atas pelanggaran pemrosesan data pribadi dilaksanakan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang tata usaha negara.[¹⁹]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal UBK Lawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan;
- Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan;
- Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana;
- Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2026 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Hukumnya Menyebarluaskan Identitas Orang Lain yang dibuat oleh* Sovia Hasanah, S.H., dan pertama kali dipublikasikan pada Jumat, 19 Mei 2017, lalu dimutakhirkan pertama kali oleh Bernadetha Aurelia Oktavira, S.H. pada 20 Oktober 2022. Dipublikasikan kedua oleh Hukumonline.com dengan judul Jerat Hukum Menyebarluaskan KTP Orang Lain, pada tanggal 08 September 2026. Dan diteruskan oleh UBK Lawyers pada tanggal 27 September 2026M/16 Rabi’ul Akhir 1448H
📢 Catatan Penting Mengenai Informasi Hukum
Seluruh materi, artikel, dan informasi hukum yang disajikan oleh LBH Umar Bin Khattab disusun semata-mata untuk tujuan edukasi, pembelajaran, dan wawasan umum.
Perlu dipahami bahwa setiap kasus hukum memiliki keunikan fakta dan konteks yang berbeda. Oleh karena itu, informasi umum tidak dapat menggantikan nasihat hukum yang spesifik dan personal. Untuk mendapatkan analisis mendalam serta strategi penanganan yang tepat sesuai dengan kasus Anda, kami sangat menyarankan untuk melakukan konsultasi langsung dengan Tim Pengacara, Konsultan Hukum, atau Paralegal resmi UBK Lawyers.
🆘 Sedang Menghadapi Permasalahan Hukum?
Jangan biarkan keraguan menghambat penyelesaian masalah Anda. Kami siap mendengarkan dan memberikan solusi terbaik. Silakan ajukan pertanyaan atau jadwalkan konsultasi melalui saluran berikut:
📧 Email:
ubklawyer@gmail.com
📞 Telepon / WhatsApp Chat:
0896-6655-2118
🤝 Mari Bergabung dengan Keluarga Besar UBK Lawyers
Dapatkan akses ke komunitas belajar hukum, berbagi pengalaman, dan memperluas jaringan profesional Anda. Klik tautan di bawah untuk bergabung dalam Grup Komunitas kami:
(Link Grup WhatsApp)
👇
https://chat.whatsapp.com/JkOptbalrVb0qbn4FXuY7Y
📚 Perkaya Wawasan & Riset Hukum Anda
Ikuti WhatsApp Channel LBH Umar Bin Khattab untuk mendapatkan update terbaru mengenai studi kasus, tips hukum praktis, dan perkembangan regulasi terkini. Jadilah pribadi yang cerdas hukum!
(Link WhatsApp Channel)
👇
https://whatsapp.com/channel/0029VadEhUjA2pLGd3OF8g2x
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

