
Indramayu, (lintaspanturaindonesia.com)
PERTANYAAN:
Kasus penyiraman air keras Andrie Yunus memasuki babak baru, di mana saat ini 4 terdakwa yang merupakan anggota TNI telah masuk pada pemeriksaan di pengadilan militer. Dalam pemeriksaan di pengadilan militer ini, Andrie Yunus sebagai saksi korban tidak dapat hadir karena alasan kesehatan. Sebenarnya, adakah larangan bagi pengadilan untuk memeriksa korban yang sedang sakit? Kemudian, seberapa penting kesaksian korban? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kemampuan dalam menjalankan tugas dan profesinya. Aamiin..
Wassalam,
Wa Raswa – Situ Bolang
••••••••••••••••••••••••••••••
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔰𝔢𝔱𝔦𝔞𝔭 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔪𝔞𝔰𝔲𝔨 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔭𝔞𝔫𝔤𝔤𝔦𝔩 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔰𝔞𝔥 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦 𝔴𝔞𝔧𝔦𝔟 𝔪𝔢𝔪𝔢𝔫𝔲𝔥𝔦 𝔭𝔞𝔫𝔤𝔤𝔦𝔩𝔞𝔫 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫. 𝔍𝔦𝔨𝔞 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦𝔭𝔞𝔫𝔤𝔤𝔦𝔩 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔥𝔞𝔡𝔦𝔯 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪, 𝔪𝔞𝔨𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞.
𝔑𝔞𝔪𝔲𝔫, 𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦𝔪𝔞𝔫𝔞 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔰𝔞𝔨𝔰𝔦 𝔨𝔬𝔯𝔟𝔞𝔫 𝔰𝔞𝔨𝔦𝔱 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔟𝔦𝔰𝔞 𝔥𝔞𝔡𝔦𝔯 𝔨𝔢 𝔭𝔢𝔯𝔰𝔦𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Saksi Sebagai Jenis Alat Bukti Pidana
Sebelum lebih jauh menjawab pertanyaan Anda, kami akan menerangkan terlebih dahulu mengenai saksi itu sendiri. P͟e͟r͟l͟u͟ d͟i͟i͟n͟g͟a͟t͟ b͟a͟h͟w͟a͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ j͟e͟n͟i͟s͟ a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.
Hal ini sebagaimana dapat ditemukan dalam Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025 tentang KUHAP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026,[¹] yang sebelumnya diatur dalam ~Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama yang saat ini sudah tidak berlaku, sebagai~ berikut.
Pasal 235 ayat (1) UU 20/2025
Alat bukti terdiri atas:
- keterangan saksi;
- keterangan ahli;
- surat;
- keterangan terdakwa;
- barang bukti;
- bukti eletrkonik;
- pengamatan hakim; dan
- segala sesuatu yang dapat digunakan untuk kepentingan pembuktian pada pemeriksaan di sidang pengadilan sepanjang diperoleh secara tidak melawan hukum.
~Pasal 184 ayat (1) KUHAP lama~
Alat bukti yang sah ialah:
- keterangan saksi;
- keterangan ahli;
- surat;
- petunjuk;
- keterangan terdakwa.
Menurut Pasal 1 angka 48 UU 20/2025, yang dimaksud dengan keterangan saksi adalah a͟l͟a͟t͟ b͟u͟k͟t͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟u͟p͟a͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ s͟a͟k͟s͟i͟ p͟a͟d͟a͟ t͟a͟h͟a͟p͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟l͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟.
Kemudian, Pasal 1 angka 47 UU 20/2025 mendefinisikan saksi s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ i͟a͟ d͟e͟n͟g͟a͟r͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, i͟a͟ l͟i͟h͟a͟t͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ i͟a͟ a͟l͟a͟m͟i͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, a͟t͟a͟u͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟u͟a͟s͟a͟i͟ d͟a͟t͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ i͟n͟f͟o͟r͟m͟a͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟k͟a͟i͟t͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ d͟i͟p͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟ g͟u͟n͟a͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟e͟͟l͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟y͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟u͟͟n͟͟t͟͟u͟͟t͟͟a͟͟n͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟.
Selain pada peradilan pidana sipil, keterangan saksi juga merupakan salah satu jenis alat bukti pada hukum acara pidana militer, sebagaimana dapat ditemukan pada Pasal 172 ayat (1) UU 31/1997, sebagai berikut:
Alat bukti yang sah ialah:
- keterangan saksi;
- keterangan ahli;
- keterangan terdakwa;
- surat; dan
- petunjuk.
Pada UU 31/1997, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ didefinisikan sebagai salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri, dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu.[²]
Masih dalam undang-undang yang sama, p͟e͟n͟g͟e͟r͟t͟i͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami sendiri.[³]
Pemeriksaan Saksi Korban yang Sedang Sakit
Mengingat Anda lebih khusus menyebutkan saksi korban, perlu diperhatikan bahwa yang dimaksud dengan korban adalah s͟e͟s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ p͟e͟n͟d͟e͟r͟i͟t͟a͟a͟n͟ f͟͟i͟͟s͟͟i͟͟k͟͟, m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟l͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟r͟u͟g͟i͟a͟n͟ e͟k͟o͟n͟o͟m͟i͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟k͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟.[⁴]
Namun, untuk saksi korban, sepanjang penelusuran kami peraturan perundang-undangan tidak mendefinisikannya. Jika merujuk pada artikel Mengenal 8 Jenis Saksi dalam Hukum Acara Pidana, s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ j͟e͟n͟i͟s͟ s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟. S͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ s͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟s͟e͟b͟u͟t͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟t͟a͟t͟u͟s͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ d͟i͟ p͟e͟n͟g͟a͟d͟i͟l͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ (s͟͟a͟͟k͟͟s͟͟i͟͟) y͟a͟n͟g͟ k͟e͟b͟e͟t͟u͟l͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟d͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟r͟͟, m͟͟e͟͟l͟͟i͟͟h͟͟a͟͟t͟͟, d͟a͟n͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟i͟͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟b͟͟u͟͟t͟͟.
Contoh: s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ k͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟a͟͟s͟͟a͟͟n͟͟, p͟͟e͟͟n͟͟i͟͟p͟͟u͟͟a͟͟n͟͟, a͟t͟a͟u͟ p͟e͟l͟e͟c͟e͟h͟a͟n͟ s͟͟e͟͟k͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟, y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟a͟͟n͟͟g͟͟ i͟d͟e͟n͟t͟i͟t͟a͟s͟ p͟͟e͟͟l͟͟a͟͟k͟͟u͟͟, m͟o͟d͟u͟s͟ o͟͟p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟d͟͟i͟͟, d͟a͟n͟ a͟k͟i͟b͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟a͟͟l͟͟a͟͟m͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.[⁵]
Keterangan saksi (termasuk keterangan saksi korban) disampaikan secara langsung di sidang pengadilan baik itu dalam peradilan pidana sipil maupun militer. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 236 ayat (1) UU 20/2025 jo. Pasal 173 ayat (1) UU 31/1997.
Namun, dalam Pasal 236 ayat (2) UU 20/2025, ditentukan bahwa d͟a͟l͟a͟m͟ h͟a͟l͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟s͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ d͟i͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ p͟͟e͟͟n͟͟g͟͟a͟͟d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟s͟a͟m͟p͟a͟i͟k͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟l͟u͟i͟ a͟l͟a͟t͟ k͟o͟m͟u͟n͟i͟k͟a͟s͟i͟ a͟u͟d͟i͟o͟ v͟͟i͟͟s͟͟u͟͟a͟͟l͟͟.
Perihal pemanggilannya, hakim ketua yang ditunjuk menetapkan hari sidang kepada penuntut umum (dalam peradilan pidana sipil) atau oditur (dalam peradilan pidana militer) untuk memanggil saksi datang di sidang pengadilan.[6]
Lantas, bagaimana jika saksi korban sakit? P͟a͟d͟a͟ d͟͟a͟͟s͟͟a͟͟r͟͟n͟͟y͟͟a͟͟, k͟͟e͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟a͟͟n͟͟ p͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ p͟e͟r͟u͟n͟d͟a͟n͟g͟-u͟n͟d͟a͟n͟g͟a͟n͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟n͟g͟a͟t͟u͟r͟ m͟͟e͟͟n͟͟g͟͟e͟͟n͟͟a͟͟i͟͟ s͟i͟t͟u͟a͟s͟i͟ d͟i͟ s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟d͟a͟n͟g͟ s͟a͟k͟i͟t͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟a͟d͟i͟r͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟k͟s͟a͟a͟n͟ d͟i͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟.
Akan tetapi, j͟i͟k͟a͟ s͟a͟k͟s͟i͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ t͟i͟d͟a͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟s k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟i͟͟͟t͟͟͟, s͟a͟k͟s͟i͟ h͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟u͟͟͟s͟͟͟ m͟e͟m͟b͟e͟r͟i͟k͟a͟n͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ j͟͟e͟͟l͟͟a͟͟s͟͟. Hal ini karena dalam hal saksi tidak hadir meskipun telah dipanggil dengan sah dan h͟a͟k͟i͟m͟ k͟e͟t͟u͟a͟ s͟i͟d͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟p͟u͟n͟y͟a͟i͟ c͟u͟k͟u͟p͟ a͟l͟a͟s͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟y͟a͟n͟g͟k͟a͟ b͟a͟h͟w͟a͟ s͟a͟k͟s͟i͟ i͟t͟u͟ t͟i͟d͟a͟k͟ a͟k͟a͟n͟ m͟a͟u͟ h͟͟͟a͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟, hakim ketua sidang dapat memerintahkan agar saksi tersebut dihadapkan ke persidangan. Yang mana, ketentuan tersebut diatur dalam Pasal 209 ayat (2) UU 20/2025 jo. Pasal 152 ayat (2) UU 31/1997.
Kemudian, perlu diperhatikan bahwa dalam ranah hukum pidana materiil, t͟i͟n͟d͟a͟k͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ m͟e͟l͟a͟w͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟i͟d͟a͟k͟ h͟a͟d͟i͟r͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ d͟i͟p͟a͟n͟g͟g͟i͟l͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ s͟a͟k͟s͟i͟ b͟i͟s͟a͟ d͟͟i͟͟k͟͟e͟͟n͟͟a͟͟i͟͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟. Hal ini dapat ditemukan pada Pasal 285 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026,[⁷] yang sebelumnya diatur dalam ~Pasal 224 KUHP lama yang sudah tidak berlaku~ sebagai berikut.
Pasal 285 UU 1/2023
- Setiap orang yang secara melawan hukum tidak datang pada saat dipanggil sebagai saksi, ahli, atau juru bahasa, atau tidak memenuhi suatu kewajiban yang harus dipenuhi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, dipidana dengan:
a. pidana penjara
paling lama 9
bulan atau
pidana denda
paling banyak
kategori II, yaitu
sebesar
Rp10 juta,[⁸] bagi
perkara pidana;
atau
b. pidana penjara
paling lama 6
bulan atau
pidana denda
paling banyak
kategori II, yaitu
sebesar
Rp10 juta,[⁹] bagi
perkara lain.
~Pasal 224 KUHP lama~
- Barang siapa dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa menurut undang-undang dengan sengaja tidak memenuhi kewajiban berdasarkan undang-undang yang harus dipenuhinya, diancam:
- dalam perkara pidana, dengan pidana penjara paling lama 9 bulan;
- dalam perkara lain, dengan pidana penjara paling lama 6 bulan.
Dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal (hal. 336), R. Soesilo menerangkan bahwa “melawan hak tidak datang” atau “melawan hukum tidak datang” di sini tidak perlu dilakukan dengan sengaja, sudah cukup misalnya karena lalai, lupa, kurang perhatian dan sebagainya. Sebaliknya apabila saksi itu tidak bisa datang, karena ada alasan yang memaksa misalnya sakit, maka saksi tersebut tidak dapat dipidana, maka berdasarkan ~Pasal 48 KUHP lama yang saat ini sudah tidak berlaku~ dan digantikan oleh Pasal 42 UU 1/2023 tentang KUHP baru, ketentuannya adalah sebagai berikut.
Pasal 42 UU 1/2023
- Setiap orang yang melakukan tindak pidana tidak dipidana karena:
- dipaksa oleh kekuatan yang tidak dapat ditahan; atau
- dipaksa oleh adanya ancaman, tekanan, atau kekuatan yang tidak dapat dihindari.
~Pasal 48 KUHP lama~
- Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa, tidak dipidana.
Jika merujuk pada uraian di atas, kami simpulkan bahwa s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟w͟a͟j͟i͟b͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ h͟a͟d͟i͟r͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟r͟͟s͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟g͟͟a͟͟n͟͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ j͟i͟k͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ h͟a͟d͟i͟r͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ s͟a͟n͟k͟s͟i͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟͟e͟͟n͟͟j͟͟e͟͟r͟͟a͟͟t͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Akan tetapi, jika terdapat daya paksa seperti sakit, menurut hemat kami dan selaras dengan pandangan R. Soesilo, korban dapat tidak hadir sebagai saksi korban dalam pemeriksaan perkara pidana dan tidak dapat dikenai sanksi pidana.
Seberapa Penting Kesaksian Korban?
Kemudian kami akan menjawab pertanyaan Anda mengenai seberapa penting kesaksian korban. Pada dasarnya, peraturan perundang-undangan tidak mengatur mengenai jenis saksi mana yang lebih penting atau memiliki kesaksian yang lebih kuat.
Akan tetapi, kami menemukan beberapa pendapat mengenai kelebihan dari saksi korban dibandingkan jenis-jenis saksi lainnya.
Seperti pendapat Muhammad Huzaifi dalam jurnal yang berjudul Kedudukan Keterangan Korban Pada Agenda Pembuktian yang Tidak Dapat Hadir di Persidangan (hal. 443) yang menyatakan bahwa seorang s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ c͟e͟n͟d͟e͟r͟u͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟a͟n͟ d͟i͟b͟a͟n͟d͟i͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟-s͟a͟k͟s͟i͟ l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Alasannya k͟a͟r͟e͟n͟a͟ s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟m͟u͟n͟g͟k͟i͟n͟a͟n͟ l͟e͟b͟i͟h͟ b͟e͟s͟a͟r͟ m͟e͟n͟d͟e͟n͟g͟a͟r͟ s͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟r͟͟i͟͟, m͟e͟l͟i͟h͟a͟t͟ s͟͟͟e͟͟͟n͟͟͟d͟͟͟i͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟a͟l͟a͟m͟i͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟͟i͟͟d͟͟a͟͟n͟͟a͟͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟d͟a͟m͟p͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ a͟t͟a͟s͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟d͟͟i͟͟.
Kemudian, Iwan Rasiwan dalam bukunya Suatu Pengantar Hukum Pembuktian Tindak Pidana (hal. 159) menyatakan bahwa k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ b͟o͟b͟o͟k͟ y͟a͟n͟g͟ k͟u͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ P͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟k͟͟t͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, tetapi tetap harus didukung oleh bukti lain agar objektivitas dalam peradilan tetap terjaga. Menurut hemat kami, hal ini mengingat dalam hukum acara pidana terdapat asas unus testis nullus testis yang artinya s͟a͟t͟u͟ s͟a͟k͟s͟i͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ dalam Pasal 237 ayat (1) UU 20/2025 jo. Pasal 173 ayat (2) UU 31/1997.
Oleh karena itu, walaupun peraturan perundang-undangan tidak mengatur jenis saksi mana yang lebih kuat dalam pembuktian, k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ c͟e͟n͟d͟e͟r͟u͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟a͟n͟ d͟i͟b͟a͟n͟d͟i͟n͟g͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ s͟a͟k͟s͟i͟-s͟a͟k͟s͟i͟ l͟a͟i͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ b͟o͟b͟o͟t͟ y͟a͟n͟g͟ k͟u͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟͟e͟͟m͟͟b͟͟u͟͟k͟͟t͟͟i͟͟a͟͟n͟͟, k͟a͟r͟e͟n͟a͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟d͟a͟m͟p͟a͟k͟ l͟a͟n͟g͟s͟u͟n͟g͟ a͟t͟a͟s͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟d͟͟i͟͟. Meskipun demikian, saksi korban tetap harus didukung dengan alat bukti lainnya, mengingat terdapat asas unus testis nullus testis.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1997 tentang Peradilan Militer;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Adakah Larangan Bagi Hakim Memeriksa Saksi yang Sedang Sakit?, yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 18 Desember 2013. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” dengan judul Bolehkah Saksi Korban yang Sakit Tak Hadir ke Pengadilan? Pada tanggal 11 Mei 2026M. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 21 Juni 2026M/06 Muharam 1448H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

