INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com)– PERTANYAAN:
Saya memiliki pertanyaan seputar hukum perbudakan:
- Di peraturan mana bisa ditemukan pengertian perbudakan dan hukuman bagi pelaku perbudakan?
- Apakah majikan yang tidak membayar upah kepada karyawannya bisa dipidana?
Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kekuatan untuk menjalani puasa Ramadhan sebulan penuh, dan diterima ibadah puasanya. Aamiin..
bye:
Khurotin – Sponsor Segeran
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔓𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞, 𝔥𝔞𝔨 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔞𝔨 𝔞𝔰𝔞𝔰𝔦 𝔪𝔞𝔫𝔲𝔰𝔦𝔞 (ℌ𝔄𝔐) 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔲𝔯𝔞𝔫𝔤𝔦 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔢𝔞𝔡𝔞𝔞𝔫 𝔞𝔭𝔞𝔭𝔲𝔫 𝔡𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔰𝔦𝔞𝔭𝔞𝔭𝔲𝔫. 𝔓𝔢𝔯𝔟𝔲𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔨𝔬𝔫𝔡𝔦𝔰𝔦 𝔰𝔢𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔨𝔢𝔭𝔢𝔪𝔦𝔩𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫. 𝔓𝔯𝔞𝔨𝔱𝔦𝔨 𝔰𝔢𝔯𝔲𝔭𝔞 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔞𝔡𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔱𝔦𝔫𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔢𝔪𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔰𝔢𝔰𝔢𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔨𝔢𝔨𝔲𝔞𝔰𝔞𝔞𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔰𝔢𝔥𝔦𝔫𝔤𝔤𝔞 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔞𝔪𝔭𝔲 𝔪𝔢𝔫𝔬𝔩𝔞𝔨 𝔰𝔲𝔞𝔱𝔲 𝔭𝔢𝔨𝔢𝔯𝔧𝔞𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔢𝔠𝔞𝔯𝔞 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔴𝔞𝔫 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔡𝔦𝔭𝔢𝔯𝔦𝔫𝔱𝔞𝔥𝔨𝔞𝔫 𝔬𝔩𝔢𝔥 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔩𝔞𝔦𝔫 𝔦𝔱𝔲 𝔨𝔢𝔭𝔞𝔡𝔞𝔫𝔶𝔞, 𝔴𝔞𝔩𝔞𝔲𝔭𝔲𝔫 𝔬𝔯𝔞𝔫𝔤 𝔱𝔢𝔯𝔰𝔢𝔟𝔲𝔱 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔫𝔤𝔥𝔢𝔫𝔡𝔞𝔨𝔦𝔫𝔶𝔞.
𝔗𝔢𝔯𝔥𝔞𝔡𝔞𝔭 𝔭𝔢𝔩𝔞𝔨𝔲 𝔭𝔢𝔯𝔟𝔲𝔡𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔡𝔦𝔨𝔢𝔫𝔞𝔦 𝔧𝔢𝔯𝔞𝔱 𝔭𝔦𝔡𝔞𝔫𝔞 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔘𝔘 1/2023 𝔱𝔢𝔫𝔱𝔞𝔫𝔤 𝔎𝔘ℌ𝔓 𝔟𝔞𝔯𝔲.
𝔏𝔞𝔫𝔱𝔞𝔰, 𝔞𝔭𝔞 𝔰𝔞𝔫𝔨𝔰𝔦 𝔥𝔲𝔨𝔲𝔪 𝔧𝔦𝔨𝔞 𝔪𝔞𝔧𝔦𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔦𝔡𝔞𝔨 𝔪𝔢𝔪𝔟𝔞𝔶𝔞𝔯 𝔲𝔭𝔞𝔥 𝔨𝔞𝔯𝔶𝔞𝔴𝔞𝔫𝔫𝔶𝔞?
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Hak untuk Tidak Diperbudak
Mengenai definisi dari perbudakan sebagaimana Anda tanyakan, dapat ditemukan pada Penjelasan Umum UU TPPO, sebagai berikut:
- Perbudakan adalah kondisi seseorang di bawah kepemilikan orang lain. Praktik serupa perbudakan adalah tindakan menempatkan seseorang dalam kekuasaan orang lain sehingga orang tersebut tidak mampu menolak suatu pekerjaan yang secara melawan hukum diperintahkan oleh orang lain itu kepadanya, walaupun orang tersebut tidak menghendakinya.
Berkaitan dengan perbudakan, pada dasarnya UUD 1945 sudah mengatur bahwa h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟p͟e͟r͟b͟u͟d͟a͟k͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ h͟a͟k͟ a͟s͟a͟s͟i͟ m͟a͟n͟u͟s͟i͟a͟ (“H͟͟A͟͟M͟͟”) y͟a͟n͟g͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟u͟r͟a͟n͟g͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ a͟͟͟p͟͟͟a͟͟͟p͟͟͟u͟͟͟n͟͟͟. Hal ini sebagaimana dapat ditemukan pada Pasal 28I ayat (1) UUD 1945, sebagai berikut:
- Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati Nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.
Hal yang serupa juga diatur pada ketentuan Pasal 4 UU HAM:
- Hak. untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di hadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun dan oleh siapapun.
Adapun yang dimaksud dengan “dalam keadaan apapun” t͟e͟r͟m͟a͟s͟u͟k͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ p͟͟e͟͟r͟͟a͟͟n͟͟g͟͟, s͟e͟n͟g͟k͟e͟t͟a͟ b͟͟e͟͟r͟͟s͟͟e͟͟n͟͟j͟͟a͟͟t͟͟a͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ k͟e͟a͟d͟a͟a͟n͟ d͟͟a͟͟r͟͟u͟͟r͟͟a͟͟t͟͟. Sedangkan “siapapun” a͟d͟a͟l͟a͟h͟ n͟͟e͟͟g͟͟a͟͟r͟͟a͟͟, p͟͟e͟͟m͟͟e͟͟r͟͟i͟͟n͟͟t͟͟a͟͟h͟͟, d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ m͟͟͟a͟͟͟s͟͟͟y͟͟͟a͟͟͟r͟͟͟a͟͟͟k͟͟͟a͟͟͟t͟͟͟.[¹]
Selain itu, dalam Pasal 20 UU HAM, diatur bahwa tidak seorangpun boleh diperbudak atau diperhamba. Perbudakan atau perhambaan, perdagangan budak, perdagangan wanita, dan segala perbuatan berupa apapun yang tujuannya serupa, dilarang.
Adapun perbudakan juga termasuk pada pelanggaran HAM berat, sebagaimana disebutkan dalam Penjelasan Pasal 104 ayat (1) UU HAM.
Sebagai informasi, perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan manusia. P͟e͟r͟d͟a͟g͟a͟n͟g͟a͟n͟ o͟r͟a͟n͟g͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟r͟l͟a͟k͟u͟a͟n͟ t͟e͟r͟b͟u͟r͟u͟k͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ h͟a͟r͟k͟a͟t͟ d͟a͟n͟ m͟a͟r͟t͟a͟b͟a͟t͟ m͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟u͟͟͟s͟͟͟i͟͟͟a͟͟͟.[²] Selain itu, p͟e͟r͟b͟u͟d͟a͟k͟a͟n͟ j͟u͟g͟a͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ e͟k͟s͟p͟l͟o͟i͟t͟a͟s͟i͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟u͟n͟t͟u͟n͟g͟a͟n͟ b͟a͟i͟k͟ m͟a͟t͟e͟r͟i͟i͟l͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ i͟͟m͟͟m͟͟a͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟i͟͟l͟͟.[³]
Sanksi Pidana Pelaku Perbudakan
Mengingat perdagangan orang merupakan bentuk modern dari perbudakan manusia, pelaku perbudakan dapat dijerat dengan Pasal VII angka 40 UU 1/2026 yang mengubah Pasal 455 UU 1/2023 tentang KUHP baru yang berlaku sejak 2 Januari 2026,[⁴] yang berbunyi:
- Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang, atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah Negara Republik Indonesia, dipidana karena melakukan tindak pidana perdagangan orang, dengan pidana penjara paling lama 15 tahun atau pidana denda paling banyak kategori VII, yaitu sebesar Rp5 miliar.[⁵]
- Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang tereksploitasi, pelaku dipidana dengan pidana yang sama.
Selain itu, pelaku perbudakan juga dapat dipidana dengan tindak pidana terhadap kemanusiaan. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 599 huruf b UU 1/2023, sebagai berikut:
- Dipidana karena tindak pidana terhadap kemanusiaan, setiap orang yang melakukan salah satu perbuatan sebagai bagian dari serangan yang meluas atau sistematis yang diketahuinya bahwa serangan tersebut ditujukan terhadap penduduk sipil, berupa:
- perbudakan, penyiksaan, atau perbuatan tidak manusiawi lainnya yang sama sifatnya yang ditujukan untuk menimbulkan penderitaan yang berat atau luka yang serius pada tubuh atau kesehatan fisik dan mental, dengan pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun.
Jika Majikan Tidak Bayar Upah
Menjawab pertanyaan Anda selanjutnya mengenai majikan tidak membayar upah, menurut hemat kami, dalam perspektif HAM, t͟i͟d͟a͟k͟ d͟i͟b͟a͟y͟a͟r͟k͟a͟n͟n͟y͟a͟ u͟p͟a͟h͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ s͟e͟n͟g͟a͟j͟a͟ d͟a͟n͟ s͟i͟s͟t͟e͟m͟a͟t͟i͟s͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟k͟u͟a͟l͟i͟f͟i͟k͟a͟s͟i͟k͟a͟n͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟r͟j͟a͟ p͟͟a͟͟k͟͟s͟͟a͟͟ a͟t͟a͟u͟ p͟e͟r͟b͟u͟d͟a͟k͟a͟n͟ m͟͟o͟͟d͟͟e͟͟r͟͟n͟͟, yang dilarang oleh konstitusi dan peraturan perundang-undangan.
Berkaitan dengan kasus majikan tidak membayar upah karyawannya, menurut Pasal 81 angka 28 Perppu Cipta Kerja yang menambahkan Pasal 88A ayat (1) s.d. (3) UU Ketenagakerjaan, p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ u͟p͟a͟h͟ t͟i͟m͟b͟u͟l͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ t͟e͟r͟j͟a͟d͟i͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟e͟r͟j͟a͟ a͟n͟t͟a͟r͟a͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟a͟k͟h͟i͟r͟ p͟a͟d͟a͟ s͟a͟a͟t͟ p͟u͟t͟u͟s͟n͟y͟a͟ h͟u͟b͟u͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟. S͟e͟t͟i͟a͟p͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ b͟e͟r͟h͟a͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟r͟o͟l͟e͟h͟ u͟p͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟m͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ s͟a͟m͟a͟ n͟͟i͟͟l͟͟a͟͟i͟͟n͟͟y͟͟a͟͟. Lalu, p͟e͟n͟g͟u͟s͟a͟h͟a͟ w͟a͟j͟i͟b͟ m͟e͟m͟b͟a͟y͟a͟r͟ u͟p͟a͟h͟ k͟͟e͟͟p͟͟a͟͟d͟͟a͟͟ p͟͟e͟͟k͟͟e͟͟r͟͟j͟͟a͟͟/b͟u͟r͟u͟h͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ k͟͟e͟͟s͟͟e͟͟p͟͟a͟͟k͟͟a͟͟t͟͟a͟͟n͟͟.
- Bagi pengusaha yang melalaikan kewajiban membayar upah, maka dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 tahun dan/atau pidana denda paling banyak kategori IV,[⁶] yaitu sebesar Rp200 juta.[⁷]
Sebagai informasi tambahan, j͟i͟k͟a͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟l͟i͟b͟a͟t͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ a͟͟n͟͟a͟͟k͟͟, p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟n͟y͟a͟ s͟i͟a͟p͟a͟p͟u͟n͟ d͟i͟l͟a͟r͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟k͟a͟n͟ d͟a͟n͟ m͟e͟l͟i͟b͟a͟t͟k͟a͟n͟ a͟n͟a͟k͟ p͟a͟d͟a͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟-p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟͟͟u͟͟͟r͟͟͟u͟͟͟k͟͟͟,[⁸] s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟n͟y͟a͟ s͟e͟g͟a͟l͟a͟ p͟e͟k͟e͟r͟j͟a͟a͟n͟ d͟a͟l͟a͟m͟ b͟e͟n͟t͟u͟k͟ p͟e͟r͟b͟u͟d͟a͟k͟a͟n͟ atau sejenisnya.[⁹] Pelanggaran atas ketentuan ini dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau pidana denda paling banyak kategori IV,[¹⁰] yaitu sebesar Rp200 juta.[¹¹]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
- Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
- Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan;
- Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang;
- Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja;
- Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana.
Artikel ini adalah pemutakhiran dari artikel dengan judul Jerat Hukum Bagi Pelaku Perbudakan yang dibuat oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada 16 Mei 2013. Dipublikasikan kedua oleh “..Hukumonline.com..” pada tanggal 05 Maret 2026, dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 12 Maret 2026M/22 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers

