INDRAMAYU — PERTANYAAN
Polisi saat melakukan penangkapan masalah narkotika meminta sejumlah uang untuk menghilangkan barang bukti. Kemudiaan saat masuk kantor polisi diminta lagi sejumlah uang untuk tidak diproses, bisakah dilaporkan?
Atasan polisi tersebut juga tahu akan hal ini dan membiarkan terjadi. Apa yang bisa saya lakukan? Mungkinkah saya dianggap sebagai whistle blower? Apa imbasnya bagi saya dan pelaku yang ditangkap?
Kejadian sudah terjadi kurang lebih 2 bulan lalu, saya takut dan ragu melaporkan ini.
Atas pencerahannya diucapkan terimakasih dan untuk ubklawyers beserta Paralegalnya semoga diberikan kesuksesan dan kelancaran rejeki. Aamiin..
Fadillah Al’ayubi – Balongan
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【Hukum Pidana】
ᵀⁱⁿᵈᵃᵏᵃⁿ ᵖᵒˡⁱˢⁱ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵉᵐⁱⁿᵗᵃ ᵘᵃⁿᵍ ᵘⁿᵗᵘᵏ ᵐᵉⁿᵍʰⁱˡᵃⁿᵍᵏᵃⁿ ᵇᵃʳᵃⁿᵍ ᵇᵘᵏᵗⁱ ᵈᵃⁿ/ᵃᵗᵃᵘ ᵐᵉⁿᵍʰᵉⁿᵗⁱᵏᵃⁿ ᵖʳᵒˢᵉˢ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵏᵃᵗᵉᵍᵒʳⁱᵏᵃⁿ ˢᵉᵇᵃᵍᵃⁱ ˢᵘᵃᵗᵘ ᵖᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ᵐᵃⁿⁱᵖᵘˡᵃˢⁱ ᵃᵗᵃᵘ ʳᵉᵏᵃʸᵃˢᵃ ᵖᵉʳᵏᵃʳᵃ.
ᴾᵉʳᵇᵘᵃᵗᵃⁿ ⁱⁿⁱ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᵈⁱᵃⁿᶜᵃᵐ ʲᵉʳᵃᵗ ʰᵘᵏᵘᵐᵃⁿ ᵖⁱᵈᵃⁿᵃ, ᵖᵉˡᵃⁿᵍᵍᵃʳᵃⁿ ᴾᵉʳᵃᵗᵘʳᵃⁿ ᴰⁱˢⁱᵖˡⁱⁿ ᴾᵒˡʳⁱ, ˢᵉʳᵗᵃ ᵖᵉˡᵃⁿᵍᵍᵃʳᵃⁿ ᴷᵒᵈᵉ ᴱᵗⁱᵏ ᴾʳᵒᶠᵉˢⁱ ᴾᵒˡʳⁱ (ᴷᴱᴾᴾ).
ᴷᵉᵐᵘᵈⁱᵃⁿ ᵇᵃᵍᵃⁱᵐᵃⁿᵃ ˢᵗᵃᵗᵘˢ ᴬⁿᵈᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵐᵉˡᵃᵖᵒʳᵏᵃⁿ ᵗⁱⁿᵈᵃᵏᵃⁿ ᵖᵒˡⁱˢⁱ ᵐᵉᵐⁱⁿᵗᵃ ᵘᵃⁿᵍ ⁱⁿⁱ, ᵃᵖᵃᵏᵃʰ ᵗᵉʳᵐᵃˢᵘᵏ ʷʰⁱˢᵗˡᵉ ᵇˡᵒʷᵉʳ?
ᴾᵉⁿʲᵉˡᵃˢᵃⁿ ˡᵉᵇⁱʰ ˡᵃⁿʲᵘᵗ ᵈᵃᵖᵃᵗ ᴬⁿᵈᵃ ᵇᵃᶜᵃ ᵘˡᵃˢᵃⁿ ᵈⁱ ᵇᵃʷᵃʰ ⁱⁿⁱ.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Tindakan p͟o͟l͟i͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟n͟t͟a͟ u͟a͟n͟g͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟g͟h͟i͟l͟a͟n͟g͟k͟a͟n͟ b͟a͟r͟a͟n͟g͟ b͟u͟k͟t͟i͟ s͟e͟r͟t͟a͟ m͟e͟n͟g͟h͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟p͟o͟r͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟s͟ d͟a͟s͟a͟r͟ d͟u͟g͟a͟a͟n͟ m͟a͟n͟i͟p͟u͟l͟a͟s͟i͟ a͟t͟a͟u͟ r͟e͟k͟a͟y͟a͟s͟a͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟.
Proses p͟e͟n͟a͟n͟g͟k͟a͟p͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟a͟l͟a͟h͟ s͟a͟t͟u͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ u͟p͟a͟y͟a͟ p͟a͟k͟s͟a͟ pada tahap penyelidikan yang menjadi wewenang penyelidik atas dasar perintah dari penyidik.[¹] Penangkapan dilakukan untuk mencapai tujuan penyelidikan yakni a͟g͟a͟r͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ s͟u͟a͟t͟u͟ p͟e͟r͟i͟s͟t͟i͟w͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟d͟u͟g͟a͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ b͟e͟n͟a͟r͟-b͟e͟n͟a͟r͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ s͟u͟a͟t͟u͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ dan dapat dilakukan proses penyidikan terhadapnya atau tidak.[²]
Tindakan penyimpangan dengan cara memanipulasi perkara dalam proses penyelidikan akan mempengaruhi isi laporan hasil penyelidikan yang menjadi dasar pertimbangan dalam proses gelar perkara, yakni u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟e͟n͟t͟u͟k͟a͟n͟ a͟p͟a͟k͟a͟h͟ k͟a͟s͟u͟s͟ d͟u͟g͟a͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟l͟a͟n͟j͟u͟t͟k͟a͟n͟ k͟e͟ t͟a͟h͟a͟p͟ p͟e͟n͟y͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ a͟t͟a͟u͟ t͟͟i͟͟d͟͟a͟͟k͟͟.
Terlebih lagi, sebagaimana Anda ceritakan, polisi tersebut meminta uang untuk menghilangkan barang bukti. Padahal, keberadaan barang bukti dalam laporan hasil penyelidikan akan sangat berpengaruh dan memperkuat keyakinan penyidik bahwa memang telah terjadi suatu tindak pidana narkotika.
Tidak hanya itu, tindakan meminta uang untuk menghilangkan barang bukti dan menghentikan proses pidana adalah t͟i͟d͟a͟k͟ s͟e͟s͟u͟a͟i͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ p͟r͟o͟s͟e͟d͟u͟r͟ h͟u͟k͟u͟m͟ d͟a͟n͟ b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ b͟e͟b͟e͟r͟a͟p͟a͟ k͟e͟t͟e͟n͟t͟u͟a͟n͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟ K͟͟U͟͟H͟͟P͟͟, U͟U͟ N͟͟a͟͟r͟͟k͟͟o͟͟t͟͟i͟͟k͟͟a͟͟, P͟e͟r͟a͟t͟u͟r͟a͟n͟ D͟i͟s͟i͟p͟l͟i͟n͟ P͟͟o͟͟l͟͟r͟͟i͟͟, s͟e͟r͟t͟a͟ K͟o͟d͟e͟ E͟t͟i͟k͟ P͟r͟o͟f͟e͟s͟i͟ P͟o͟l͟r͟i͟ (“K͟E͟P͟P͟”).
Jerat Pidana bagi Polisi yang Meminta Uang
Pertama, tindakan P͟o͟l͟i͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟m͟i͟n͟t͟a͟ u͟a͟n͟g͟ t͟e͟r͟s͟e͟b͟u͟t͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟a͟n͟c͟a͟m͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ p͟e͟m͟e͟r͟a͟s͟a͟n͟ berdasarkan Pasal 368 ayat (1) KUHP yang berbunyi:
- Barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu, yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang itu atau orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena pemerasan, dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Unsur-unsur dalam pasal di atas telah terpenuhi dengan adanya tindakan polisi yang meminta uang secara “melawan hak” untuk keuntungan pribadinya dan keuntungan pelaku yakni tidak ditangkap dan diproses. Berkaitan dengan unsur “melawan hak”, R. Soesilo dalam bukunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal demi Pasal memaknai “melawan hak” berarti melawan hukum, tidak berhak atau bertentangan dengan hukum (hal. 256).
Lebih lanjut, KUHP juga memberikan a͟n͟c͟a͟m͟a͟n͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ d͟i͟p͟e͟r͟b͟e͟r͟a͟t͟ s͟e͟p͟e͟r͟t͟i͟g͟a͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ o͟k͟n͟u͟m͟ p͟o͟l͟i͟s͟i͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟a͟n͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ m͟e͟n͟g͟g͟u͟n͟a͟k͟a͟n͟ j͟a͟b͟a͟t͟a͟n͟ d͟a͟n͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟n͟y͟a͟ Hal tersebut diatur dalam Pasal 52 KUHP:
- Bilamana seorang pejabat karena melakukan perbuatan pidana melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya, atau pada waktu melakukan perbuatan pidana memakai kekuasaan, kesempatan atau sarana yang diberikan kepadanya karena jabatannya, pidananya dapat ditambah sepertiga.
Sehingga perbuatan polisi tersebut dapat diancam pidana berdasarkan Pasal 368 jo. Pasal 52 KUHP.
Jika diulas lebih mendalam, secara spesifik tindakan penghilangan barang bukti juga menyimpangi Pasal 140 ayat (2) UU Narkotika yang berisi tentang ancaman pidana bagi polisi yang tidak melakukan tindakan tertentu sesuai hukum terkait penyitaan kasus narkotika, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 10 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp100 juta dan paling banyak Rp1 miliar.[³]
Pelanggaran KEPP dan Peraturan Disiplin Polri
Bentuk dugaan pelanggaran lain yang juga dapat dijadikan jerat bagi oknum polisi tersebut ialah pelanggaran KEPP yang pada dasarnya m͟e͟n͟g͟i͟k͟a͟t͟ b͟a͟g͟i͟ s͟e͟l͟u͟r͟u͟h͟ a͟n͟g͟g͟o͟t͟a͟ k͟e͟p͟o͟l͟i͟s͟i͟a͟n͟ t͟a͟n͟p͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟k͟͟e͟͟c͟͟u͟͟a͟͟l͟͟i͟͟.[⁴]
Tindakan polisi tersebut setidaknya dapat dikategorikan sebagai bentuk pelanggaran KEPP, khususnya Pasal 10 ayat (2) KEPP yaitu m͟e͟r͟e͟k͟a͟y͟a͟s͟a͟ d͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟n͟i͟p͟u͟l͟a͟s͟i͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ t͟a͟n͟g͟g͟u͟n͟g͟ j͟a͟w͟a͟b͟a͟n͟n͟y͟a͟ d͟a͟l͟a͟m͟ r͟a͟n͟g͟k͟a͟ p͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
Selain itu, dalam kronologis juga disebutkan atasan polisi yang juga mengetahui dan membiarkan tindakan tersebut terjadi. Dengan sikap diamnya, atasan telah melanggar Pasal 11 ayat (1) huruf c KEPP yaitu m͟e͟n͟g͟h͟a͟l͟a͟n͟g͟i͟ d͟͟͟͟a͟͟͟͟n͟͟͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟n͟g͟h͟a͟m͟b͟a͟t͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟e͟r͟h͟a͟d͟a͟p͟ b͟a͟w͟a͟h͟a͟n͟n͟y͟a͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ f͟u͟n͟g͟s͟i͟ p͟e͟n͟e͟g͟a͟k͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟.
Ketentuan KEPP lainnya yang dapat menjerat kedua oknum atasan dan bawahan polisi tersebut ialah Pasal 10 ayat (1) huruf f KEPP t͟e͟n͟t͟a͟n͟g͟ m͟e͟l͟a͟k͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟m͟u͟f͟a͟k͟a͟t͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟n͟g͟g͟a͟r͟a͟n͟ K͟͟E͟͟P͟͟P͟͟.
Selain melanggar KEPP, tindakan polisi juga melanggar Pasal 6 PP Disiplin Polri yaitu l͟a͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟m͟a͟n͟i͟p͟u͟l͟a͟s͟i͟ p͟e͟r͟k͟a͟r͟a͟ d͟͟a͟͟n͟͟/a͟t͟a͟u͟ m͟e͟m͟p͟e͟n͟g͟a͟r͟u͟h͟i͟ p͟r͟o͟s͟e͟s͟ p͟e͟n͟y͟e͟l͟i͟d͟i͟k͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ k͟e͟p͟e͟n͟t͟i͟n͟g͟a͟n͟ p͟r͟i͟b͟a͟d͟i͟ s͟e͟h͟i͟n͟g͟g͟a͟ m͟e͟n͟g͟u͟b͟a͟h͟ a͟r͟a͟h͟ k͟e͟b͟e͟n͟a͟r͟a͟n͟ m͟a͟t͟e͟r͟i͟l͟ p͟͟e͟͟r͟͟k͟͟a͟͟r͟͟a͟͟.[⁵]
Atas perbuatan polisi yang meminta uang ini, kami menyarankan kepada Anda untuk melaporkan y͟a͟n͟g͟ b͟e͟r͟s͟a͟n͟g͟k͟u͟t͟a͟n͟ k͟͟e͟͟ D͟i͟v͟i͟s͟i͟ P͟r͟o͟p͟a͟m͟ P͟͟͟o͟͟͟l͟͟͟r͟͟͟i͟͟͟.
Whistle Blower dan Justice Collaborator
Dalam kasus dugaan tindak pidana pemerasan yang dilakukan oleh polisi sebagaimana Anda tanyakan, penanya dapat berkedudukan sebagai whistle blower. Istilah whistle blower dalam hukum positif di Indonesia dimaknai sebagai p͟i͟h͟a͟k͟ y͟a͟n͟g͟ m͟e͟n͟g͟e͟t͟a͟h͟u͟i͟ d͟a͟n͟ m͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟k͟a͟n͟ t͟i͟n͟d͟a͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ d͟a͟n͟ b͟u͟k͟a͟n͟ m͟e͟r͟u͟p͟a͟k͟a͟n͟ b͟a͟g͟i͟a͟n͟ d͟a͟r͟i͟ p͟e͟l͟a͟k͟u͟ k͟e͟j͟a͟h͟a͟t͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟l͟͟a͟͟p͟͟o͟͟r͟͟k͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Pihak penanya dapat melaporkan dugaan tindak pidana pemerasan dan ia s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ p͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟i͟j͟a͟m͟i͟n͟ p͟e͟r͟l͟i͟n͟d͟u͟n͟g͟a͟n͟n͟y͟a͟ b͟e͟r͟d͟a͟s͟a͟r͟k͟a͟n͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟. Ketentuan kedudukan dan jaminan perlindungan hukum bagi whistle blower ini tercantum dalam Angka 6 SEMA 4/2011, yang merujuk pada Pasal 10 ayat (1) UU 31/2014 yaitu s͟a͟k͟s͟i͟ k͟o͟r͟b͟a͟n͟ d͟a͟n͟ p͟e͟l͟a͟p͟o͟r͟ t͟i͟d͟a͟k͟ d͟a͟p͟a͟t͟ d͟i͟t͟u͟n͟t͟u͟t͟ s͟e͟c͟a͟r͟a͟ h͟͟u͟͟k͟͟u͟͟m͟͟, b͟a͟i͟k͟ p͟i͟d͟a͟n͟a͟ m͟a͟u͟p͟u͟n͟ p͟e͟r͟d͟a͟t͟a͟ a͟t͟a͟s͟ l͟͟a͟͟p͟͟o͟͟r͟͟a͟͟n͟͟, k͟e͟s͟a͟k͟s͟i͟a͟n͟ y͟a͟n͟g͟ a͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, s͟e͟d͟a͟n͟g͟ a͟t͟a͟u͟ y͟a͟n͟g͟ t͟e͟l͟a͟h͟ d͟͟i͟͟b͟͟e͟͟r͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟n͟͟y͟͟a͟͟.
Kemudian terkait imbas atau dampak jika Anda melaporkan hal ini, proses pidana narkotika tersebut tentu akan diproses kembali sesuai ketentuan hukum yang berlaku.
Namun apabila Anda ikut terlibat dalam tindakan polisi meminta uang ini, maka Anda selaku saksi yang juga tersangka dalam kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dari tuntutan pidana apabila ternyata terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah, tetapi kesaksian Anda dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana (justice collaborator).[⁶]
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
- Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana;
- Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika;
- Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja;
- Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2003 tentang Peraturan Disiplin Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Peraturan Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Kepolisian Negara Republik Indonesia;
- Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (Whistle Blower) dan Saksi Pelaku yang Bekerjasama (Justice Collaborators) di dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu.
Artikel ini dibuat oleh Monnachu Wemonicha Lovina. SH, dipublikasikan “..Hukumonline.com..” dengan judul Hukumnya bagi Polisi yang Minta Uang untuk Stop Proses Pidana pada tanggal 12 Juli 2022. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 14 Agustus 2025.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
