Bagian 2 (Akhir)
Oleh: Suhaeli Nawawi
Bab II: Tinjauan Teoretis
A. Konsep Ukuran (Qadar) dalam Al-Qur’an
INDRAMAYU — Dalam literatur Islam klasik, istilah qadar tidak hanya merujuk pada takdir sebagai ketentuan nasib, tetapi juga mencakup aspek ukuran, takaran, dan ketetapan yang bersifat presisi. Tafsir Al-Qur’an klasik seperti Tafsir al-Tabari dan Tafsir al-Razi menyebutkan bahwa kata biqadar dalam QS Al-Qamar:49 berasal dari akar kata qadara, yang bermakna “menentukan dengan ukuran”, “mengukur sesuatu secara proporsional”, dan “mengatur dengan hikmah”.
Konsep ini diperkuat dengan QS Al-Hijr:21: “Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kamilah khazanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu (biqadar ma’lum).”
Ayat ini menyiratkan bahwa semua sumber daya di alam semesta telah diatur berdasarkan ukuran, bukan secara serampangan. Ayat-ayat semacam ini menegaskan bahwa penciptaan bersifat terukur, terencana, dan tertata, bukan hasil kebetulan.
B. Ukuran dalam Ayat Kauniyah: Tanda-Tanda di Alam Semesta
Ayat-ayat kauniyah adalah ayat-ayat Tuhan yang tertulis dalam “kitab semesta” (alam), dan dapat diamati oleh akal manusia melalui sains. Kosmologi modern menunjukkan bahwa planet-planet berada dalam orbit yang tetap karena keseimbangan antara gaya gravitasi dan momentum orbitnya. Jarak antara Bumi dan Matahari (~149,6 juta km) sangat presisi, memungkinkan adanya air dalam bentuk cair — syarat utama kehidupan. Ini mencerminkan ketelitian ukuran dalam skala astronomis.
Beberapa contoh ukuran alam yang telah diketahui secara ilmiah:
▪︎ Diameter Matahari: ~1,39 juta km
▪︎ Jarak Bumi ke Bulan: ~384.400 km
▪︎ Kecepatan cahaya: 299.792.458 m/s
▪︎ Konstanta Gravitasi: 6,674×10⁻¹¹ N·m²/kg²
Keseluruhan nilai konstanta dan ukuran ini berada dalam batas-batas yang sangat sempit. Jika ada sedikit penyimpangan, struktur semesta atau kehidupan tidak akan terbentuk. Ini sejalan dengan prinsip fine-tuning dalam kosmologi.
C. Ukuran dalam Diri Manusia (Ayat Anfusiyah)
Al-Qur’an mengajak manusia untuk memperhatikan tanda-tanda Allah dalam diri mereka sendiri (QS Fussilat:53): “Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri…”
Tubuh manusia adalah contoh mikrokosmos yang sangat terukur. Contoh sistem pengaturan ukuran dalam tubuh:
▪︎ Tekanan darah: 120/80 mmHg
▪︎ Suhu tubuh: 36,5–37,5°C
▪︎ pH darah: 7,35–7,45
▪︎ Kadar gula darah puasa: 70–99 mg/dL
Ketidakseimbangan sedikit saja pada parameter-parameter ini dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh, bahkan kematian. Artinya, tubuh manusia telah diciptakan dengan sistem regulasi yang sangat presisi—satu bentuk nyata dari qadar.
D. Pelanggaran terhadap Ukuran: Dampak dan Peringatan Ilahiyah
Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan yang terjadi di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia yang melampaui batas ketentuan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS Ar-Rum:41)
Dalam sains, pelanggaran terhadap ukuran dapat dilihat dalam bentuk:
▪︎ Krisis ekologi: seperti perubahan iklim karena eksploitasi bahan bakar fosil secara berlebihan.
▪︎ Gangguan metabolik: seperti obesitas dan hipertensi akibat pola konsumsi tidak terukur.
▪︎ Krisis sosial: ketimpangan ekonomi sebagai bentuk ketidakseimbangan distribusi sumber daya.
Dalam banyak kasus, pelanggaran ini berakar pada kegagalan manusia dalam mengenali dan mematuhi batas-batas ukuran yang telah ditetapkan oleh pencipta semesta.
Bab III: Ukuran sebagai Ketetapan Ilahi dalam Kosmos dan Kehidupan
A. Ukuran sebagai Fenomena Taqdir Ilahi
Ukuran dalam penciptaan bukanlah hasil kebetulan, melainkan wujud dari taqdir fungsional yang telah dirancang dengan presisi oleh Tuhan. QS Al-Furqan:2 menegaskan: “…Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukurannya dengan serapi-rapinya (faqaddarahu taqdīran).”
Menurut Fakhruddin al-Razi, ayat ini mengandung makna bahwa penciptaan tidak lepas dari takaran dan nilai yang proporsional. Dalam konteks saintifik, hal ini paralel dengan konsep fine-tuning dalam kosmologi modern: bila konstanta fisika berubah sedikit saja, maka kehidupan tidak mungkin ada.
B. Tatanan Kosmik dan Gravitasi sebagai Ukuran Presisi
Fenomena orbit planet, rotasi bumi, dan gaya tarik-menarik adalah cerminan konkret dari hukum ukuran dalam sistem kosmos:
▪︎ Orbit Bumi ditentukan oleh keseimbangan antara gravitasi dan kecepatan revolusi.
Jika salah satu berubah sedikit, maka Bumi akan keluar dari jalurnya atau jatuh ke Matahari.
Ini sejalan dengan QS Yasin:40: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.”
Ayat ini menunjukkan keteraturan kosmik yang mencerminkan sistem pengukuran presisi.
C. Kecepatan Rotasi Bumi sebagai Ukuran Optimal
Kecepatan rotasi Bumi (~1.670 km/jam) tidak hanya menentukan panjang hari, tetapi juga keseimbangan atmosfer dan ekosistem.
Jika lebih lambat: siang dan malam ekstrem → gangguan biologis.
Jika lebih cepat: tekanan sentrifugal meningkat → dampak geofisika besar.
Ini menunjukkan bahwa rotasi adalah ukuran yang dirancang untuk menopang kehidupan, bukan produk acak.
D. Integrasi Wahyu dan Ayat Kauniyah
Ukuran tidak hanya termaktub dalam hukum alam (ayat kauniyah), tetapi juga dalam wahyu. Contoh integrasi:
▪︎ Orbit planet dalam QS Yasin: 38–40 selaras dengan hukum Kepler.
▪︎ Sistem homeostasis tubuh mencerminkan prinsip keadilan dan keseimbangan dalam wahyu..
QS Al-Mulk:3–4 menyatakan: “Engkau tidak melihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih…”
Ini adalah seruan untuk membaca struktur alam sebagai wahyu tersirat (silent revelation).
E. Ukuran dalam Dimensi Biologis dan Sensorik
Pergerakan Bumi yang tidak terasa oleh manusia menunjukkan desain yang mempertimbangkan kenyamanan makhluk:
Hukum Newton (inersia) + sistem vestibular → manusia tak merasakan gerak rotasi & revolusi.
Sistem ini menunjukkan bahwa ketetapan ukuran gerak Bumi juga mempertimbangkan fisiologi manusia.
QS Yasin:38 kembali mengafirmasi: “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan (taqdir) Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”
F. Dampak Pelanggaran terhadap Ukuran
Pelanggaran terhadap ukuran meliputi tiga aspek:
1.Ekologis: kerusakan akibat emisi karbon, deforestasi, dan polusi laut.
2.Biologis: penyakit akibat pelanggaran homeostasis seperti hipertensi atau diabetes.
3.Moral-spiritual: israf (berlebih-lebihan), ketimpangan sosial, dll.
Semua bentuk pelanggaran ini dikritik dalam QS Ar-Rum:41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…”
G. Relevansi Kesadaran Ukuran dalam Peradaban Modern
Kesadaran akan ukuran dapat menjadi fondasi etika global:
Pribadi: menjaga tekanan darah, keseimbangan emosi → spiritualitas ilmiah.
Sosial-ekologis: pengelolaan sumber daya berkelanjutan dan keadilan ekonomi.
Peradaban: kembali kepada nilai wahyu dan ilmu sebagai satu kesatuan.
Kesimpulan Bab
Ukuran bukan sekadar angka, tapi bentuk hikmah dan rahmat Allah yang termanifestasi dalam ciptaan. Dengan memahami dan menjaga ukuran tersebut, manusia dapat hidup dalam keharmonisan kosmik dan spiritual. Integrasi antara ilmu dan iman menjadi jalan menuju peradaban yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bab IV: Penutup
A. Kesimpulan
Ukuran adalah prinsip universal yang menjadi fondasi dari seluruh ciptaan. Ayat-ayat Al-Qur’an secara eksplisit menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang pasti dan takdir yang telah ditentukan, sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Qamar:49 dan QS Al-Furqan:2. Ukuran tidak hanya bersifat fisik dan matematis, tetapi juga mencakup keteraturan moral, sosial, dan spiritual.
Fenomena ukuran dalam kosmos—seperti jarak antar planet, orbit benda langit, hukum gravitasi, serta sistem biologis manusia seperti tekanan darah, keseimbangan hormon, dan struktur genetik—mencerminkan perencanaan yang presisi dan keselarasan kosmis yang dikehendaki oleh Tuhan. Wahyu Ilahi dan ayat-ayat kauniyah saling melengkapi dalam mengajarkan manusia untuk hidup dalam batas dan keseimbangan.
Namun demikian, manusia sebagai makhluk yang memiliki kebebasan berkehendak sering melanggar batas ukuran ini. Pelanggaran tersebut dapat berupa perilaku berlebih-lebihan, eksploitasi lingkungan, hingga ketimpangan sosial, yang seluruhnya membawa akibat kerusakan sebagaimana disebutkan dalam QS Ar-Rum:41. Maka dari itu, kesadaran terhadap prinsip ukuran bukan hanya penting secara ilmiah, tetapi juga fundamental dalam etika keislaman dan keberlanjutan kehidupan.
B.Rekomendasi
1.Penguatan Kesadaran Ukuran dalam Pendidikan: Diperlukan integrasi antara pendidikan agama dan sains yang menanamkan kesadaran bahwa ukuran adalah wujud dari keteraturan Ilahi. Kurikulum yang menekankan harmoni antara akal dan wahyu akan membentuk individu yang peka terhadap batas dan keseimbangan.
2.Pendekatan Interdisipliner dalam Kajian Islam dan Sains: Studi-studi yang menggabungkan tafsir, kosmologi, biologi, dan etika dapat memperkaya pemahaman umat Islam terhadap konsep taqdir dan qadar sebagai ukuran yang dinamis dan aplikatif dalam kehidupan modern.
3.Penerapan Prinsip Ukuran dalam Kebijakan Publik: Pemerintah dan lembaga sosial hendaknya mengembangkan kebijakan berdasarkan prinsip keadilan, proporsionalitas, dan keberlanjutan. Pengelolaan sumber daya alam, sistem ekonomi, serta penanganan lingkungan harus memperhatikan keseimbangan sebagai refleksi dari ukuran yang ditetapkan Tuhan.
4.Revitalisasi Spiritualitas Ukuran: Diperlukan gerakan moral dan spiritual untuk mengingatkan umat bahwa hidup dalam batas, tidak berlebihan, dan menjaga keseimbangan adalah wujud ketundukan terhadap kehendak Allah SWT, sekaligus menjadi jalan menuju keberkahan hidup.
Daftar Pustaka …
والله اعلم بالصواب

