Bagian Kedua.
Oleh: Suhaeli Nawawi.
Kerangka Teoretis.
1.1 Qidam dan Baqa dalam Teologi Islam.
INDRAMAYU — Sifat Qidam menyatakan bahwa Allah tidak memiliki awal. Dalam QS. Al-Hadid: 3 disebutkan bahwa Allah adalah “al-Awwal” (Yang Awal), yang berarti bahwa keberadaan-Nya mendahului segalanya tanpa didahului oleh apa pun. Sifat Baqa menyatakan bahwa Allah tidak akan berakhir, sebagaimana ditegaskan dalam ayat yang sama: “al-Akhir” (Yang Akhir), menandakan keberadaan-Nya melampaui segala sesuatu yang fana. Kedua sifat ini menunjukkan keberadaan Allah yang absolut dan tidak bergantung kepada ruang dan waktu.
1.2 Teori Kosmologi Kontemporer
Roger Penrose dalam teorinya tentang Conformal Cyclic Cosmology mengemukakan bahwa alam semesta mengalami siklus ekspansi dan kontraksi. Setiap siklus berakhir dengan keadaan termal maksimum (kematian panas) dan menjadi awal dari siklus baru. Sementara itu, konsep multiverse dalam kosmologi spekulatif menyatakan bahwa terdapat banyak alam semesta yang eksis secara paralel atau bertingkat. Kedua teori ini mengasumsikan bentuk keabadian relatif, namun tetap dalam ruang dan waktu.
2.Perbandingan Konseptual
2.1 Perbedaan Esensial Konsep Qidam dan Baqa menegaskan eksistensi Tuhan yang tidak mengalami perubahan, sedangkan alam semesta dalam teori CCC mengalami transisi dan transformasi. Teori multiverse bahkan mengandaikan keberagaman hukum-hukum fisika dalam semesta yang berbeda, menandakan relativitas total dalam struktur realitas.
2.2Kecenderungan Epistemik Sains modern menunjukkan kecenderungan spekulatif terhadap gagasan keabadian. Meskipun teori CCC membuka kemungkinan bahwa informasi dari semesta sebelumnya tetap eksis (via entanglement), konsep ini tidak dapat menjangkau eksistensi yang mutlak. Bahkan, pertanyaan tentang “sebelum” dan “sesudah” semesta masih bersifat konseptual dan tak terjangkau observasi empiris.
2.3 Jawaban Islam terhadap Kosmologi Teologi Islam menegaskan bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, termasuk ruang, waktu, dan hukum fisika. Maka, keberadaan Allah tidak bisa disamakan atau dibandingkan dengan keabadian siklik semesta. Di sinilah letak keunggulan teologi Islam dalam membedakan antara yang mutlak dan yang nisbi.
2.4 Narasi Trans-Kosmologis SN berseloroh tentang alam gaib dan alam akhirat yang eksis sebelum dan sesudah semesta kita. Hal ini justru mengajak kita untuk mempertimbangkan bahwa dimensi realitas tidak hanya bersifat fisikal, tetapi juga metafisik dan spiritual. Konsep akhirat dalam Islam menandai realitas baru yang bersifat non-temporal dan kekal, melampaui keabadian alam semesta menurut kosmologi.
3.Implikasi Filsafat dan Teologis
Salah satu kritik yang sering dilontarkan terhadap keberadaan entitas yang tidak terikat ruang dan waktu adalah pernyataan bahwa “entitas yang tidak terikat ruang-waktu sama dengan tidak ada.” Pernyataan ini pernah disampaikan oleh beberapa pakar fisika kuantum yang berpijak pada prinsip empirisisme, bahwa segala sesuatu yang dianggap eksis harus memiliki koordinat dalam ruang dan waktu agar dapat dideteksi atau diukur.
Namun, pernyataan ini dapat dibantah dari dua arah: secara kosmologis dan secara filosofis. Secara kosmologis, pada skala singularitas Big Bang, ruang-waktu dan energi-materi belum eksis dalam pengertian yang dapat didefinisikan secara empiris. Fisika klasik tidak mampu menjelaskan kondisi sebelum Planck Time (~10⁻⁴³ detik setelah Big Bang), karena seluruh hukum fisika modern runtuh dalam kondisi ekstrem tersebut (Penrose, 2010). Bahkan, yang disebut “keberadaan” dalam konteks singularitas lebih menyerupai keadaan potensial yang belum terurai dalam struktur ruang dan waktu.
Secara filosofis, argumen ini justru membuka ruang bagi keberadaan konsep transenden yang tidak terikat ruang-waktu. Konsep seperti hukum logika, bilangan matematika, bahkan kesadaran, tidak sepenuhnya bisa dikurung dalam ruang-waktu, namun eksistensinya diakui secara universal. Dalam konteks metafisika Islam, konsep ruang-waktu dan energi-materi justru diturunkan dari kehendak ilahi yang eksistensinya tidak memerlukan wadah ruang-waktu. Sebagaimana pendapat yang menyatakan, dalam singularitas awal alam semesta yang masih bersifat non-empiris, kemungkinan hanya eksis konsep-konsep dasar seperti geometri ruang, alur waktu, dan konstanta fisika yang kemudian termanifestasikan dalam bentuk realitas aktual. Konsep-konsep ini menunjukkan peran ‘pikiran’ atau ‘logos’ di luar semesta, yang dalam konteks Islam merupakan kehendak Tuhan sebagai Dzat yang tidak terikat oleh dimensi fisik.
Dalam konteks ini, QS An-Nur ayat 35 memberi dimensi simbolik yang kaya. Frasa “Allah adalah pemberi cahaya bagi langit dan bumi” dapat ditafsirkan sebagai Allah sebagai sumber eksistensi non-fisis awal semesta. Tafsir Al-Ghazali dalam Mishkāt al-Anwār menyebut bahwa cahaya Allah bukan cahaya fisik semata, melainkan entitas wujud dan kebenaran itu sendiri. As-Sa‘di menambahkan bahwa cahaya ini mencakup penerangan batin dan semesta secara metafisik. Dalam skema pemikiran modern, “nur” dapat dianalogikan sebagai energi vakum atau potensi eksistensial sebelum materialisasi (Craig, 2001). Perumpamaan tentang pelita dalam kaca dan minyak dari pohon zaitun yang hampir menyala tanpa disentuh api menunjukkan keadaan energi primordial: ada tanpa pemantik eksternal, sebagaimana fluktuasi kuantum dalam vakum absolut. Maka, konsep ini memvalidasi bahwa eksistensi awal semesta berasal dari sumber eksternal ruang-waktu, yakni Allah.
Dengan demikian, pernyataan bahwa “yang tidak berada dalam ada” bertentangan dengan pengetahuan kosmologi modern dan asumsi filsafat rasional. Justru entitas yang melampaui ruang-waktu adalah dasar ontologis dari segala yang terikat ruang-waktu.
4.Cahaya Bertingkat dalam Perspektif Tafsir An-Nur: 35, Optika Fisika, dan Energi Vakum
Ayat ke-35 dari Surah An-Nur merupakan salah satu ayat yang paling filosofis dalam Al-Qur’an. Frasa kuncinya, yaitu “nur ‘ala nur” (cahaya di atas cahaya), memantik pemikiran multidisipliner tentang makna cahaya, baik secara spiritual, kosmologis, maupun ilmiah. Artikel ini bertujuan membahas makna bertingkat dari cahaya tersebut melalui pendekatan tafsir klasik, teori optik modern, dan kajian energi vakum dalam fisika kuantum.
4.1 Tafsir Klasik dan Dimensi Spiritualitas Cahaya
Para mufassir seperti Imam Al-Ghazali dalam Mishkat al-Anwar menafsirkan “nur” sebagai representasi metafisik dari keberadaan dan kesadaran. “Nur di atas nur” dipahami sebagai lapisan-lapisan makrifat: cahaya akal, cahaya iman, cahaya wahyu, dan cahaya pengenalan Allah.
Tafsir Al-Razi dan Al-Alusi juga menekankan bahwa ayat ini menunjukkan dua jenis cahaya: cahaya inderawi (fisik) dan cahaya maknawi (spiritual). Dalam kerangka ini, malaikat dipahami sebagai entitas yang berasal dari nur transenden, yaitu eksistensi halus tanpa bentuk material. Hadis Nabi saw., yang menyatakan bahwa “Malaikat diciptakan dari cahaya” (HR. Muslim) menegaskan pandangan ini.
4.2 Malaikat sebagai Entitas Nur dan Kemungkinan Transisi Dimensi
Hadis tersebut tidak menjelaskan jenis cahaya secara spesifik. Namun dalam pendekatan optik dan fisika, suatu entitas yang tidak terdeteksi oleh mata manusia tetapi tetap eksis dapat dianalogikan sebagai gelombang elektromagnetik di luar spektrum tampak, seperti sinar ultraviolet, inframerah, bahkan partikel neutrino.
Ketika malaikat menampakkan diri dalam bentuk manusia, seperti yang terjadi pada malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW, ini dapat dianalisis sebagai fenomena “translasi eksistensi” dari bentuk nur metafisik ke bentuk materi fisikal. Dalam fisika teoretis, ini mirip dengan konversi energi menjadi partikel, atau superposisi gelombang menjadi entitas kasatmata.
4.3 Cahaya dalam Optika Modern
Dalam sains, cahaya adalah bagian dari spektrum elektromagnetik, mencakup gelombang radio, inframerah, cahaya tampak, ultraviolet, hingga sinar gamma. Semua jenis cahaya ini memiliki kecepatan konstan dalam vakum (c = 299.792.458 m/s), namun berbeda dalam frekuensi dan energi. Perbedaan ini mengindikasikan tingkatan energi yang bisa menjadi analogi untuk “tingkatan nur”.
Interferensi konstruktif, superposisi cahaya, dan fenomena fluoresensi menunjukkan bahwa cahaya dapat bertumpuk dan saling memperkuat, secara fisis mencerminkan konsep nur ‘ala nur. Maka, dalam pengertian ilmiah, cahaya bukan entitas tunggal, melainkan bisa hadir dalam tumpukan kualitas dan intensitas berbeda.
4.4 Energi Vakum sebagai Nur Potensial
Dalam fisika kuantum, energi vakum bukanlah kehampaan, melainkan lautan fluktuasi energi mikroskopik. Fenomena seperti Casimir Effect menunjukkan bahwa vakum dapat menghasilkan gaya nyata. Oleh karena itu, cahaya yang “hampir-hampir menerangi walau tidak disentuh api” (QS An-Nur:35) dapat diinterpretasikan sebagai metafora energi potensial dalam vakum.
Energi vakum ini berpotensi menjadi tempat asal cahaya primordial yang memicu penciptaan semesta (Big Bang). Maka, konsep “nur” dalam ayat tersebut bisa ditafsirkan sebagai “energi penciptaan murni” dari luar sistem ruang-waktu—suatu bentuk nur transenden.
4.5 Simpulan
Frasa nur ‘ala nur dalam QS An-Nur:35 merepresentasikan konsep cahaya yang berlapis dan bertingkat—baik dalam makna spiritual maupun fisikal. Dalam tafsir, ia bermakna derajat makrifat dan hidayah. Dalam optika, ia mencerminkan spektrum elektromagnetik yang bertingkat energi. Dalam fisika kuantum, ia merujuk pada energi vakum sebagai sumber cahaya eksistensial.
Dengan demikian, ayat ini menjadi titik temu antara wahyu, sains optik, dan kosmologi modern dalam menggambarkan keagungan dan kompleksitas penciptaan ilahi melalui cahaya.
BERSAMBUNG

