Oleh: Suhaeli Nawawi
Narasi
INDRAMAYU — Dalam ajaran Islam, alam semesta bukan sekadar hamparan fisik, melainkan juga struktur bertingkat yang mencerminkan hierarki spiritual dan kekuasaan ilahi. Gambar tiga dimensi ini merepresentasikan interpretasi kosmologi Islam secara visual—mengajak kita menyelami dimensi ruhani yang melampaui sekat ruang dan waktu.
Berawal dari tujuh lapis langit yang disusun bagaikan bola dalam bola, struktur ini menggambarkan bukan hanya ketinggian fisik, tetapi lapisan kesadaran dan derajat eksistensial. Di atas langit ke-7, kita dapati Sidratul Muntaha—pohon simbolis yang menandai batas tertinggi bagi makhluk. Di atasnya terbentang Telaga dan Jannah (surga), tempat kediaman abadi yang dijanjikan. Puncaknya adalah ‘Arsy, kubah kekuasaan ilahiah, di mana Allah bersemayam menurut QS. Ṭāhā:5. Di atas Arsy, tidak ada apapun kecuali Ketakterhinggaan (Nothingness / خلاء) — sebuah metafor metafisika tentang absolutisme Tuhan.
Deskripsi
Gambar ini dibangun dalam skema vertikal tiga dimensi:
Tujuh Langit divisualkan sebagai lapisan konsentris biru yang menurun, menunjukkan jenjang eksistensial dari bumi ke langit tertinggi.
Di antaranya terdapat jalur wormhole — analogi dari “kekuatan” (bi-quwwah) sebagaimana disebut dalam QS. Ar-Rahman:33 — sebagai jalur transdimensional yang hanya bisa dilalui dengan izin Allah.
Telaga ditampilkan sebagai dataran hijau tempat Sidratul Muntaha berakar — merepresentasikan momen puncak Isra’ Mi’raj di mana Nabi Muhammad ﷺ melihat batas terakhir ciptaan.
Jannah (Surga) mengapung di atas Telaga — sebuah tempat kebahagiaan abadi.
‘Arsy berbentuk kubah keemasan, sebagai pusat kendali semesta yang bukan ruang materi, melainkan simbol supremasi kekuasaan Tuhan.
Nothingness (خلاء) adalah zona non-eksistensial yang tidak dapat dikonsepsi oleh logika spasial atau ilmiah — tempat di mana “tidak ada apa pun kecuali Allah”.
Argumentasi
1.Landasan Teistik
Al-Qur’an menyebut struktur kosmik secara berulang, dari tujuh langit (QS. Al-Mulk:3; Nuh:15) hingga ‘Arsy (QS. Al-Hadid:4). Hadits Mi’raj menjelaskan perjalanan Rasul ﷺ melalui setiap lapisan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha. Ini menandakan struktur vertikal yang bersifat transdimensional.
2.Analogi Wormhole
Dalam fisika modern, wormhole adalah jembatan hipotesis yang menghubungkan dua titik ruang-waktu yang berjauhan. Secara analogi, ini mendekati konsep “menembus langit dengan kekuatan” (bi-quwwah). Perjalanan Isra’ Mi’raj terjadi sangat cepat, bahkan menembus batas waktu (dalam semalam), suatu hal yang sesuai dengan teori relativitas ekstrem atau singularitas transdimensi.
3.Kosmologi Integratif
Gambaran ini tidak bertujuan menyamakan wahyu dengan teori ilmiah, melainkan menjembatani simbol-simbol spiritual dengan imajinasi kosmologis modern. Dalam perspektif filsafat sains, ini disebut sebagai interkoneksi hermeneutik, yakni ketika teks sakral ditafsirkan ulang dengan lensa pengetahuan kontemporer untuk membangkitkan makna eksistensial baru.
Penutup
Gambar eksotik ini bukan sekadar lukisan metafisika, tapi refleksi multidimensi: spiritualitas, sains, dan imajinasi menyatu dalam satu kosmogram universal. Ia membuka wacana bahwa “menembus langit” bukan hanya soal teknologi, tapi kesucian, izin Tuhan, dan kekuatan ruhani.
“Dan tidaklah kamu dapat menembus (langit) kecuali dengan kekuatan.”
— QS. Ar-Rahman:33

