INDRAMAYU – Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat Indonesia menggelar Rapat Koordinasi Nasional dan Rapat Kerja Nasional (Rakornas-Rakernas) selama tiga hari di Jakarta.
Ketua Panitia Rakornas dan Rakernas FK PKBM Indonesia, Mahatir Muhamad,S.Kom.I melalui Koordinator Humas, Bakhril Kirom, S.Pd mengemukakan, PKBM sebagai lembaga pendidikan nonformal , memiliki peran strategis dalam mendukung pemerataan akses pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam menghadapi tantangan zaman yang terus berkembang , PKBM dituntut untuk lebih adaptif, inovatif dan strategis dalam menjalankan fungsinya sebagai pilar penguatan pendidikan alternatif. Sebagai wadah koordinasi dan kolaborasi antar PKBM di seluruh Indonesia, FK PKBM memiliki tanggung jawab untuk mendorong keselarasan visi, misi dan pogram kerja yang berdampak luas bagi masyarakat. Rakornas dan Rakernas FK PKBM Indonesia tahun 2025, mengusung tema “ PKBM Bersatu, Berkarya Nyata Garda Terdepan untuk Merah Putih” .
Dipilihnya tema tersebut untuk menegaskan komitmen FK PKBM Indonesia dalam menjunjung semangat gotong royong dan kebangsaan, sekaligus memperkuat peran PKBM sebagai penggerak perubahan melalui pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.Melalui Rakornas dan Rakernas, diharapkan terjalin sinergi yang lebih erat antara PKBM, pemerintahan lembaga swasta dan masyarakat guna menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan untuk menjawab berbagai tantangan di lapangan.
Rakornas ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan kolaborasi yakni mempercepat koordinasi antara PKBM, pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya guna mendukung tercapainya tujuan pendidikan nonformal yang inklusif dan berkelanjutan. PKBM adalah garda terdepan dalam pendidikan non formal yang memberikan pelayanan terhadap anak tidak sekolah dan warga belum pernah bersekolah.
Selama ini jumlah anak tidak sekolah dan warga belum pernah bersekolah diseluruh Indonesia tercatat kurang lebih 9.090.880. Dari jumlah itu, 10.406 orang ( 94 % ) diantaranya telah dilayani oleh PKBM/ SKB dengan dikelola oleh masyarakat.
“Faktor yang menyebabkan tidak sekolah dan warga belum pernah bersekolah, disebabkan akibat faktor ekonomi, faktor geografis, faktor DO dan faktor sosial,” ujar Bakhril. (Mahendra)

