INDRAMAYU, (lintaspanturaindonesia.com) — PERTANYAAN:
Kedua orang tua saya telah meninggal dan meninggalkan warisan berupa tanah serta bangunan. Saya ingin membuat surat keterangan ahli waris mulai dari RT, RW, lurah dan camat. Tetapi pada saat saya mendatangi kantor kecamatan untuk meminta pengesahan, camat sebagai PPAT sementara meminta 1% honor. Pertanyaan saya adalah apakah betul ada peraturan yang mengharuskan camat meminta 1% honor tersebut? Lalu, apa yang harus saya lakukan bila camat tidak mau menandatangani surat ahli waris? Atas penjelasannya diucapkan terimakasih, untuk ubklawyers beserta Paralegalnya salam dan sehat selalu. Aamiin..
bye.
H. Danda – Purnabhakti Polri
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
“INTISARI JAWABAN”
【𝔓𝔯𝔬𝔣𝔢𝔰𝔦 ℌ𝔲𝔨𝔲𝔪】
𝔓𝔞𝔡𝔞 𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔫𝔶𝔞 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔶𝔞𝔫𝔦 𝔪𝔞𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔨𝔞𝔱 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔨𝔱𝔞 𝔓𝔢𝔧𝔞𝔟𝔞𝔱 𝔓𝔢𝔪𝔟𝔲𝔞𝔱 𝔄𝔨𝔱𝔞 𝔗𝔞𝔫𝔞𝔥 (“𝔓𝔓𝔄𝔗”) 𝔞𝔱𝔞𝔲 𝔲𝔫𝔱𝔲𝔨 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔶𝔞𝔫𝔦 𝔤𝔬𝔩𝔬𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔪𝔞𝔰𝔶𝔞𝔯𝔞𝔨𝔞𝔱 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲 𝔡𝔞𝔩𝔞𝔪 𝔭𝔢𝔪𝔟𝔲𝔞𝔱𝔞𝔫 𝔞𝔨𝔱𝔞 𝔓𝔓𝔄𝔗 𝔱𝔢𝔯𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲, 𝔪𝔢𝔫𝔱𝔢𝔯𝔦 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔪𝔢𝔫𝔲𝔫𝔧𝔲𝔨 𝔭𝔢𝔧𝔞𝔟𝔞𝔱 𝔰𝔞𝔩𝔞𝔥 𝔰𝔞𝔱𝔲𝔫𝔶𝔞 𝔠𝔞𝔪𝔞𝔱 𝔰𝔢𝔟𝔞𝔤𝔞𝔦 𝔓𝔓𝔄𝔗 𝔰𝔢𝔪𝔢𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞. 𝔓𝔓𝔄𝔗 𝔰𝔢𝔪𝔢𝔫𝔱𝔞𝔯𝔞 𝔦𝔫𝔦 𝔪𝔢𝔩𝔞𝔨𝔰𝔞𝔫𝔞𝔨𝔞𝔫 𝔱𝔲𝔤𝔞𝔰 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔰𝔞𝔪𝔞 𝔡𝔢𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔓𝔓𝔄𝔗 𝔭𝔞𝔡𝔞 𝔲𝔪𝔲𝔪𝔫𝔶𝔞 𝔡𝔞𝔫 𝔪𝔢𝔫𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱𝔨𝔞𝔫 𝔥𝔬𝔫𝔬𝔯𝔞𝔯𝔦𝔲𝔪 𝔟𝔢𝔯𝔡𝔞𝔰𝔞𝔯𝔨𝔞𝔫 𝔨𝔢𝔱𝔢𝔫𝔱𝔲𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔞𝔱𝔲𝔯𝔞𝔫 𝔭𝔢𝔯𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤-𝔲𝔫𝔡𝔞𝔫𝔤𝔞𝔫 𝔶𝔞𝔫𝔤 𝔟𝔢𝔯𝔩𝔞𝔨𝔲.
𝔓𝔢𝔫𝔧𝔢𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔩𝔢𝔟𝔦𝔥 𝔩𝔞𝔫𝔧𝔲𝔱 𝔡𝔞𝔭𝔞𝔱 𝔄𝔫𝔡𝔞 𝔟𝔞𝔠𝔞 𝔲𝔩𝔞𝔰𝔞𝔫 𝔡𝔦 𝔟𝔞𝔴𝔞𝔥 𝔦𝔫𝔦.
ULASAN SELENGKAPNYA;
Terimakasih atas pertanyaan Anda.
Kewenangan PPAT Sementara
Ketentuan mengenai Pejabat Pembuat Akta Tanah (“PPAT”) dapat merujuk pada PP 37/1998 yang sudah diubah dengan PP 24/2016. Berdasarkan Pasal 1 angka 1 PP 24/2016, yang dimaksud dengan P͟P͟A͟T͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟ y͟a͟n͟g͟ d͟͟i͟͟b͟͟e͟͟r͟͟i͟͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ a͟k͟t͟a͟-a͟k͟t͟a͟ o͟t͟e͟n͟t͟i͟k͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ p͟e͟r͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ h͟u͟k͟u͟m͟ t͟e͟r͟t͟e͟n͟t͟u͟ m͟e͟n͟g͟e͟n͟a͟i͟ h͟a͟k͟ a͟t͟a͟s͟ t͟a͟n͟a͟h͟ a͟t͟a͟u͟ h͟a͟k͟ m͟i͟l͟i͟k͟ a͟t͟a͟s͟ s͟a͟t͟u͟a͟n͟ r͟u͟m͟a͟h͟ s͟͟u͟͟s͟͟u͟͟n͟͟.
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 5 ayat (1) PP 37/1998 P͟P͟A͟T͟ s͟e͟n͟d͟i͟r͟i͟ d͟i͟b͟e͟r͟h͟e͟n͟t͟i͟k͟a͟n͟ o͟l͟e͟h͟ m͟͟e͟͟n͟͟t͟͟e͟͟r͟͟i͟͟. S͟e͟l͟a͟i͟n͟ i͟t͟u͟ P͟P͟A͟T͟ d͟i͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟ u͟n͟t͟u͟k͟ s͟a͟t͟u͟ d͟a͟e͟r͟a͟h͟ k͟e͟r͟j͟a͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟.[¹]
Lalu, u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟y͟a͟n͟i͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ a͟k͟t͟a͟ P͟P͟A͟T͟ a͟t͟a͟u͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟y͟a͟n͟i͟ g͟o͟l͟o͟n͟g͟a͟n͟ m͟a͟s͟y͟a͟r͟a͟k͟a͟t͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟ d͟a͟l͟a͟m͟ p͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟a͟n͟ a͟k͟t͟a͟ P͟P͟A͟T͟ t͟͟e͟͟r͟͟t͟͟e͟͟n͟͟t͟͟u͟͟, m͟e͟n͟t͟e͟r͟i͟ d͟a͟p͟a͟t͟ m͟e͟n͟u͟n͟j͟u͟k͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟-p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ d͟i͟ b͟a͟w͟a͟h͟ i͟n͟i͟ s͟e͟b͟a͟g͟a͟i͟ P͟P͟A͟T͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ a͟t͟a͟u͟ P͟P͟A͟T͟ k͟h͟u͟s͟u͟s͟;[²]
- camat atau kepala desa untuk melayani pembuatan akta di daerah yang belum cukup terdapat PPAT, sebagai PPAT sementara;
- kepala kantor pertanahan untuk melayani pembuatan akta PPAT yang diperlukan dalam rangka pelaksanaan program-program pelayanan masyarakat atau untuk melayani pembuatan akta PPAT tertentu bagi negara sahabat berdasarkan asas resiprositas sesuai pertimbangan dari Departemen Luar Negeri, sebagai PPAT khusus.
Sebagaimana disebutkan di atas, seorang camat sebagaimana disebutkan dalam pertanyaan Anda, dapat diangkat sebagai PPAT sementara. Adapun yang dimaksud dengan P͟P͟A͟T͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ a͟d͟a͟l͟a͟h͟ p͟e͟j͟a͟b͟a͟t͟ p͟e͟m͟e͟r͟i͟n͟t͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟t͟u͟n͟j͟u͟k͟ k͟a͟r͟e͟n͟a͟ j͟a͟b͟a͟t͟a͟n͟n͟y͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟l͟a͟k͟s͟a͟n͟a͟k͟a͟n͟ t͟u͟g͟a͟s͟ P͟͟P͟͟A͟͟T͟͟ d͟e͟n͟g͟a͟n͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ a͟k͟t͟a͟ P͟P͟A͟T͟ d͟i͟ d͟a͟e͟r͟a͟h͟ y͟a͟n͟g͟ b͟e͟l͟u͟m͟ c͟u͟k͟u͟p͟ t͟e͟r͟d͟a͟p͟a͟t͟ P͟͟P͟͟A͟͟T͟͟.[³]
Jadi, PPAT sementara memiliki tugas yang sama dengan seorang PPAT. Merujuk pada ketentuan Pasal 2 ayat (1) PP 37/1998, PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau hak milik atas satuan rumah susun, yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan hukum itu.
Perbuatan hukum yang dimaksud di atas adalah sebagai berikut:[⁴]
- jual beli;
- tukar menukar;
- hibah; pemasukan ke dalam perusahaan (inbreng);
- pembagian hak bersama;
- pemberian hak guna bangunan/hak pakai atas tanah hak milik;
- pemberian hak tanggungan;
- pemberian kuasa membebankan hak tanggungan.
Menjawab pertanyaan Anda, pada dasarnya s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ c͟a͟m͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ s͟e͟k͟a͟l͟i͟g͟u͟s͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ P͟P͟A͟T͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ k͟e͟w͟e͟n͟a͟n͟g͟a͟n͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟m͟b͟u͟a͟t͟ s͟u͟r͟a͟t͟ k͟e͟t͟e͟r͟a͟n͟g͟a͟n͟ a͟h͟l͟i͟ w͟͟a͟͟r͟͟i͟͟s͟͟.
Honorarium PPAT Sementara
Menjawab pertanyaan Anda mengenai honorarium PPAT sementara, p͟a͟d͟a͟ d͟a͟s͟a͟r͟n͟y͟a͟ s͟u͟d͟a͟h͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ h͟a͟k͟n͟y͟a͟ b͟a͟g͟i͟ P͟P͟A͟T͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ h͟͟o͟͟n͟͟o͟͟r͟͟a͟͟r͟͟i͟͟u͟͟m͟͟, sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 32 ayat (1) PP 24/2016, yang berbunyi:
- Uang jasa (honorarium) PPAT dan PPAT sementara, termasuk uang jasa (honorarium) saksi tidak boleh melebihi 1% dari harga transaksi yang tercantum di dalam akta.
Uang jasa sebagaimana dimaksud dalam pasal di atas, sudah termasuk honorarium saksi dalam pembuatan akta.[⁵]
Selain itu uang jasa ini didasarkan pada nilai ekonomis yang ditentukan dari harga transaksi setiap akta dengan rincian sebagai berikut:[⁶]
- kurang dari atau sampai dengan Rp500 juta, paling banyak sebesar 1%;
- lebih dari Rp500 juta sampai dengan Rp1 miliar, paling banyak sebesar 0,75%;
- lebih dari Rp1 miliar sampai dengan Rp2,5 miliar, paling banyak sebesar 0,5%;
- lebih dari Rp2,5 miliar, paling banyak sebesar 0,25%.
Berdasarkan penjelasan di atas, s͟e͟o͟r͟a͟n͟g͟ c͟a͟m͟a͟t͟ y͟a͟n͟g͟ d͟i͟a͟n͟g͟k͟a͟t͟ m͟e͟n͟j͟a͟d͟i͟ P͟P͟A͟T͟ s͟e͟m͟e͟n͟t͟a͟r͟a͟ m͟e͟m͟i͟l͟i͟k͟i͟ h͟a͟k͟ u͟n͟t͟u͟k͟ m͟e͟n͟d͟a͟p͟a͟t͟k͟a͟n͟ h͟o͟n͟o͟r͟a͟r͟i͟u͟m͟ t͟i͟d͟a͟k͟ m͟e͟l͟e͟b͟i͟h͟i͟ 1% d͟a͟r͟i͟ h͟a͟r͟g͟a͟ t͟r͟a͟n͟s͟a͟k͟s͟i͟ t͟e͟r͟c͟a͟n͟t͟u͟m͟ d͟i͟ d͟a͟l͟a͟m͟ a͟͟k͟͟t͟͟a͟͟.
Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat dan dapat dijadikan pembelajaran untuk kita semua terlebih untuk penanya dan Paralegal ubklawyers pada khususnya.
D͟a͟s͟a͟r͟ H͟u͟k͟u͟m͟:
- Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
- Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
- Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 33 Tahun 2021 tentang Uang Jasa Pejabat Pembuat Akta Tanah.
Artikel ini adalah pemutakhiran kedua dari artikel dengan judul Camat Sebagai PPAT Sementara yang dibuat oleh Ilman Hadi, S.H. dan pertama kali dipublikasikan pada Selasa, 26 Juni 2012, yang pertama kali dimutakhirkan oleh Tri Jata Ayu Pramesti, S.H. pada 28 Februari 2018. Dipublikasikan kedua oleh Hukumonline.com dengan judul Kedudukan Camat sebagai PPAT Sementara, pada tanggal 03 Desember 2025. Dan diteruskan oleh ubklawyers pada tanggal 08 Maret 2026M/18 Ramadhan 1447H.
Seluruh Informasi Hukum yang ada di LBH-UMAR BIN KHATTAB disiapkan semata-mata untuk t͟͟͟u͟͟͟j͟͟͟u͟͟͟a͟͟͟n͟͟͟ p͟͟e͟͟n͟͟d͟͟i͟͟d͟͟i͟͟k͟͟a͟͟n͟͟, p͟e͟m͟b͟e͟l͟a͟j͟a͟r͟a͟n͟ dan b͟e͟r͟s͟i͟f͟a͟t͟ u͟m͟u͟m͟. Untuk mendapatkan nasihat hukum spesifik terhadap kasus Anda, konsultasikan langsung dengan Pengacara, Konsultan Hukum dan/atau Paralegal UBK LAWYERS.
Sedang menghadapi permasalahan hukum? A͟j͟u͟k͟a͟n͟ p͟e͟r͟t͟a͟n͟y͟a͟a͟n͟ melalui email, telepon atau chat.👇🏼
Email:
ubklawyer@gmail.com
Telepon/Chat:
089666552118
Berkenan G͟a͟b͟u͟n͟g͟ G͟r͟o͟u͟p͟, untuk jadi bagian Keluarga Besar UBK LAWYERS. Klik link dibawah.👇🏼
I͟K͟U͟T͟I͟ W͟h͟a͟t͟s͟A͟p͟p͟ C͟h͟a͟n͟n͟e͟l͟ LBH-UMAR BIN KHATTAB. Untuk memperkaya Riset Hukum Anda, klik link dibawah.👇🏼
🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸🇮🇩🇵🇸
#cerdashukum
#studylawtogether
#ubklawyers
