Bagian Kedelapan
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
Dari Saripati Tanah ke Mesin Kehidupan: Mengapa Bioteknologi Belum Bisa Mencipta dari Nol?
Pendahuluan
INDRAMAYU — Kemajuan bioteknologi modern telah memungkinkan manusia membuat gamet buatan (sel reproduksi yang dikembangkan dari sel punca) dan bahkan bakteri sintetis (sel yang dihidupkan dengan DNA buatan, seperti karya Craig Venter pada 2010). Namun, ada satu pertanyaan mendasar: mengapa semua itu masih harus berangkat dari sel yang sudah ada? Mengapa belum ada satu pun laboratorium yang mampu menciptakan kehidupan murni dari bahan baku anorganik—dari CHNOPS (karbon, hidrogen, nitrogen, oksigen, fosfor, sulfur) seperti yang tersedia di alam?
Pertanyaan ini membuka diskusi menarik: apakah hambatan utama bioteknologi modern terletak pada “mesin” biologis yang kompleks, atau ada unsur misterius yang belum kita ketahui?
Kendala Mesin Biologis
Dalam tubuh makhluk hidup, pembentukan sel, termasuk gamet, tidak sesederhana merangkai molekul kimia. Ia bergantung pada orkestrasi mesin biologis:
Enzim yang mempercepat reaksi,
Ribosom sebagai “pabrik protein,”
Mitokondria sebagai penghasil energi,
Sitoskeleton yang menjaga bentuk dan distribusi organel,
serta jaringan pendukung yang memberi konteks ekosistem sel.
Semua mesin ini terbentuk dari proses evolusi miliaran tahun dan bekerja dengan presisi luar biasa. Laboratorium memang bisa meniru sebagian proses (misalnya, mengarahkan sel punca menjadi gamet), tetapi belum mampu membangun mesin kehidupan dari nol. Bahkan pada proyek sel sintetis, DNA baru memang dirakit, tetapi tetap harus ditanamkan pada “kerangka” sel lama agar bisa berfungsi.
Kendala Unsur atau Mekanisme yang Belum Diketahui
Secara teori, seluruh bahan penyusun kehidupan dapat diturunkan ke unsur kimia sederhana: CHNOPS ditambah mineral. Namun, yang belum sepenuhnya dipahami adalah bagaimana atom-atom itu diatur menjadi sistem hidup.
Ada kemungkinan terdapat lapisan informasi biologis yang lebih dalam, misalnya:
Jaringan interaksi protein yang sangat dinamis,
Fenomena epigenetik yang mengatur ekspresi gen secara halus,
bahkan mungkin faktor kuantum dalam biologi yang belum banyak dijelajahi.
Dengan kata lain, sains belum bisa memastikan apakah keterbatasan ini hanya soal teknologi yang belum cukup canggih, atau memang ada lapisan mekanisme kehidupan yang baru akan terungkap di masa depan.
Perspektif Qur’ani: Sulālah min Ṭīn
Di tengah keterbatasan itu, Al-Qur’an mengingatkan manusia bahwa penciptaannya berasal dari “sulālah min ṭīn” (saripati tanah). Ungkapan ini menarik karena sekaligus mengandung dua pesan:
1.Keterbukaan sains: kehidupan memang tersusun dari unsur-unsur kimia yang berasal dari bumi.
2.Keterbatasan manusia: meskipun kita mengetahui unsur dasarnya, “mesin kehidupan” yang mengolahnya masih merupakan misteri besar.
Inilah ruang refleksi di mana sains dan agama dapat berdialog. Sains berusaha menyingkap mekanisme kehidupan, sementara wahyu mengingatkan bahwa asal-usul kehidupan melampaui sekadar perhitungan kimia.
Kesimpulan
Sampai saat ini, hambatan utama bioteknologi lebih terletak pada mesin biologis: laboratorium belum mampu membuat pabrik kehidupan dari nol. Namun, kemungkinan adanya “unsur informasi” baru yang belum diketahui tetap terbuka.
Maka, setiap upaya mencipta gamet buatan atau sel sintetis bukan hanya kemajuan teknologi, tetapi juga pengingat akan keterbatasan manusia. Dan dalam keterbatasan itu, ungkapan Qur’ani tentang “saripati tanah” tetap relevan sebagai jembatan makna: kehidupan adalah hasil pengolahan unsur-unsur sederhana menjadi sesuatu yang penuh makna, melalui mekanisme yang hingga kini masih menyimpan rahasia.
BERSAMBUNG
