Bagian Ketujuh
Oleh: Suhaeli Nawawi, Pembina YWI
*Antara Sel Punca dan Sel Sintetis Craig Venter*
INDRAMAYU — Al-Qur’an mengingatkan manusia akan asal-usulnya yang sederhana, yakni “سلالة من طين” – ekstrak dari tanah (QS al-Mu’minūn [23]:12). Dari tanah yang tampak biasa itu, Allah menumbuhkan kehidupan yang luar biasa kompleks: tumbuhan, hewan, hingga manusia dengan akal budi. Sains modern, dalam pencarian memahami kehidupan, pun sampai pada titik di mana para ilmuwan mencoba mengurai dan bahkan meniru proses penciptaan tersebut. Dua contoh yang menonjol dalam lanskap ini adalah sel punca (stem cell) dan sel bakteri sintetis hasil Craig Venter.
Sel Punca: Pabrik Biologis Alami
Sel punca merupakan salah satu bukti nyata betapa tubuh manusia menyimpan potensi regeneratif yang luar biasa. Sel ini hadir secara alami dalam tubuh—baik pada embrio, sumsum tulang, maupun jaringan tubuh tertentu. Keistimewaannya ada pada dua hal: kemampuan self-renewal (memperbarui diri tanpa kehilangan identitas), dan potensi diferensiasi (berubah menjadi berbagai jenis sel, seperti otot, saraf, atau darah).
Bisa dikatakan, sel punca adalah “pabrik biologis” yang dirancang oleh Sang Pencipta untuk menjaga keberlangsungan hidup organisme multiseluler. Kompleksitasnya jauh di atas sekadar mesin biologis sederhana, karena ia terintegrasi dalam jaringan dan organ, membentuk harmoni kehidupan yang utuh.
Sel Bakteri Sintesis Craig Venter: Mesin Hidup Buatan
Berbeda dengan sel punca yang lahir dari tubuh, sel sintetis yang diciptakan oleh tim Craig Venter pada 2010 justru lahir dari laboratorium. Mereka merakit genom sintetis Mycoplasma mycoides—lebih dari satu juta pasangan basa DNA—kemudian memasukkannya ke dalam sel bakteri inang Mycoplasma capricolum yang intinya telah dikosongkan.
Hasilnya adalah JCVI-syn1.0, sel bakteri pertama dengan DNA buatan manusia yang mampu hidup dan bereproduksi. Tujuan utamanya bukan regenerasi tubuh, melainkan pembuktian bahwa kehidupan dapat dikendalikan dari “kode program” DNA sintetis. Dari eksperimen ini, lahirlah peluang aplikasi di bidang biofuel, farmasi, hingga bioteknologi industri.
Membandingkan Dua Dunia Kehidupan
▪︎ Asal-usul sel punca: Alami, dari organisme multiseluler; sedangkan sel bakteri sintesis: Genom buatan, dimasukkan ke bakteri inang.
▪︎ Kompleksitas Sel Punca: Sel eukariotik, bagian dari sistem jaringan kompleks; sedangkan sel bakteri sintesis: Sel prokariotik tunggal, sederhana.
▪︎ Potensi sel Punca: Dapat menjadi berbagai jenis sel tubuh; sedangkan sel bakteri sintesis: Hanya bereplikasi sebagai bakteri.
▪︎ Fungsi utama sel Punca: Regenerasi & pengobatan; sedangkan sel bakteri sintesis: Bukti konsep biologi sintetis.
▪︎ Makna ilmiah sel Punca: Basis biologi regeneratif; sedangkan sel bakteri sintesis: Bukti kehidupan berbasis DNA buatan.
Perbedaan ini menegaskan: sel punca adalah bagian dari rancangan kehidupan alami yang menunjang pertumbuhan dan penyembuhan, sementara sel sintetis adalah bukti kemampuan manusia “merakit” kehidupan minimal berdasarkan cetak biru genetik.
Refleksi: Dari Tanah Menuju Teknologi
Jika sel punca adalah potret “sulālah min ṭīn” yang alami, maka sel sintetis adalah cermin upaya manusia meniru penciptaan. Namun, meski manusia berhasil menyusun DNA sintetis, bahan dasarnya tetap unsur-unsur kimia yang berasal dari bumi. Dengan kata lain, pencapaian Craig Venter tetap tidak keluar dari prinsip “keturunan dari tanah”.
Di sinilah menariknya dialog antara wahyu dan sains: Al-Qur’an menyebut asal-usul manusia dari tanah, sementara biologi molekuler membuktikan bahwa baik kehidupan alami maupun buatan tidak pernah bisa lepas dari unsur dasar yang sama. Sains mencoba meniru, tetapi wahyu mengingatkan bahwa tanah adalah titik awal sekaligus batas dari semua eksperimen kehidupan.
BERSAMBUNG
